Showing posts with label The art of words. Show all posts
Showing posts with label The art of words. Show all posts

Saturday, 7 April 2018

Mengunjungi Paman

Tahukah kamu mengapa ibumu menamaimu Mikail?

Semenjak ayahmu meninggal, ibumu sungguh merasa tak sanggup menghidupi bayinya. Bahkan untuk makannya sendiri pun sungguh sulit.

Orang berkata untuk mematikanmu. Hati ibu mana yang sanggup membunuh bayinya sendiri?

Dengan tekad yang kuat dia pergi dari tempat tinggalnya, mencoba untuk yang terakhir kalinya. Dia pergi menemuiku.

"Anak ini akan menjadi aliran rizki bagimu, Omega." Aku meyakinkan ibumu dan bersedia merawatmu.

Setelah menyusuimu hingga kau kenyang, dia hendak kembali ke kampung halamannya, walaupun berat, harus kulepas kepergian ibumu. Namun sungguh dirinya lah yang paling berat. Dia meninggalkanmu. Tak kusangka itu adalah air susu terakhir yang diberikan ibu kepada anaknya.

Sebelum pergi, ibumu berpesan untuk menamaimu Mikail. Nama Malaikat Allah. Bertugas memberi rizki untuk alam semesta.

Dimana ibuku dimakamkan, paman?

Akupun tidak tahu.

Sekarang waktunya sudah tiba untukmu. Doa ibumu dikabulkan. Namamu bergema di langit. Kau memang bukan malaikat, tapi kau adalah penerus rizki kepada orang-orang yang kesusahan.

Tapi tidak untuk ibuku.

Kata siapa? Kau adalah pemberi rizki terbesar untuk ibumu! Kau bisa melakukan itu.

Bagaimana caranya?

Berikan dia rizki dengan doamu yang tak terputus.



Pagi tadi aku berada di langit
kadang berada di dalam awan, pernah juga di atas awan
Hari ini aku menjejak kaki di atas tanah
Sebelum menjadi gelombang di laut
berlayar mengikuti riak ombak ombak kecil

Aku melihat semuanya
Megahnya gunung dan luasnya laut
Namun masih tak bisa menyaingi besarnya ego manusia
Sampaiku pada kesadaran diri
Apa gunanya?

Masih takkan berhenti perjalananku
Untuk menghidupi semuanya
Kecuali hawa nafsuku
Hanya dia yang tak bisa terpuaskan
Hingga tanah menutupi wajahku

Wednesday, 26 April 2017

Aku Tidak Akan Sarapan Denganmu

Sampai kapan kau akan terus begini, Indira? Kau tahu aku tidak akan sudi menyentuh apapun darimu.

Berapa sendok gula yang biasa ditaruh di cangkir kopimu, James?

Kau tidak mendengarkanku. Jangan repotkan tanganmu.

Aku tidak repot. Tidak ada yang direpotkan.

Dan aku hanya tertawa dalam hati. Tidak ada yang direpotkan katamu?

Sudahlah Indira. Akui saja. Aku akan semakin membencimu di setiap gula yang kau sendok ke dalam kopiku. Kopiku? Tak sudi aku menyebutnya kopiku.

Kau tidak mengerti ya, Indira. Ini bukan sekedar secangkir kopi yang dibuatkan seseorang untuk sarapanku. Kau tidak akan bisa menggantikannya. Musuhkupun bisa membuatkanku kopi, jika ini hanya sekedar minuman di pagi hari.

Dia yang biasa membuatkanku kopi dengan takaran yang pas. 2+1 kopi dan gula. Tapi ini bukan sekedar takaran kopi. Ini adalah ritualku dengannya. Aku akan mengeluh betapa panasnya kopi yang dia buatkan untukku, dan dia akan marah-marah dan memaksaku minum. Aku akan mengeluh betapa encer kopiku, dan dia akan marah-marah dan memaksaku minum. Tapi dengan itu kami berinteraksi. Sebuah ikatan yang tidak bisa dipindahkan ke sembarang orang. Apalagi kau, Indira!

Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu mengakui barang secangkirpun! Tidak akan ada pernyataan bahwa kau pernah membuatkanki kopi selama dirinya tidak disini. Oh aku sangat mengenal watak burukmu!

Aku tidak akan membiarkan secangkir kopipun darimu yang akan kau gunakan untuk menyakiti hatinya nanti.

lucunya Indira, aku bahkan bisa membayangkan seandainya aku meminum kopi buatanmu, lalu dirinya kembali.

Apakah kau tau apa yang akan kau katakan padanya, Indira?

Kau pasti akan menyalahkan dia akan sesuatu yang tidak ada hubungannya, dan kopi adalah senjatamu. Kau akan beranggapan bahwa selama dirinya tidak disini, kaulah yang selalu membuatkanku kopi.

Kau memang iblis. Kau akan menyakiti hatinya. Tidak akan pernah aku membiarkan hal itu.

Sampai mati aku tak sudi. Jangan pernah kau buatkan aku secangkir kopipun!

Ini ritual kami.

Tuesday, 5 July 2016

Dari Yang Menjaga Diri

Hai, kau yang berjalan sendiri, kemarilah!
Hendak kemanakah dirimu?
Aku pun akan segera pergi dari sini, namun aku ingin melihatmu dulu sebentar lagi.
Temani aku merenung malam ini.
Masih adakah orang yang tertarik untuk bersama-sama tidak melakukan sesuatu?
Pikiranku terbuka seluas pandangan mata yang menatap langit senja dari atas gunung.
Tanpa halangan, menerima rahasia langit dari Tuhan.
Mengkhayalkan kumpulan awan.
Kadang aku berpikir ada rumah-rumah di atasnya.
Bagaimana rasanya tinggal di sana?
Engkau tidak salah! Memang ada sesuatu di balik awan. Lebih banyak lagi dibalik langit.
Aku sering berkunjung.
Namun kali ini aku ada di sini.
Berjalan di depanmu seakan-akan hendak pergi.
Padahal akulah yang sangat ingin berada di sini.
Menemanimu merenung tentang hari ini.
Apa yang sudah engkau lakukan?
Entahlah
Aku pernah berada sangat tinggi.
Aku pernah berada sangat rendah.
Aku pernah berdiam diri seperti emas.
Aku juga pernah berenergi buas tak bermanfaat.
Tapi kalau boleh jujur aku lebih menyukai malam ini dibanding malam sebelumnya.
Malam ini lebih tenang.
Mungkin hati engkau yang lebih tenang.
Malam sebelumnya terlalu banyak hal.
Terlalu banyak.
Aku senang engkau bisa merubah semua ini.
Tapi aku takut tidak mampu mempertahankannya.
Akhir-akhir ini aku semakin rapuh kala sendiri.
Mungkinkah aku bisa mendapatkan seorang sahabat?
Menurutmu bagaimana? Apakah aku bisa?
Aku pun tidak mengetahui. Tapi aku berharap semoga apa yang selama ini engkau pikirkan, adalah sebuah petunjuk dari Tuhan.
Jika tidak, bersabarlah.
Mungkin engkau masih belum pantas.
Ketahuilah, sesulit apapun yang engkau rasakan, aku akan selalu mendukungmu.
Aku tidak mau berdoa lagi.
Berdoa dengan memaksa.
Doa yang didorong oleh hawa nafsu.
Doaku selalu aku sembunyikan.
Semoga Tuhanmu tahu kalau aku malu.
Oh Dia Maha mengetahui.
Baiklah aku sebenarnya ingin menjabat tangan engkau dan mengucapkan selamat.
Tapi aku berharap sekali engkau bisa menemuiku lebih sering di kemudian hari.
Aku akan selalu berusaha menjadi lebih baik.
Siapakah dirimu wahai yang berjalan sendiri?
Akankah aku menemuimu lagi wahai yang hendak pergi?

Aku adalah engkau, saat dirimu ingin dimengerti.
Aku adalah sholat sunahmu yang engkau mulai geluti dengan segan.
Aku adalah sujudmu, ketika engkau berusaha membuatnya sempurna.
Aku adalah perempuanmu, yang akan kau bimbing di jalan Tuhan di dunia dan Isteri mu kelak di akhirat.
Aku adalah aliran air matamu saat engkau berdoa, yang kembali meresap ke dalam pori-pori, yang terhapus baju atau tanganmu, yang menguap ketika kau biarkan dia jatuh.
Aku adalah syahwatmu yang tidak kau jaga.
Aku adalah kesabaranmu yang sangat sedikit kau pelihara.
Aku adalah pikiran burukmu terhadap sesuatu.
Aku adalah Tarawihmu yang kau bergembira karena behasil mengejarnya.
Aku adalah embusan napasmu yang dirasakan tanganmu karena begitu dekat kau berdoa.
Aku adalah setiap kata yang keluar dari mulutmu saat kau melantunkan ayat Al-Qur'an.
Aku adalah doa khatam-mu, dan awalan Al-qur'an yang kau mulai lagi.
Aku adalah rasa malasmu, saat memasuki akhir-akhir Ramadan.
Aku adalah puasamu yang hanya Allah yang Maha mengetahui.
Aku adalah Ramadanmu. 

Kau adalah kegembiraan diantara begitu banyak kesedihan.
Kau adalah kesedihan yang kurindukan. Kesedihan yang sebenarnya.
Selamat jalan. Semoga kita bisa bertemu lagi.

Tuesday, 3 May 2016

Hari Sebelas Imajinasi

Hari ke sebelas
.
.
.
.
.
Jika aku boleh berimajinasi tentang sebelas hari berikutnya

Lalu satu hari berikutnya lagi ketika kita akhirnya bertemu

Menyicipi rasa asing diantara ruang pribadi yang akan kau isi lagi

Akankah dirimu mau mengalahkan segala ego?

Ataukah aku dan imajinasiku lagi yang mesti membenahi semuanya?

Tidakkah kau merasa iba?

Di hari kesebelas,
lalu satu hari lagi

Gerbang menuju perjalanan kita terbuka lebih lebar lagi

Dirimu memenuhi imajinasi

Saat kita saling mengerti

Semua hanya imajinasi

Tak bisa aku mengatakannya nanti pasti

Aku mungkin sudah tidak ada di hati lagi

Buat apa aku berimajinasi?

Sakit!!!

Sakit yang aneh!

Rasa apa ini?

Dosa-dosamu teraduk jadi satu dengan kenangan

Apakah aku tidak pernah bosan?

Tapi

Rasamu beda

Bukan fisik cantik

Model majalah dewasa bisa mengalahkanmu dalam sedetik

Kau sayang, seperti simbol ketundukan yang memberontak

Ketidakpedulian yang memperhatikan dari jauh

Dan aku tidak bisa hanya berimajinasi
Aku harus beraksi

Tapi aku sakit hati

Ada dia! Kau menyimpan hati!

Kenapa tidak selesaikan masalah kita?

Hanya sebelas hari
Lalu satu hari lagi

Aku ingin bertahan dengan sisa imajinasi
Kalau kau punya barang sedikit saja

Saturday, 16 January 2016

pertaruhan malam

hari ini saya resign dari kantor tempat paling lama saya bekerja

malam ini saya kembali merenungkan berjalannya hubungan saya

malam ini saya merenungkan kapasitas saya sebagai seorang calon pemimpin rumah tangga. saya bahkan tidak mampu menyuruhnya bertindak lbh baik tanpa membuatnya menangis.

malam ini johan sebastian bach - menyayat hati saya dengan Air on G (string) dengan sangat dalam

malam ini saya kembali memikirkan keputusan saya. benar atau salah langkah yang saya ambil

malam ini mungkin separuh hidup saya pertaruhkan

pada akhirnya saya kembali mengakui bahwa saya hanya seorang hamba

semoga Allah membimbing saya ke jalan yang lebih baik. sekarang saya mungkin sedang menginjak bebatuan jalan kasar untuk menuju jalan lurus yang mulus

Saturday, 9 January 2016

pikiran yg tidak bisa keluar

banyak hal yg datang di malam hari, hanya bisa terpikirkan olehku

mereka tidak bisa dikeluarkan lewat tulisan, untuk mengingatkan

mau menunggu sampai kapan?
apakah termaafkan?

Wednesday, 15 April 2015

Ikrar Pangeran Khorshid

Ini adalah kisah bersatunya dua kerajaan yang saling bertentangan. Dua kerajaan dengan ideologi yang berbeda. Namun semua orang memiliki pikirannya masing-masing. Bagi pangeran Khorshid dan puteri Savvinsi, perjalanan hidup mereka tidak ditentukan oleh aturan kerajaan, seperti hati yang tidak bisa dikekang. Bertahun-tahun mereka memperjuangkan hubungan mereka, hingga nyaris membuat dua kerajaan saling berperang.

Seiring hubungan mereka yang semakin dewasa, mereka sadar pernikahan tidak akan terjadi di antara mereka. Dua kerajaan yang berdiri begitu lama tidak akan bisa dipersatukan oleh dua orang. Kebudayaan dan adat melekat sekeras cangkang mutiara. Pangeran Khorshid dan puteri Savvinsi tidak pernah bertemu lagi.

Suatu malam, pangeran Khorshid bermimpi mendaki gunung Damavand dalam sehari, dan turun dalam sehari juga. Kemudian pangeran Khorshid masuk ke sebuah lumbung. Disana terdapat banyak orang yang beristirahat. Di dalam kerumunan orang, pangeran Khorshid bertemu dengan teman-temannya, dan puteri Savvinsi juga berada di sana - di dalam mimpinya.

Pangeran Khorshid bercerita tentang pengalaman mendakinya. Puteri Savvinsi tiba-tiba mengenakan burka untuk menutup hampir seluruh tubuhnya. Namun puteri Savvinsi begitu aktif seperti anak kecil yang kegirangan. Dia bergerak begitu bebas hingga hampir memperlihatkan auratnya dari balik burkanya. Pangeran Khorshid berusaha menghentikan puteri Savvinsi agar burkanya tidak tersingkap.

Pangeran Khorshid kemudian membawa puteri Savvinsi pergi. Lagi-lagi dia dikejutkan oleh sang puteri yang minum dan mencuci muka dengan mata air suci kerajaan pangeran Khorshid. Tidak ada orang yang minum atau mencuci muka dari mata air Ghuslu kecuali dia adalah bagian dari kerajaan Musluzik. Puteri Savvinsi hanya tersenyum.

Pangeran Khorshid terbangun dan menceritakan mimpinya kepada guru spiritualnya. Oleh guru spiritualnya, ia diperintahkan saat itu juga untuk menghancurkan ego dan janji yang telah diikrarkan mereka untuk tidak pernah bertemu lagi. "Tuhan mungkin akan membuat kejutan untuk kalian, dan kerajaan ini. Jika sang puteri memiliki mimpi yang hampir sama, bawalah ia ke gunung Damavand tempat pangeran bermimpi. Kalian mungkin akan menemukan jawaban dari mimpi kalian." Seru sang guru spiritual.

Pergilah pangeran Khorshid menemui puteri Savvinsi. Bertahun-tahun tak saling memandang, ada perasaan aneh yang timbul. Rasa cinta mereka tak berkurang sedikitpun. Puteri Savvinsi beberapa hari lalu bermimpi didatangi pangeran Khorshid. Pangeran Khorshid berusaha menjinakkan kuda Palio, Legenda kuda paling liar milik kerajaan puteri Savvinsi. Tidak ada seorang pun yang bisa menjinakkan dan menunggangi kuda Palio, kecuali dia adalah ksatria berdarah Sesiter. 

Pangeran Khorshid bergelut dengan kuda Palio, dan akhirnya berhasil menjinakkan dan menunggangi kuda tersebut dengan disaksikan seluruh keluarga puteri Savvinsi. Kemudian ibu dari puteri Savvinsi memberikan tali kekang dan pelana kepada pangeran Khorshid. Pangeran Khorshid membawa puteri Savvinsi berkuda meninggalkan kerajaannya. Menuju ke pegunungan.

Pangeran Khorsid dan puteri Savvinsi terkejut mendengan cerita masing-masing. Pangeran Khorsid segera mamaksa puteri Savvinsi pergi bersamanya ke gunung Damavand untuk mencari jawabannya.

Di gunung Damavand tidak terdapat jawaban apa-apa selain suara angin dingin. Gunung yang bersalju hanya semakin menusuk tulang-tulang seiring dengan semakin lambatnya langkah mereka. Tidak ada jawaban apa-apa. Namun mereka belum mengetahui pada saat itu, bahwa jawabannya sudah ada di depan mata mereka. Jawabannya adalah pangeran Khorshid dan puteri Savvinsi. Jawabannya adalah tangan yang kembali bergandengan, dua pasang mata yang kembali bertatapan saling memuaskan, dua hati yang dulu tersakiti, namun sekarang saling mengobati. 

Konon menurut cerita, puteri Savvinsi melamar pangeran Khorshid. Bukan dengan cara melamar seperti yang kita ketahui. Tapi dengan cara mengatakan mau mengikuti pangeran Khorshid kemanapun. Lalu dengan ucapan itu, pangeran Khorshid yang meminta agar puteri Savvinsi menjadi istri-nya (melamar yang kita ketahui) dengan bunga lily merah turki yang sangat langka. Merekapun kembali ke kerajaan Musluzik.

Sebelum pangeran Khorsid dan puteri Savvinsi resmi menikah, ini adalah perkataan mereka kepada pasangan masing-masing:


"ksatriaku, pada hari ini aku akan tunduk kepadamu sebagai istrimu.
pedangmu, dan seluruh keluargamu menjadi saksi.

pada hari ini aku bersedia meninggalkan kerajaan hatiku, dan masuk ke dalam kerajaan hatimu sebagai seorang permaisuri yang lugu.

bimbinglah aku agar senantiasa berada di sisimu dalam keadaan susah dan senang.

ksatriaku, pada hari ini aku bukan lagi milikku. 
aku adalah milikmu.

maka jagalah aku bagaikan permatamu yang paling berharga.

aku berjanji di hadapan pedangmu, dan keluargamu, akan selalu menempatkan dirimu diatas segalanya. 

aku akan merawatmu bagaikan seorang anak perempuan merawat boneka kesayangannya.

aku akan menyayangimu bagaikan seekor kuda yang disayang oleh majikannya.
pada hari ini, aku adalah istrimu.

    tuhan menurunkan hidayahnya      
    kepadamu melalui aku.

    hari ini, aku tidak hanya suamimu. aku ayahmu, saudara laki-laki
    ayahmu, saudara kandung laki-lakimu, temanmu, imammu.
 
    disaksikan pedang ini, dan keluargaku, aku meminta izin tuhan untuk  
mengemban tanggung jawab ini.

    aku memilihmu. 
bukan wanita dari kerajaanku, yang kerupawanannya tidak ada 
tandingannya. 
tapi untuk apa sekedar kecantikan?
 
hati dan pikiranku adalah lautan.  
    kerupawanan hanya akan bertahan sebentar melawan ombak dan 
badai ambisi dan emosiku. 
kau laksana kapten kapal yang piawai.

kau pernah tunduk kepada badai.  
   sekarang kapalmu-lah yang menguasai lautan hatiku. 
bukan dengan kecantikan.

istriku, aku akan membimbingmu perlahan. 
seperti seorang guru yang membimbing muridnya dengan sabar.

  betapa besar keputusan yang kau ambil ini. 
hanya tuhan yang tahu bagaimana membalasnya.

hari ini akan kupatahkan pedangku.
   karena kekuatanku bukan lagi dari
   kuatnya tebasan pedangku.
   kekuatanku datang dari cintamu."




    

Tuesday, 14 January 2014

Linked Connections

You were here not so long ago.
Knocking on my door on a humid rainy season.
You came at a perfect moment and brought warmth inside your suitcase.
You said you love the rain, so I took you outside.
Made you caught a cold after we rode the bicycle under the heavy rain.
That was the first time I have seen you playing with the rain, with your wet shirts that pressed and formed your body, and raindrops on your detail eyelash.

I got rid of all exhaustion and took you to the airport to leave me.
We sat there for hours.
There was no entertainment, except our conversations and the look on your melancholy eyes.
You didn't like it when I always say "I don't know" because you wanted me to be sure and believe at myself. Say anything but an empty words. Empty and ignorant as "I don't know"

There was no goodbye kiss because we both know that would have been hurt so much instead.
There were no promises cause nobody could guaranteed to made the promise.
I was so hollow.
This was a magic happened.
But Happened too fast.
Now we're back to sending pictures and our favorite kind of musics.
Kissing through letters and sentences.
Laughing together in a 10 inch monitor,
or none of them. Anymore.

We have one sun together.
With one side carrying my smile and the other side carving your voice.
We have one earth together, waiting to be stepped on by our foot - again.
Side by side.
We are not separated.

It's like I am not ready to grow old and face the truth.
Everyone choose a simple life, while I choose a complicated life.
Because that is the only thing to feel alive.


Sunday, 2 June 2013

after capital

c'mon wake up san francisco
wake up city
i wanna keep talking to you
and fall in love
in a dangerous way
the love that i love
the eye that reaches in
every inch of my subconsciousness
can you sing in our way to my favorite place
to your night sky
where every night is full moon
then listen to your talking and laughing at dinner time
i wish there is a kiss after that
in soft and gentle
until you break in particles
or me
as i suddenly be here
you're just a dream

Thursday, 9 May 2013

Untuk Kita

Biarkan dia nanti tumbuh liar
Bersama hutan buatan dengan akar kekar
Menyanyi dari lagu hujan dan halilintar
Berputar bersama warna hipnotis bergaris malam kelam
Tempat tidurnya rasa kuda yang siap berlari mengejar imajinasi mimpi
Dari belahan bumi dan alam khayal bidadari
Bahkan sang ibu sangat merindukan insting keibuan yang tak kuasa lagi ditahan
Saat sang anak tak butuh kehangatan
Karena dia tumbuh liar dari asuhan alam dan kekerasan
Tapi selalu bermimpi dia
Mimpi bidadari yang selalu memberinya makan
Dan tidur di atas tumpukan kehalusan
Di bawah rumah idaman
Biarkan dia tumbuh liar


Tuesday, 9 April 2013

Freckles Girl

There she goes
With a paper bag that looks like a Prada
Covered by the fallen leaves
With the most beautiful freckles in the face
So well organized like a galaxy in space
Throw a shy laugh that hides behind red hair
Flightless angel whose going somewhere
Maybe just want to feed the pigeons by the bay
Or pick flowers that grow wild on the railway

Diary of a Son

I don't want to count the days, but the nights always changing as if it illuminate my maturity
The excitement of standing in front of the wind that turns me on
Glass after glass tells me to trust no one
I am someone in front of the mirror
He is the evil whose willing  to walk beside my track
Lose my strength
Drown in your deadly smile
Taking care of soulfight with you
When I just want to talk about your moisture laugh
Bleeding in my journey to the fortress of thousand cells
Nobody covers me with a warm blanket
My baby book and a finger dance keep attach within
What should have been done
When red eyes reckless hits the mellow
Under a father's face and a mother's smile
I walk with them all around the world
Halfway to conquer the meaning of life
When faith meet me and talk about life
And I give it a blanket to make us warmer
And talk about our life
I am alone again
It leaves me with my last glass by the end of the night
To be count again


Wednesday, 23 January 2013

Pencil Art

I used to love to draw
I just don't know why
Might be just love to create something
or
Happy to see a scratch that could shape a tree
shadow or a lot of hair
I used to love to draw you
in every move and expressions
Because sometimes I could see ocean in your eyes
oh and also I saw my way home in the evening when I was 12
I see that when I draw your hands
Under the light
covered in a pink silk
And you were too lazy to get your tea
before went to sleep
Always
Now I just like to mix everything
Like play harmonica under my favorite tree
When the first time I bought you a tea
It was always great
As great as when I love to draw
Can I come here again someday?
And I will draw you forever

Friday, 7 December 2012

Channeling Instinct through the Clouds

last night my friend said that she had a dream of me coming home
the night after I had a dream I come home
inside my house
with the smell of wet painting
I touch the wall as I explore everything
to the kitchen
where my mom is always be
there was no one else
no celebration
no hugging in tight
just her in her usual old dress
which I think is better
because I'll come home anyway
no matter how far I go
this little bird would come back to his mother
I want to be a big bird
fly to anywhere I want
but will always come home
because he knows someone always waits for him
a mother's love is the warmest and most peaceful nest


Saturday, 20 October 2012

Dombamu Srigalaku

wahai wanita yang dulu berjalan di lorong gelap
yang langkahnya tegap walau hatinya menciut
taukah kamu aku masih bersama sang srigala
memberi makan selagi bisa
tapi taringnya semakin tajam
matanya semakin menerawang kesana
domba putih penuh pesona
yang akan dikejarnya
namun tak akan dimakannya
tapi kenapa?
karena dia berada di ladangmu
yang selalu kau sisir bulu halusnya
selalu bersih hidung dan matanya
rawatlah dombamu
dan srigalaku yang akan menjaganya dari jauh
tak akan pernah berubah
kecuali kita menjadi salah satunya


Sunday, 14 October 2012

Little Hell

Time to back to be a writer.
Baru 3 bulan disini dan dunia telah membantingku keras-keras ke tanah
Merobek kelopak mata untuk membuatku melihat!
Memukul-mukul hatiku agar menjadi kokoh
Mengikatku dengan tali dan melemparku ke jurang
Memberi makan setan dan malaikat dalam diri
dan membiarkanku melihat mereka bertarung dan terkena serpihan-serpihan api
Musim gugur ini mau membawaku kemana?
Ketika Semi ada disana menunggu
Atap ini dipenuhi kabut dingin
Terlukis wajah rupawan di dalamnya
Maaf, tapi biarkan semua ini menjadi salahku
Tidak bisa membuatmu menjadi benar
Silakan berenang sekarang
Banyak ikan menunggumu dibalik karang
Mutiara dalam cangkang hijau
Dan ini dia malam
Aku tidak ingin ada malam
Dia akan menghisap semua sisa kesenangan
Menghabiskan energi dengan menjejalkan kenangan
Dibawah kekuasaan langit aku tidak bisa berkata-kata
Ingin mati sementara
Atau mencari nama yang lain
Saat fokusku selalu diganggu

Sunday, 7 October 2012

Beautiful Sacred Wedding

What should I reach when I don't know whom I should fight
The night has taken my soul
I am a knight without a king to serve
My sword has been killing for nothing
I'm so weird that I couldn't understand myself
What I did with the water? and then I felt sleepy
God please help me
There are too many person in this body
I just want to be with me
Frozen my heart with your name inside
So no evil can melt it down to water
And then I would do that again
With the water, and I felt sleepy
Or think about something that even never think of me
or doesn't exist
Why I don't run away
Standing still here confronted by heart instead
Doing things that I find out not that amusing after
The sound of Eden
Is my new spirit
But a killer as well
In this gloomy month of Fall
I will sleep outside again
With an empty stomach



Tuesday, 21 August 2012

Delivered by Symphony

I found another beauty beside nocturne op.9 no.2 from Chopin
It's Beethoven Piano Concerto No.5 Op.73
And suddenly I can feel your soft skin
Your neck and teeth
The light of your smile flying away from the quiet river in paradise
I feel like we had a lot of moment together
Where everyday tells a stories about nothing but joyful
When I look deep inside this dance of fingers on every key
Time is slowing down
And I breathe constantly
To hear my heartbeat
Bouncing off the meaning of love and life
Like you and me
They cannot be separated from each other
You're such a creation
Place where I can be different
And I don't mind
It's in your lips
I want to stay forever
Build a warm dwelling
Growing old
Sleep for eternally
Emotionally in love
Different feelings that I would like to dive in
I cannot see your face anymore
But if I could
The world is still not worth
But I will
Through this symphony
I even feel your smell


Thursday, 21 June 2012

Chopin dan Cinta



memejamkan mata tak berarti menolak keindahan Sang pencipta
karena musik bukanlah produk neraka
aku ingin berdoa
agar semesta senantiasa menjaga
setiap keluarga
setiap kelembutan di seluruh tubuhmu diciptakan untuk menenangkanku
agar setiap tetes air kehidupanku mengikis setiap batu di dalam keras hatimu
Lalu terdengar alunan si pujangga piano
Fryderyc Franciszek Chopin
Lahir di desa Zelazowa Wola,
Dekat Warsawa,
Polandia
Yang tanpa malu menciptakan lantunan melankoli pada era romantis
Jari-jarinya bisa menidurkan rerumputan
Dan kita bisa bermesraan
Berdansa walau tak biasa
Menertawakan semua masalah yang ada
Dan ketika lagu ini mencapai puncaknya
Semua diam tanpa nada
Karena tidak akan ada yang lebih indah darinya
Kemudian kau sentuh kulitku
Seperti Chopin menyentuh tuts piano terakhirnya
Lalu aku menjadi piano dan kau pemilikku
Lakukan apa saja
Karena kau akan mencipta
Dan aku tak punya kuasa
Ketika Chopin tiada
Dirinya tetap hidup dalam nada








Chopin melakukan konser terakhirnya di Paris dan London











17 Oktober 1849 meninggallah ia
"Bunga terbaik dari aristokrat feminin dalam wujud terindah memenuhi Salle Pleye"



Chopin's last Piano

Saturday, 16 June 2012

Sunset On San Francisco

For the last couple days I was always wondering how is the sunset on San Francisco would look like.
It must be very beautiful with the mountains and beaches in all directions.

My sand clock is running so slow, I can almost count every grain that slides down to the bottom, and the sounds that rubbing into my eardrum transfer thousands of imagination about the colors that I will meet, and the smiles which I never seen before.

Every grain of these sands creates a worry about the creepy air plane machine sound, the big airport that I'm afraid I will lose my bag or miss my flight.
About the big people that talks strangely and walks so fast.

But the next sand grain keeps me calm somehow.
As calm as when I see my mother smiles and perhaps a little tears, a wise wisdom from my father, and a big hug from my sister.

Another grains I see makes me feel strong because a love is waiting for me patiently.
It is very nice, simple and sweet talk that we made.
For the negativity that we have each other, let the distance bond to one another.

Then I see my reflection when a bright little sand slides down to the narrow glass.
I see me walking in limp, fall to the ground, get hurt, and don't get back up for a while.
But when a breeze sweeps my face, I see sunset on San Francisco.
It pull me up to my own feet. heals my wound, and makes me run.
I run towards the sunset.
On San Francisco