Monday, 19 April 2010

Check Point

"bukan berarti aku malas." Pembenaran langsung terucap bagitu refleks ketika aku melihat blog-ku yang sudah sangat lama tak terjamah, bahkan oleh pemiliknya sendiri. Apa boleh buat, sekarang aku sedang mengumpulkan uang untuk mendapatkan fasilitas yang lebih terpercaya yang bisa memudahkanku mengakses blog-ku lagi. Jadi ya perlu waktu. Sampai saat itu tiba, aku hanya bengong-bengong menyaksiskan ide-ide dan inspirasi-inspirasi datang dan pergi tanpa bisa kubujuk agar tinggal sebentar sampai saat aku dapat memberikan mereka tempat yang indah disini.

Mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi

Sunday, 28 March 2010

"ZIIP" suara mulut terjahit

Ya Allah SWT

Apa motivasi Mu menciptakan ku?

kenapa aku begitu kaku?
kenapa kau hanya memberiku satu lidah?
pendek kecil, dan hitam
sehingga tak banyak kata-kata yang dapat ku ucapkan
tak banyak syukur ku panjatkan
melainkan maki dan caci kuhujatkan

kenapa kau jarak-kan lidah dari hatiku?
sehingga tak panjang doa yang kupanjatkan
tak tenang bathin merenungkan
tapi dendam dan iri tak terelak-an

hatiku ingin sekali memuntahkan semuanya
tapi mengapa tak bisa??

Mengapa tak kau biarkan aku membagi beban hidup dengan mudah

Aku bukan nabi kan?

Aku bahkan tak tau bagaimana diriku?
Adakah yang bisa menjawab selain Kau?

Biarkanlah kucoba jawab sendiri saja

Sekarang aku sangat lelah
Aku akan istirahat sejenak
dan bertanya beberapa lagi setelahnya

Monday, 22 March 2010

Mencintai sayang, Menyayangi cinta

Sepasang muda-mudi saling melontar gombal
Aku mencintaimu
Aku menyayangimu
Salah satu dari mereka tak begitu suka dengan kata "sayang"
Dan yang satu lagi tidak familiar dengan kata "cinta"

Dan Aku menengahi
Tidak ada yang salah dengan kata "sayang"
dan apa yang aneh dengan kata "cinta"
Seharusnya tidak ada

Tapi disini sepertinya orang lebih suka dengan kata "sayang"
analisa ku
Kasihan sekali "cinta"
Padahal dia lebih dulu ada
Lebih kuat terdengarnya
Tapi lidah kami kaku mengucapnya

Aku lebih cinta daripada sayang


Cinta...
Raja tak bermahkota

Thursday, 18 March 2010

Anak-anak Surga Diatas Kursi Roda

Terasa hangat ketika di dekat mu. Mereka adalah malaikat kecil dengan
senyum yang dapat membuatku menagis saat melihatnya
sekaligus tersenyum bahagia dibuatnya
Dengan hentakan syaraf-syaraf kaki yang tak bisa dikontrol oleh otak,
sehingga terkesan mengamuk. Padahal mereka sedang bahagia hatinya.
Hanya perlu waktu beberapa detik untuk mengetahuinya,
dan membuatku tidak ingin meninggalkannya pergi.
Tak ingin melihatnya tersenyum terus dan tertawa terus
sementara wajah itu dan suara itu semakin kecil dan menjauh.

Mereka tidak bisa mengejarku.
Kursi roda mereka tidak cukup cepat untuk itu,
kaki mereka terlalu kecil dan kaku, dan tangannya...
untuk tepuk tangan saja mereka tak mampu. Tapi aku juga tak mampu.
Untuk tertawa seindah malaikat-malaikat itu.
Aku tak mampu tersenyum bahagia, se-bahagia anak-anak itu.
Padahal aku dapat berlari kencang. Aku dapat betepuk tangan
dengan lantang.

Mereka membuat hatiku terbelah. Aku ingin selalu melindungi mereka,
dan kalian. seakan aku adalah kakak yang selalu melindungi adik-adiknya.
Karena rasa cinta itu langsung datang, seperti jarak antara mimpi dan kenyataan,
saat kita terbangun dari mimpi itu, begitu dekat,
sehingga kita baru tersadar bahwa itu hanyalah mimpi.
Tapi tidak dengan kecepatan cinta ku dengan mereka, dengan kalian.

Sedih sekali saat melihat kalian rela duduk berjam-jam, hanya untuk
memberikan pertolongan kepadaku, padahal aku yang lebih tak layak
mendapat pertolongan. Sangat ironis. Sedih sekali melihat kalian berpanas-panasan,
sehingga telat makan, dan semakin sedih saat melihat kalian makan dengan lahapnya,
hanya dengan telur rebus dan bihun goreng.
Sedih sekali melihat tetesan keringat yang mengalir di wajah kalian,
dan kalian tetap tertawa. Seperti biasanya, dan itu membunuhku.

Kepolosannya tak layak untuk berada di bumi yang munafik ini.
Aku tak akan menyalahkan Sang pencipta. Karena Dia menciptakanmu dengan kekurangan, namun kekurangan itu diselimuti oleh kelebihan yang tak dimiliki orang lain.
Orang lain rela menatap kalian berjam-jam, orang lain pasti mau
memberikan tempat duduknya, saat melihat kalian berdiri dengan susah payah.
Orang lain mau mendengarkan kalian berbicara, walaupun harus
berusaha keras memahaminya. Orang lain itu adalah aku.

Semangat kalian begitu besar untuk dapat sembuh, berjalan,
dan berbicara layaknya orang normal lain.
Semangatku begitu besar untuk merusak diriku yang sudah sempurna ini.
Hatiku terbebas saat bersama kalian,
terima kasih untuk adik-adik ku, Maria, Heidy, Yulia, Rahmat, Danu, Howard,
dan gadis cantik yang sayang sekali namanya kulupakan,
namun tidak dengan wajah dan tawa cantikmu.
Terima kasih karena telah tertawa untuk ku, ceria untuk ku,
bercanda denganku.
Moment itu sulit untuk terulang lagi,
tapi huruf-huruf ini akan membawaku kembali kesana, saat kita bersama.

Sunday, 7 March 2010

Hanya A-Z. Apa yang sulit?

26 Huruf

Jam : 1:01 AM
Musik : Epica - Sancta Terra
Rokok : Marlboro, satu batang saja
Jari : Sepuluh, dan kecil-kecil
Hentakan kaki

Berencana membuat satu puisi dini hari ini, tapi seperti biasanya, sinar radiasi komputer ini, keyboard ini terlalu mesra menari dengan jemariku, bagaikan seorang pangeran yang berusaha mendapatkan hati sang puteri raja, dengan tariannya. Seakan-akan orang-orang yang melihat menyangka sang pangeran hanya mengincar harta dan tahta, karena begitu tampan pangeran itu, dan puteri itu tidak, walaupun tidak jelek. Mata ini malu malu untuk melihat ke atas untuk mencari inspirasi. Dan otak ini terlalu luas untuk dijelajahi sendiri. Terlalu luas, banyak, dan rumit untuk mencari sang puisi yang tersesat di dalam syaraf-syarafku. Yang harus kulakukan hanya merangkai huruf-huruf saja. Aku rasa angka 26 tidak terlalu banyak dibanding banyaknya waktu yang telah kuhabiskan - untuk hari ini saja.

Air
Bunga
Cerialah
Dengarkan mereka yang teriak
Era baru
Fitnah
Geram
Hari-hari yang penuh misteri
Ingat
Jerami
Kulitnya yang halus
Lusuh
Maukah
Naik ke bukit itu
Opera yang menyeramkan
Phantom of the opera
Qiblat
Romantis
Sekali saja
Tunduk
Utara
Vera
Waktunya
X - Tempat kita bertemu
Yakinlah
Ziarah

Friday, 26 February 2010

Surga ku

Pada detik itu juga, saat cahaya surga mengguyur tubuh dan sajadahku, imajinasiku menjadi liar tak terbendung. Pikiranku terbang setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya, meninggalkan bumi, meninggalkan dunia. Dia berhenti pada sebuah dunia yang abadi, yang tidak bisa ditemukan disini. Bahkan jika Colombus masih hidup pada jaman ini dan diberikan alat transportasi secanggih-canggihnya, dia tidak akan bisa menemukan dunia fantasi itu disini. Hanya imajinasi yang akan menuntunku. Tubuhku seperti dimiliki dua orang. Beruntung sekali dia yang terpilih untuk dapat berkunjung ke surga itu, sedangkan aku disini. Hanya menyaksikan gambaran yang diberikannya, seperti menonton televisi. Malas, dan berharap berada di situasi yang ada pada layar kaca.

Cahaya itu berwarna keemasan. Tidak kuning, tidak oranye, dan tidak juga merah. Tidak pernah kulihat cahaya seindah itu. Membuatku menengadah keatas dengan paksa, sehingga hampir membuat leherku patah, penasaran dari mana asal cahaya itu. Mungkin fisikku tak se-penasaran hatiku, dia menolak. Membuatku tertunduk dengan sendirinya, karena urat syaraf yang lemas. Melalui sajadahku dibawah kakiku yang sedang bersilang, aku melihat dunia yang indah. Aku menyebutnya fantasi beberapa waktu. Namun, karena fantasi berarti tidak nyata, aku merubah nama dunia itu, "Surga."

Dan gambaran surga merangsak masuk ke pikiranku, begitu cepat, secepat kuda-kuda milik kerajaan mongolia; begitu banyak, sebanyak barisan lebah yang masuk kedalam sarangnya untuk menghasilkan madu yang lezat; dan memaksa, seperti seorang ibu yang memaksa anak balitanya untuk makan. Tak dapat kutolak, karena surga itu sangat indah, aku langsung dijamu oleh hangatnya cahaya disana, dengan matahari yang muncul hanya setengah karena malu dengan kicauan burung yang saling bersahutan, entah darimana asalnya. Mereka begitu khusyuk bernyanyi, mungkin dibalik hijau dan lebatnya pohon. Aku tidak tahu jenis pohon apa itu. Pohon itu membagi hijaunya kepada rerumputan disekitarnya dengan dermawan, seakan tidak takut akan kehilangan hijaunya sendiri. Hamparan rumput hijau itu tidak putus sejauh apapun aku memandang, bahkan sampai ke ujung horizon yang dijaga oleh gunung-gunung. Aku ingin menjelajahi surga itu, dimulai dengan aula kecil berbentuk lingkaran yang terbuka didepanku, yang hanya beralaskan batu-batu halus, tanpa debu setitikpun, dan terdapat semacam meja yang terdiri dari batu juga, yang juga berbentuk lingkaran. Diatasnya ada empat cawan yang menatapku dengan tajam, namun menggoda. Cawan itu berisi susu yang sangat murni, seakan-akan mempunyai mata air sendiri, tidak diperas dari hewan apapun. Semakin aku mendekati aula itu, semakin jelas terdengar alunan musik yang sangat menentramkan, namun dapat membuatku menangis saat itu juga, karena keindahan nada-nada yang dimainkan oleh bidadari disana. Kombinasi antara piano, biola, dan harpa, dan nyanyian sang bidadari. Aku tak bisa melihatnya, tapi keindahan suaranya dapat menggambarkan kecantikan dan kesuciannya. Seakan-akan bidadari itu tak pernah melihat kekejaman, dan selalu menjaga kehormatannya. Pada aula itu, terdapat empat jalan setapak yang menuju ke suatu tempat. Jalan-jalan itu disambut oleh kokohnya tiang yang berdiri di samping kanan dan kiri, sehingga bayangan tiang itu membentuk seperti rel kereta pada jalan setapak. Aku memilih salah satu jalan. Dan ditengah perjalananku dijalan setapak itu, terdapat bidadari-bidadari melempar senyum malu. Mereka tertunduk dan berjalan lebih cepat ketika tersenyum, membuat mataku tidak bisa untuk tidak menoleh mengikutinya sampai dia menjauh.

Bidadari disana mengenakan gaun putih tipis yang indah, menutupi kaki-kakinya. Anting-anting mereka kuning berkilauan. Walaupun gaun yang mereka pakai sangat tipis, namun tak terlihat payudara ataupun perut mereka, karena silaunya sinar yang terpancar dari tubuh mereka, hanya siluet lekuk tubuh yang sempurna dan jemari putih yang sehalus sutera. Wajah mereka seputih awan yang cerah, bersinar seakan-akan matahari berada didalam mata mereka, tidak ada goresan sekecil apapun pada wajah para bidadari disana. Rambutnya yang halus dan terurai seperti sayap burung nazar, jatuh bebas ke punggung. Ada yang berambut hitam, ada juga yang berambut pirang. Dan saat mereka melewatiku, aroma 1000 bunga mawar tidak bisa menandingi keharuman tubuh mereka. Wajah mereka selalu riang, saling bertegur sapa dengan bidadari lainnya, tertawa, dan melihatku, sehingga kalah mataku untuk beradu pandang dengan mereka, karena yang paling indah dari semua adalah mata mereka. Mata yang terpancar sinar dari dalamnya. Mata yang lebar dan jeli. Seakan-akan kita bisa pingsan jika melihat mata itu terlalu lama. Pingsan karena hasrat yang terlalu besar, yang tidak bisa disimpan dalam tubuh.

Dan itu yang terjadi padaku, tiba-tiba aku seperti terbangun dari mimpi. Ah sial, karena melihat mata bidadari terlalu lama, aku jadi terlempar kembali ke bumi. Sekarang yang harus kulakukan adalah berusaha kembali ke surga itu. Kembali melihat sinar indah itu, dan sinar mata itu.