Showing posts with label Surrogate. Show all posts
Showing posts with label Surrogate. Show all posts

Saturday, 24 June 2017

Kehadiran Dua Sosok

Setiap saya hendak menulis di malam takbiran ini, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri. Ini tulisan akan lw liat lagi di tahun-tahun mendatang. Ini tulisan buat lw. Mungkin dari sekian banyak tulisan yang saya beri label, label malam takbir ini yang paling penting sebagai milestone saya.

Allahuma Innaka 'Afuwwun Tuhibbul 'afwaa fa'afuanna sudah berganti menjadi Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham. Dua dzikir ini rasanya beda banget. Langit rasanya beda. membingungkan, karena ini seperti merayakan kesedihan dan berduka atas suatu perayaan. ini paradox. ini tanda saya harus menulis.

Bulan Ramadan tahun ini tidak ada yang paling saya bersyukur karenanya kecuali dipertemukan dengan dua orang yang penting dan berjasa dalam ibadah ramadan saya. Dia adalah Al Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al Hamid. Kedua adalah Mayang Athira Degesniari. Dua orang yang ke sholihan - sholihah an nya menginspirasi saya untuk menjadi lbh baik

Syukur Alhamdulillah saya bisa diizinkan oleh Allah untuk dipertemukan dengan dua orang ini, walaupun yang satu tidak benar-benar ketemu, hanya melihatnya lewat channel youtube.

Al Habib Ali Zaenal Abidin saya nemu di YT. Dari awalnya setel2 dzikir atau bacaan qur'an sambil nemenin tidur, Habib Ali ini ada di suggested video, trus saya play ceramahnya. Dari situ saya menemukan banyak hal, dan sadar bahwa ilmu islam itu luar biasa luas, dan saya semakin merasa ga tau apa-apa. Beda ceramahnya, ga kaya yang sering didenger di TV One, di masjid2, yang rata-rata yang dibahas itu-itu aja (tanpa bermaksud menyombongkan diri).

Dari Habib Ali ini saya belajar BANYAK BANGET. Mulai dari sejarah-sejarah kehidupan Rasulullah yang saya ga pernah denger sebelumnya. Dari sana saya sadar, man! jaman rasulullah tuh emang beda peradabannya. sifat orang2nya beda, nilai2 yang dianut beda. Sempet sedikit saya membayangkan kok enak ya kayanya di jaman itu.

Saya juga belajar tentang ilmu-ilmu islam yang lain seperti dzikir, sholat, bahkan sampai adab-adab yang diajarkan islam. Takjub! Video Habib ini di upload di channel majelis taklimnya darul murtadza. itu ada seribuan video. Dari sana saya makin mengagumi beliau. Subhanallah ilmu yang disampaikan oleh hanya 1 orang ini begitu banyak. Dia cuma manusia dengan ukuran kepala yang ya sama kaya ukuran kepala orang normal, tapi isi dari kepala itu adalah sesuatu yang sangat mahal.

Trus kok saya merasa mulai nge fans. Tiap hari pasti dengerin. Dulu saya pernah tulis di tumblr tentang keheranan ketika ada orang yang ber statement mencintai habaib, mencintai rasulullah. Apa benar mereka mencintai dengan kadar cinta yang sama seperti kadar mencintai seseorang seperti yang saya tahu. Kita selama ini ga tau perasaan orang. kita menilai berdasarkan apa yang bisa kita rasakan. Dan, Iya. Orang bisa mencintai rasulullah seperti mencintai yang kita kenal. Orang bisa mencintai ulama seperti cinta yang kita kenal.

Habib Ali ini santun tutur katanya. tapi dia bisa bernada tegas dan tinggi juga, macam orang berorasi. Mungkin karena pake bahasa melayu juga jadi terasa lebih halus. Semoga beliau diberikan kesehatan wal 'afiat dan dipanjangkan umurnya. Ilmu itu luasnya ga terukur. Baru berasa saya mempelajari agama dari ceramah2 beliau. Banyak banget kajian tentang kitab-kitab yang bahkan gw ga pernah denger sebelumnya! Kitab A, B, C. Tak terwakilkan takzim dan takjub saya terhadap Habib Ali Zainal Abidin dengan tulisan ini.

Saya kalo minta sesuatu sama Allah suka malu klo minta spesifik. tapi di bulan Ramadan ini saya mencoba mengempaskan rasa malu itu, bodo deh Allah mau menanggapi kaya apa. Saya minta jodoh. Dengan sebut nama. Sounds demanding. Tapi saya berdoa jika jodohku telah Engkau dekatkan dalam diri Mayang Athira Degesniari, berikanlah kelancaran di semua urusannya. Namun jika jodoh kami masih Engkau rahasiakan, maka berikanlah ketabahan dan keikhlasan dalam diri kami. Berikanlah pengganti yang lebih baik. Setidaknya saya merasa less demanding. Dan dari rutinitas itu, hati saya perlahan luluh dengan ikhlas. Ikhtiar-ikhtiar sudah dilakukan. Selanjutnya serahkan sama Allah aja.

Ikhtiar saya dan ilmu dari Habib Ali Zaenal Abidin Al hamid ini sangat memudahkan ibadah ramadan tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Semoga kita dipertemukan lagi di ramadan berikutnya. Oiya, efek juga dari pindah kantor. Jadi lebih tenang ibadahnya di sini :)

Tuesday, 5 July 2016

Dari Yang Menjaga Diri

Hai, kau yang berjalan sendiri, kemarilah!
Hendak kemanakah dirimu?
Aku pun akan segera pergi dari sini, namun aku ingin melihatmu dulu sebentar lagi.
Temani aku merenung malam ini.
Masih adakah orang yang tertarik untuk bersama-sama tidak melakukan sesuatu?
Pikiranku terbuka seluas pandangan mata yang menatap langit senja dari atas gunung.
Tanpa halangan, menerima rahasia langit dari Tuhan.
Mengkhayalkan kumpulan awan.
Kadang aku berpikir ada rumah-rumah di atasnya.
Bagaimana rasanya tinggal di sana?
Engkau tidak salah! Memang ada sesuatu di balik awan. Lebih banyak lagi dibalik langit.
Aku sering berkunjung.
Namun kali ini aku ada di sini.
Berjalan di depanmu seakan-akan hendak pergi.
Padahal akulah yang sangat ingin berada di sini.
Menemanimu merenung tentang hari ini.
Apa yang sudah engkau lakukan?
Entahlah
Aku pernah berada sangat tinggi.
Aku pernah berada sangat rendah.
Aku pernah berdiam diri seperti emas.
Aku juga pernah berenergi buas tak bermanfaat.
Tapi kalau boleh jujur aku lebih menyukai malam ini dibanding malam sebelumnya.
Malam ini lebih tenang.
Mungkin hati engkau yang lebih tenang.
Malam sebelumnya terlalu banyak hal.
Terlalu banyak.
Aku senang engkau bisa merubah semua ini.
Tapi aku takut tidak mampu mempertahankannya.
Akhir-akhir ini aku semakin rapuh kala sendiri.
Mungkinkah aku bisa mendapatkan seorang sahabat?
Menurutmu bagaimana? Apakah aku bisa?
Aku pun tidak mengetahui. Tapi aku berharap semoga apa yang selama ini engkau pikirkan, adalah sebuah petunjuk dari Tuhan.
Jika tidak, bersabarlah.
Mungkin engkau masih belum pantas.
Ketahuilah, sesulit apapun yang engkau rasakan, aku akan selalu mendukungmu.
Aku tidak mau berdoa lagi.
Berdoa dengan memaksa.
Doa yang didorong oleh hawa nafsu.
Doaku selalu aku sembunyikan.
Semoga Tuhanmu tahu kalau aku malu.
Oh Dia Maha mengetahui.
Baiklah aku sebenarnya ingin menjabat tangan engkau dan mengucapkan selamat.
Tapi aku berharap sekali engkau bisa menemuiku lebih sering di kemudian hari.
Aku akan selalu berusaha menjadi lebih baik.
Siapakah dirimu wahai yang berjalan sendiri?
Akankah aku menemuimu lagi wahai yang hendak pergi?

Aku adalah engkau, saat dirimu ingin dimengerti.
Aku adalah sholat sunahmu yang engkau mulai geluti dengan segan.
Aku adalah sujudmu, ketika engkau berusaha membuatnya sempurna.
Aku adalah perempuanmu, yang akan kau bimbing di jalan Tuhan di dunia dan Isteri mu kelak di akhirat.
Aku adalah aliran air matamu saat engkau berdoa, yang kembali meresap ke dalam pori-pori, yang terhapus baju atau tanganmu, yang menguap ketika kau biarkan dia jatuh.
Aku adalah syahwatmu yang tidak kau jaga.
Aku adalah kesabaranmu yang sangat sedikit kau pelihara.
Aku adalah pikiran burukmu terhadap sesuatu.
Aku adalah Tarawihmu yang kau bergembira karena behasil mengejarnya.
Aku adalah embusan napasmu yang dirasakan tanganmu karena begitu dekat kau berdoa.
Aku adalah setiap kata yang keluar dari mulutmu saat kau melantunkan ayat Al-Qur'an.
Aku adalah doa khatam-mu, dan awalan Al-qur'an yang kau mulai lagi.
Aku adalah rasa malasmu, saat memasuki akhir-akhir Ramadan.
Aku adalah puasamu yang hanya Allah yang Maha mengetahui.
Aku adalah Ramadanmu. 

Kau adalah kegembiraan diantara begitu banyak kesedihan.
Kau adalah kesedihan yang kurindukan. Kesedihan yang sebenarnya.
Selamat jalan. Semoga kita bisa bertemu lagi.

Tuesday, 3 May 2016

Hari Sebelas Imajinasi

Hari ke sebelas
.
.
.
.
.
Jika aku boleh berimajinasi tentang sebelas hari berikutnya

Lalu satu hari berikutnya lagi ketika kita akhirnya bertemu

Menyicipi rasa asing diantara ruang pribadi yang akan kau isi lagi

Akankah dirimu mau mengalahkan segala ego?

Ataukah aku dan imajinasiku lagi yang mesti membenahi semuanya?

Tidakkah kau merasa iba?

Di hari kesebelas,
lalu satu hari lagi

Gerbang menuju perjalanan kita terbuka lebih lebar lagi

Dirimu memenuhi imajinasi

Saat kita saling mengerti

Semua hanya imajinasi

Tak bisa aku mengatakannya nanti pasti

Aku mungkin sudah tidak ada di hati lagi

Buat apa aku berimajinasi?

Sakit!!!

Sakit yang aneh!

Rasa apa ini?

Dosa-dosamu teraduk jadi satu dengan kenangan

Apakah aku tidak pernah bosan?

Tapi

Rasamu beda

Bukan fisik cantik

Model majalah dewasa bisa mengalahkanmu dalam sedetik

Kau sayang, seperti simbol ketundukan yang memberontak

Ketidakpedulian yang memperhatikan dari jauh

Dan aku tidak bisa hanya berimajinasi
Aku harus beraksi

Tapi aku sakit hati

Ada dia! Kau menyimpan hati!

Kenapa tidak selesaikan masalah kita?

Hanya sebelas hari
Lalu satu hari lagi

Aku ingin bertahan dengan sisa imajinasi
Kalau kau punya barang sedikit saja

Saturday, 16 January 2016

pertaruhan malam

hari ini saya resign dari kantor tempat paling lama saya bekerja

malam ini saya kembali merenungkan berjalannya hubungan saya

malam ini saya merenungkan kapasitas saya sebagai seorang calon pemimpin rumah tangga. saya bahkan tidak mampu menyuruhnya bertindak lbh baik tanpa membuatnya menangis.

malam ini johan sebastian bach - menyayat hati saya dengan Air on G (string) dengan sangat dalam

malam ini saya kembali memikirkan keputusan saya. benar atau salah langkah yang saya ambil

malam ini mungkin separuh hidup saya pertaruhkan

pada akhirnya saya kembali mengakui bahwa saya hanya seorang hamba

semoga Allah membimbing saya ke jalan yang lebih baik. sekarang saya mungkin sedang menginjak bebatuan jalan kasar untuk menuju jalan lurus yang mulus

Saturday, 9 January 2016

pikiran yg tidak bisa keluar

banyak hal yg datang di malam hari, hanya bisa terpikirkan olehku

mereka tidak bisa dikeluarkan lewat tulisan, untuk mengingatkan

mau menunggu sampai kapan?
apakah termaafkan?

Thursday, 16 July 2015

Undian Dari Tuhan

Jura adalah seorang perempuan cantik yang sangat mandiri. Hidupnya penuh dengan tantangan. Dia mengetahui banyak hal, dan telah melakukan banyak hal. Sejak sekolah tingkat akhir, dia sudah harus hidup jauh dari keluarga, dan mencari tambahan uang sendiri untuk menyambung hidupnya.

Beberapa kali Jura berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena besarnya cobaan yang diterimanya. Namun dalam setiap kehidupannya, selalu ada orang-orang yang datang menjadi alasan Jura untuk terus berjuang - yang menjadi obat penyembuhnya. Namun dia tetap bertanya-tanya, kenapa orang-orang itu selalu pergi disaat dia telah berhasil mengatasi satu masalah? Orang-orang itu seperti datang sebagai kiriman Tuhan untuk memberitahukan bahwa hidupnya masih panjang.

Karena selalu merasa ditinggalkan oleh orang-orang yang dulu datang untuk menguatkannya, Jura justru berpikir orang-orang itulah yang merupakan cobaan hidup Jura yang sesungguhnya - bukan masalah yang dia hadapi. Sejak saat itu, Jura bersumpah tidak akan berhubungan dengan orang-orang. Karena sakit hati akibat ditinggal orang-orang tercinta lebih menyakitkan dari semua masalahnya.

Jura berkelana, mencoba mendekatkan diri kepada Tuhannya. Ibadah menjadi prioritasnya. Namun kelam dunianya yang dulu masih sering berkunjung kedalam kepala dan hatinya.

Jura terus beribadah dan berdoa agar suatu saat nanti dikirimkan seorang laki-laki yang dapat menjadi pusat kehidupannya. Bukan cuma penolong dari masalahnya lalu menghilang, tapi seseorang yang bisa menjadi bagian dari masalah itu sendiri, namun juga menjadi jalan keluar di saat bersamaan. Laki-laki yang menjadi Yin dan Yang dari hidupnya. Tapi Jura hanya menunggu, hingga dia sakit tak sadarkan diri.

Dalam keadaaan sadar tak sadar, Jura dihampiri seseorang dan menggenggam tangannya. Jura dibawa jalan ke suatu tempat. Kemudian orang tersebut melepas tangan Jura. "Silakan masuk, kamu mendapat undian dari Tuhan." Kata orang tersebut.

Jura kemudian berjalan di sebuah padang rumput. Disana dia melihat seorang laki-laki yang sedang menggembalakan kambing, bebek, domba, dan sapi. Begitu banyaknya gembalaan laki-laki tersebut, tanpa ada satupun yang luput dari pengawasannya. Tak lama kemudian, seekor kambing melahirkan disana. Laki-laki itu kemudian mengambil anak kambing tersebut dan mematahkan lehernya. Jura terkejut melihat kejadian tersebut. Dia ingin sekali meneriaki laki-laki tersebut, tapi kaki dan mulutnya seperti kaku - tidak bisa digerakkan sama sekali.

Kemudian laki-laki tersebut melanjutkan gembalanya menuju padang rumput lain. Di tengah perjalanan, seekor sapi melahirkan. Laki-laki tersebut terlihat senang. Dia segera menghampiri anak sapi tersebut, mengeluarkan belati dari sarung di celananya, dan menyembelih anak sapi tersebut. Jura tak kuasa menahan tangisnya. Kemudian dia melihat laki-laki tersebut menyambut kambing, bebek dan hewan ternaknya yang lain yang telah melahirkan, lalu membunuh anak-anaknya satu persatu.

Jura kemudian secara tiba-tiba dapat menghampiri laki-laki tersebut. Dia bertanya kenapa laki-laki tersebut membunuh semua bayi dari ternak-ternaknya. Laki-laki itu menjawab dengan panik dan lemah, "aku tidak tahu. Aku sangat ingin ternakku beranak pinak. Tapi aku membunuh semua bayi dari ternak-ternakku." Laki-laki itu terlihat sangat lelah. Dia kemudian tertidur di bawah pohon, membuat ternak-ternaknya perlahan hilang dari pengawasannya.

Lalu semuanya menjadi sepi
Hanya suara yang dibawa angin yang aku dengar.
Suara itu semakin jelas terdengar.
Dia memanggilku dengan lembut namun mengintimidasi.
Inikah suara Tuhanku?

     "Lihatlah Penggembala itu.
      Betapa banyak ternaknya.
      Tapi sekarang semuanya hilang, dan dia tidak mengetahuinya karena lelah tidurnya.
      Dia ingin menambah ternaknya, namun yang dilakukan malah membunuh mereka.
      Ternak itu ibarat amalan yang sudah dikumpulkan.
      Yang dijaga dengan semua usaha.
      Dan penggembala itu berniat untuk menambahkan amalannya.
      Namun dia melakukan hal yang sia-sia.
      Mengawinkan ternaknya hingga beranak. Betapa besar usaha yang telah dilakukannya.
      Namun dia sendiri yang membunuh amalannya yang akan menjadi besar.
      Hingga hilang semua amalannya.
      Perhatikanlah dan ambil pelajarannya."

Jura merasa sangat sedih dan mulai menangis. Kemudian angin besar berhembus dan membangunkannya dari tidur. Saat itu Jura ingat semua dosa yang telah dilakukannya. Air mata mewakili banyaknya keburukan yang dilakukan untuk sekedar mengobati sedikit rasa takut, rindu, rasa haus kasih sayang, atau rasa kenyamanan. Kenapa rasa yang tidak akan ada habisnya, harus dipuaskan dengan sesuatu yang tidak dibenarkan? Yang kemudian hanya akan memuaskan sementara. Apakah jika kita mencari obat yang paten - yang datangnya dari kebaikan, atau dari ajaran Tuhan - bisa selamanya mengobati rasa-rasa tersebut?

Jura tidak mengerti. Dia belum mengetahui jawabannya. Tapi semua hal buruk yang pernah dilakukannya tidak bisa hilang dari ingatan. Apakah Jura termaafkan?

"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf. Dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf. Karenanya maafkanlah aku."

Kemudian Jura berdoa lagi, semoga datang orang yang bisa memberikan, atau setidaknya mengajarkannya untuk mendapatkan obat paten dari Tuhan untuk tidak sekedar mengobati sementara.

Jura adalah kita. Pelajaran yang bisa diambil adalah dari si penggembala. Apakah kita sia-sia mengerjakan amalan kita? Apakah sia-sia puasa kita tahun ini? Amalan yang sudah kita kumpulkan harus hilang karena kita hanya mengambil obat yang menyembuhkan penyakit dengan sementara. Kita kecanduan dengan obat sementara ini. Ketika kita dimusuhi, kita balik memusuhi. Karena itu obat sementara yang membuat kita merasa baik untuk sementara. Sementara penyakit permusuhan itu tidak benar-benar sembuh.

Apakah penyakit nafsu birahi kita puaskan dengan sesuatu yang besifat sementara juga?

Tak pernahkah kita bayangkan - saat kita melakukan pemuasan sementara ini - perasaan orang yang akan diutus untuk menjadi penyembuh yang sebenarnya. Yang membawa obat cinta dan berusaha mencintai dengan ikhlas, mengetahui diri kita dahulu adalah pemuas obat sementara? Setiap hari dia harus hidup dengan pikiran ini, menerima kenyataan ini tanpa sedikitpun berkurang rasa cintanya. Betapa dia begitu sedih dalam keikhlasannya.

"Setiap mendengar kumandang takbir di malam Ramadan terakhir tahun ini, aku merasa malu.
Aku ingin berlari dan bersembunyi dari Tuhanku.
Aku malu berpuasa selama sebulan ini.
Ini perasaanku yang sesungguhnya.
Allah ampunilah dosa-dosaku."

Wednesday, 15 April 2015

Ikrar Pangeran Khorshid

Ini adalah kisah bersatunya dua kerajaan yang saling bertentangan. Dua kerajaan dengan ideologi yang berbeda. Namun semua orang memiliki pikirannya masing-masing. Bagi pangeran Khorshid dan puteri Savvinsi, perjalanan hidup mereka tidak ditentukan oleh aturan kerajaan, seperti hati yang tidak bisa dikekang. Bertahun-tahun mereka memperjuangkan hubungan mereka, hingga nyaris membuat dua kerajaan saling berperang.

Seiring hubungan mereka yang semakin dewasa, mereka sadar pernikahan tidak akan terjadi di antara mereka. Dua kerajaan yang berdiri begitu lama tidak akan bisa dipersatukan oleh dua orang. Kebudayaan dan adat melekat sekeras cangkang mutiara. Pangeran Khorshid dan puteri Savvinsi tidak pernah bertemu lagi.

Suatu malam, pangeran Khorshid bermimpi mendaki gunung Damavand dalam sehari, dan turun dalam sehari juga. Kemudian pangeran Khorshid masuk ke sebuah lumbung. Disana terdapat banyak orang yang beristirahat. Di dalam kerumunan orang, pangeran Khorshid bertemu dengan teman-temannya, dan puteri Savvinsi juga berada di sana - di dalam mimpinya.

Pangeran Khorshid bercerita tentang pengalaman mendakinya. Puteri Savvinsi tiba-tiba mengenakan burka untuk menutup hampir seluruh tubuhnya. Namun puteri Savvinsi begitu aktif seperti anak kecil yang kegirangan. Dia bergerak begitu bebas hingga hampir memperlihatkan auratnya dari balik burkanya. Pangeran Khorshid berusaha menghentikan puteri Savvinsi agar burkanya tidak tersingkap.

Pangeran Khorshid kemudian membawa puteri Savvinsi pergi. Lagi-lagi dia dikejutkan oleh sang puteri yang minum dan mencuci muka dengan mata air suci kerajaan pangeran Khorshid. Tidak ada orang yang minum atau mencuci muka dari mata air Ghuslu kecuali dia adalah bagian dari kerajaan Musluzik. Puteri Savvinsi hanya tersenyum.

Pangeran Khorshid terbangun dan menceritakan mimpinya kepada guru spiritualnya. Oleh guru spiritualnya, ia diperintahkan saat itu juga untuk menghancurkan ego dan janji yang telah diikrarkan mereka untuk tidak pernah bertemu lagi. "Tuhan mungkin akan membuat kejutan untuk kalian, dan kerajaan ini. Jika sang puteri memiliki mimpi yang hampir sama, bawalah ia ke gunung Damavand tempat pangeran bermimpi. Kalian mungkin akan menemukan jawaban dari mimpi kalian." Seru sang guru spiritual.

Pergilah pangeran Khorshid menemui puteri Savvinsi. Bertahun-tahun tak saling memandang, ada perasaan aneh yang timbul. Rasa cinta mereka tak berkurang sedikitpun. Puteri Savvinsi beberapa hari lalu bermimpi didatangi pangeran Khorshid. Pangeran Khorshid berusaha menjinakkan kuda Palio, Legenda kuda paling liar milik kerajaan puteri Savvinsi. Tidak ada seorang pun yang bisa menjinakkan dan menunggangi kuda Palio, kecuali dia adalah ksatria berdarah Sesiter. 

Pangeran Khorshid bergelut dengan kuda Palio, dan akhirnya berhasil menjinakkan dan menunggangi kuda tersebut dengan disaksikan seluruh keluarga puteri Savvinsi. Kemudian ibu dari puteri Savvinsi memberikan tali kekang dan pelana kepada pangeran Khorshid. Pangeran Khorshid membawa puteri Savvinsi berkuda meninggalkan kerajaannya. Menuju ke pegunungan.

Pangeran Khorsid dan puteri Savvinsi terkejut mendengan cerita masing-masing. Pangeran Khorsid segera mamaksa puteri Savvinsi pergi bersamanya ke gunung Damavand untuk mencari jawabannya.

Di gunung Damavand tidak terdapat jawaban apa-apa selain suara angin dingin. Gunung yang bersalju hanya semakin menusuk tulang-tulang seiring dengan semakin lambatnya langkah mereka. Tidak ada jawaban apa-apa. Namun mereka belum mengetahui pada saat itu, bahwa jawabannya sudah ada di depan mata mereka. Jawabannya adalah pangeran Khorshid dan puteri Savvinsi. Jawabannya adalah tangan yang kembali bergandengan, dua pasang mata yang kembali bertatapan saling memuaskan, dua hati yang dulu tersakiti, namun sekarang saling mengobati. 

Konon menurut cerita, puteri Savvinsi melamar pangeran Khorshid. Bukan dengan cara melamar seperti yang kita ketahui. Tapi dengan cara mengatakan mau mengikuti pangeran Khorshid kemanapun. Lalu dengan ucapan itu, pangeran Khorshid yang meminta agar puteri Savvinsi menjadi istri-nya (melamar yang kita ketahui) dengan bunga lily merah turki yang sangat langka. Merekapun kembali ke kerajaan Musluzik.

Sebelum pangeran Khorsid dan puteri Savvinsi resmi menikah, ini adalah perkataan mereka kepada pasangan masing-masing:


"ksatriaku, pada hari ini aku akan tunduk kepadamu sebagai istrimu.
pedangmu, dan seluruh keluargamu menjadi saksi.

pada hari ini aku bersedia meninggalkan kerajaan hatiku, dan masuk ke dalam kerajaan hatimu sebagai seorang permaisuri yang lugu.

bimbinglah aku agar senantiasa berada di sisimu dalam keadaan susah dan senang.

ksatriaku, pada hari ini aku bukan lagi milikku. 
aku adalah milikmu.

maka jagalah aku bagaikan permatamu yang paling berharga.

aku berjanji di hadapan pedangmu, dan keluargamu, akan selalu menempatkan dirimu diatas segalanya. 

aku akan merawatmu bagaikan seorang anak perempuan merawat boneka kesayangannya.

aku akan menyayangimu bagaikan seekor kuda yang disayang oleh majikannya.
pada hari ini, aku adalah istrimu.

    tuhan menurunkan hidayahnya      
    kepadamu melalui aku.

    hari ini, aku tidak hanya suamimu. aku ayahmu, saudara laki-laki
    ayahmu, saudara kandung laki-lakimu, temanmu, imammu.
 
    disaksikan pedang ini, dan keluargaku, aku meminta izin tuhan untuk  
mengemban tanggung jawab ini.

    aku memilihmu. 
bukan wanita dari kerajaanku, yang kerupawanannya tidak ada 
tandingannya. 
tapi untuk apa sekedar kecantikan?
 
hati dan pikiranku adalah lautan.  
    kerupawanan hanya akan bertahan sebentar melawan ombak dan 
badai ambisi dan emosiku. 
kau laksana kapten kapal yang piawai.

kau pernah tunduk kepada badai.  
   sekarang kapalmu-lah yang menguasai lautan hatiku. 
bukan dengan kecantikan.

istriku, aku akan membimbingmu perlahan. 
seperti seorang guru yang membimbing muridnya dengan sabar.

  betapa besar keputusan yang kau ambil ini. 
hanya tuhan yang tahu bagaimana membalasnya.

hari ini akan kupatahkan pedangku.
   karena kekuatanku bukan lagi dari
   kuatnya tebasan pedangku.
   kekuatanku datang dari cintamu."




    

Sunday, 27 July 2014

Tahun ke 5 Tulisan Malam Takbir

Mungkin karena sadar aku akan membuat tulisan di malam takbir, begitu banyak yang ingin kusampaikan selama bulan Ramadhan tahun ini. Tahun ke-5 aku masih bersedia meluangkan waktu untuk menengok blog yang terbengkalai ini. Tahun ke-5 aku menulis sesuatu setiap malam takbir.

Ramadhan tahun ini sangat banyak kekurangan yang masih terjadi. Tahun ini tapi yang paling berbeda adalah aku menjalaninya tanpa sosok seorang Bapak. Beliau pergi meninggalkan dunia ini beberapa bulan lalu. Kalau boleh jujur, tidak banyak kenangan yang aku miliki. Hubungan Bapak-Anak yang terjadi diantara kami bukanlah seperti kebanyakan orang. Kami sama-sama dingin. Keluargaku bukanlah keluarga extrovert. Kami tidak berbagi cerita tentang hari-hari kami saat berkumpul di malam hari. Tapi sedingin apapun hubungan itu, kehilangan orang tua akan selalu menjadi salah satu yang terberat dalam hidup.

Ramadhan tahun ini aku menghabiskannya di kantor baru. 1 Bulan lagi bertahan, kantor ini akan menjadi kantor terlama yang pernah aku dedikasikan waktu, tenaga, dan pikiranku di dalamnya. Ternyata 1 tahun tidak begitu lama. Namun disini cobaan bulan Ramadhan lebih berat dibanding di kantor lamaku. Disini adalah tempat untuk bekerja, bukan mencari teman akrab. Mereka tidak akan repot-repot memikirkan perasaanmu. Pure Professional. Namun bukan berarti aku tidak mempunyai teman. Aku hanya tidak masalah dengan lingkungan seperti ini. Namun beberapa hari saat Minggu-minggu akhir bulan puasa, seakan-akan ada orang-orang yang diutus untuk melatih kesabaranku - dalam hal emosi dan syahwat. Tahun ini hawa nafsuku seakan kembali labil.

Hal baiknya, kantorku yang sekarang sangat toleran terhadap waktu. Aku lebih sering menghabiskan waktu Dzuhur dan Ashar di Masjid bersama beberapa teman kantor (Kan... aku punya teman) Aku mulai perlahan-lahan Sholat sunnah, dan melakukan amalan-amalan yang sangat kecil. Semoga ini melatih untuk terbiasa kedepannya.

Semoga semakin diberikan kemudahaan dalam beribadah, diberi rizki yang halal dan cukup, dan yang pasti dipertemukan di Ramadhan berikutnya, agar tulisan seperti ini selalu menghiasi blog-ku yang kurang terawat. Selamat Lebaran.

Tuesday, 14 January 2014

Linked Connections

You were here not so long ago.
Knocking on my door on a humid rainy season.
You came at a perfect moment and brought warmth inside your suitcase.
You said you love the rain, so I took you outside.
Made you caught a cold after we rode the bicycle under the heavy rain.
That was the first time I have seen you playing with the rain, with your wet shirts that pressed and formed your body, and raindrops on your detail eyelash.

I got rid of all exhaustion and took you to the airport to leave me.
We sat there for hours.
There was no entertainment, except our conversations and the look on your melancholy eyes.
You didn't like it when I always say "I don't know" because you wanted me to be sure and believe at myself. Say anything but an empty words. Empty and ignorant as "I don't know"

There was no goodbye kiss because we both know that would have been hurt so much instead.
There were no promises cause nobody could guaranteed to made the promise.
I was so hollow.
This was a magic happened.
But Happened too fast.
Now we're back to sending pictures and our favorite kind of musics.
Kissing through letters and sentences.
Laughing together in a 10 inch monitor,
or none of them. Anymore.

We have one sun together.
With one side carrying my smile and the other side carving your voice.
We have one earth together, waiting to be stepped on by our foot - again.
Side by side.
We are not separated.

It's like I am not ready to grow old and face the truth.
Everyone choose a simple life, while I choose a complicated life.
Because that is the only thing to feel alive.


Wednesday, 7 August 2013

Label pertama malam takbir

Kembali lagi ke Jakarta. Kembali lagi ke mayoritas muslim secara general menjadi lebih mudah dalam menjalankan ibadah puasa. Apalagi setelah hampir tiga bulan kembali dari San Francisco, belum mendapat pekerjaan tetap, jadi lebih banyak dirumah dengan minim aktivitas. Tidak perlu pusing-pusing mikir menu berbuka dan sahur, karena semua sudah tersedia. Bisa sholat tarawih dan ngaji lebih banyak dari tahun kemarin.

Tapi ada hal-hal istimewa yang kurang: Eksklusifitas muslim di negeri non muslim. Perasaan besar dan bangga menjadi muslim. Saat orang-orang terpukau dengan "how can you don't eat anything?" "I can't do that" atau rasa penghormatan yang sebenarnya ketika kami berkumpul di restoran untuk makan siang dan "Mahdy, order anything for you to eat it during the night." atau ketika menjalankan aktivitas volunteer ketika "Who's fasting? You? Here have more, take as much as you want."

Ada rasa kemenangan yang sebenarnya ketika Maghrib tiba pukul 8:30 sore dan badan masih bisa berdiri tegak walau hanya dengan beberapa teguk air putih (no tea) di tengah aktivitas yang tidak dibuat untuk orang yang berpuasa, tapi tidak ada masalah.

Ada ketenangan ketika langit malam takbir tidak diramaikan oleh kembang api dan petasan, tapi bintang dan awan malam. Tanpa takbir berkumandang dari luar yang sering dijadikan perwakilan untuk tidak perlu lagi bertakbir. Tapi disana takbir langsung berkumandang dari mulut, dan langit yang kemudian diwakilkan.

Tapi tetap ada amalan-amalan di bulan puasa yang tidak bisa dipenuhi semua.

Kemudian sekarang hanya ada doa, semoga bisa diberi kesempatan lagi untuk bertakbir mewakili langit dibelahan dunia lain. Mewakili minoritas karena itu hebat.

Monday, 22 April 2013

When Sadness Comes

As Dr. Rahman said sounds like this: "You might encounter ups and downs feeling during your time here."
The down feeling will appear when you feel afraid to go back home. I had that feeling several times since I've been here. San Francisco has been given me too much memories, from the first breeze that I felt in July 2nd 2012 when the first time I landed my foot in the totally unfamiliar place, with no single person whom I know; Until the best laugh and smile that I have never did for a long time. Right now, I'm afraid to come home.

I'm afraid that I will change so much, and people could not recognize me anymore.
I'm afraid that my family would be like "This is what you become since you come from the US!"
I'm afraid to meet my friends. I don't know why.
I'm afraid to lose control, either in a good way or in a bad way.
I'm afraid that they're gonna label me with high expectation.
I'm afraid of what I will become.
I'm afraid to leave everything here.
I'm afraid to leave everyone here.
I'm afraid to leave them.
I'm afraid to leave you.
"How can you feel like a stranger in your own country? Your own city?" Paul said

God is Almighty, so He creates a big heart in all of us. And don't forget He also creates time that could heal everything. If you are able to adjust the life here, then you are definitely able to re-adjust your life in your own country. Turn your fear above into a challenge.

I want to change so much, and people probably won't understand and recognize me anymore. But that doesn't matter. Focus on myself, not other people's perspective.
I want my family be like "This is what you become since you come from the US!" And I'll also be like "Yes. I don't force you to understand, and I understand that."
I want to meet my friends so much and I don't know why.
I want to lose control, either in a good way or in a bad way.
I want them to label me with high expectation, because it would trigger me to do more, to give more.
I know what I will become. I'll become a great man.
I know that I'm gonna leave everything here.
I know that I'm gonna leave everyone here.
I know that I'm gonna leave them.
I know that I'm gonna leave you. But I will definitely come back if destiny calls. I know maybe we're not going to meet each other anymore, but you will always be in my heart. To love is to let go. This is my journey of life. My friend Allison Myers said that she found her life in the age of 40. In life, you must be keep on searching. Never stop. This 11 months has opened my eyes to the world.

So now wipe your tears and look outside. The world is big and waiting for you to conquer it. Stop the down feeling. Let go... Let go... and you will find your face turns into a big smile.


For My friends

Sunday, 14 October 2012

Little Hell

Time to back to be a writer.
Baru 3 bulan disini dan dunia telah membantingku keras-keras ke tanah
Merobek kelopak mata untuk membuatku melihat!
Memukul-mukul hatiku agar menjadi kokoh
Mengikatku dengan tali dan melemparku ke jurang
Memberi makan setan dan malaikat dalam diri
dan membiarkanku melihat mereka bertarung dan terkena serpihan-serpihan api
Musim gugur ini mau membawaku kemana?
Ketika Semi ada disana menunggu
Atap ini dipenuhi kabut dingin
Terlukis wajah rupawan di dalamnya
Maaf, tapi biarkan semua ini menjadi salahku
Tidak bisa membuatmu menjadi benar
Silakan berenang sekarang
Banyak ikan menunggumu dibalik karang
Mutiara dalam cangkang hijau
Dan ini dia malam
Aku tidak ingin ada malam
Dia akan menghisap semua sisa kesenangan
Menghabiskan energi dengan menjejalkan kenangan
Dibawah kekuasaan langit aku tidak bisa berkata-kata
Ingin mati sementara
Atau mencari nama yang lain
Saat fokusku selalu diganggu

Sunday, 19 August 2012

Silent Takbir

Rasanya aneh ketika malam takbiran hanya bisa dinikmati melalui jaringan internet. Di televisi disini pun tidak ada satu pun acara yang mengbarkan suasana takbiran di seluruh daerah. Tidak ada suara takbir memenuhi langit malam. Disini hanya ada kabut dan angin yang dingin. Tidak ada yang mudik. Hanya ada lalu lintas rutin menuju tempat wisata, atau kantor. Tidak ada uang THR untuk membeli baju lebaran dari Ayah. Hanya sweater lama yang menghangatkan badan. Tidak ada ketupat, opor ayam, semur daging, dan sayur paya makanan khas lebaran buatan mama. Hanya makanan kaleng dan makanan cepat saji lainnya karena jauh dari keluarga. Tak ada tangan-tangan yang kukenal untuk disalami. Disini semuanya terasa asing.

Tapi setiap tahun, kita harus lebih baik. Aku tidak khawatir karena Insya Allah aku melalui hari-hari yang lebih berat setiap tahunnya. Terus memaksa pikiran, tubuh, dan jiwa menjadi lebih baik. Karena ini adalah ciptaan yang paling sempurna dari yang maha kuasa. Mungkin sudah sejak dulu aku ingin mencoba jauh dari keluarga, bukan karena benci, tapi karena ingin mandiri. Aku pernah punya cita-cita untuk merasakan berlebaran sendiri tanpa keluarga. Aku ingin sekali menjadi reporter televisi dan melaporkan suasana lebaran di daerah yang jauh. Namun Tuhan memberikan dengan cara lain untukku dalam menikmati lebaran jauh dari keluarga. Aku ada disini mengejar ilmu dan cita-cita, jauh dari rumah dan kawan. Jauh dari cinta.

Alhamdulillah sudah 3 tahun ini aku menulis di saat malam takbir bergema. Suasana yang begitu spiritual membuatku ingin mengabadikannya dengan tulisan. Di tahun pertama Samudera bertarung dengan hatinya apakah harus memaafkan keluarganya, namun cinta sesungguhnya dari sang kekasih membuatnya luluh dengan kesedihan yang bahagia. Membuatnya tersenyum. Senyum Samudera. Lalu di tahun kedua aku mencoba berintrospeksi. Pengalaman pertama berpuasa berbarengan dengan pekerjaan. Semua bisa terlewati di minggu pertama, namun minggu kedua dan seterusnya, aku sangat jarang sholat tarawih dan mengaji, dan aku merasakan tahun itu lebih buruk dari tahun sebelumya. Apakah Ramadhanku sudah baik?

Dan tahun ini, walaupun aku tidak pernah sholat tarawih, entah kenapa aku merasa lebih baik dari tahun sebelumnya. Saat menjadi minoritas, cobaan terasa sangat sangat berat, tapi Alhamdulillah sebulan ini aku tidak pernah bolong dalam berpuasa. Aku harus melaksanakan puasa saat aku berada disini kurang dari satu bulan. Saat masih harus melakukan banyak penyesuaian.Namun inilah salah satu cita-citaku. Menjadi minoritas untuk lebih bersyukur. Waktu berpuasa yang jauh lebih lama pun bisa kulewati dengan sangat mengaggumkan. Air mata jatuh bersamaan dengan rasa syukur di setiap kesempatan. Lalu aku merasa, Aku hebat. Aku pantas memberikan penghargaan untuk diriku. 

Wednesday, 15 August 2012

Mimpi Besar Seorang Anak Kecil

"Apa cita-cita lo?"
"Apa yang pengen lo raih 5 tahun kedepan?"
"Apa target dalam hidup lo?"
Dan aku hanya bisa terdiam, menjawab sekedarnya.Basa-basi ingin sukses dan bla bla bla
"Kalo si Angga dia pengen berlayar. Kerja di kapal. Jadi koki disana dia."
"Hidup lo baru sukses kalo lo udah mencapai target lo. Cita-cita lo."

Sebenarnya aku ingin menjawab sesuatu yang beda. Karena di kepala ada sedikit mimpi - bisa keluar negri atau ke sekolah di luar negri. Amerika. Tapi saat itu aku takut untuk mengatakannya karena aku takut itu hanya omongan seorang anak yang lahir dari keluarga yang sangat tidak memungkinkan untuk bisa melaksanankan mimpinya. Itu terlalu besar. Dan aku terlalu takut untuk membual.

Menerima gaji pertamaku saat itu sebesar 1.5 juta rupiah setelah bekerja 1 bulan yang sangat melelahkan dalam sejarah kerjaku. Aku bekerja di salah satu event anak-anak pada tahun 2009. Sempat berpikir untuk keluar di tengah-tengah event karena tekanan kerja dan juga dari orang-orang disana. Namun cita-cita membelikan mamaku handphone waktu itu membuat aku terus menyeret badanku untuk terus menyelesaikan 1 bulan ini. Bekerja hampir setiap hari. Sempat meneteskan air mata di bus 43 jurusan Cililitan-Tanjung Priok di pagi itu. Namun janji kepada diriku untuk memberikan sesuatu kepada ibunda membesarkan hati kecilku.

Setelah amplop di tangan, aku bahkan tidak pusing lagi mengenai cita-cita. Ah ini yang sangat realisitis bagiku, dibanding memikirkan bagaimana cara keluar negri yang sangat tidak mungkin terjadi. Itu adalah 1.5 juta terbesar dalam hidupku. Aku merasa bisa membeli semuanya dengan uang itu. Ah andai hati bisa sebersih dulu,  kerja keras dan ikhlas membuat kita bersyukur dengan apapun yang kita dapat. Hari itu juga aku langsung ke toko untuk membelikan mamaku handphone, dan aku membeli pizza ukuran besar dengan uangku sendiri. Mungkin itu pizza pertama dan terenak yang pernah aku beli dengan uang sendiri. Aku hanya mengambil 700ribu dari gaji pertamaku. Sisa uang aku berikan ke mamaku. Saat dia masih mengenakan mukena setelah sholat. "Nih ma, adi beliin handphone sama ini buat mama." Dengan 1.5 juta aku membeli dunia dengan kebahagiaan seorang ibu dengan mukena putihnya. Karena tidak tega, mamaku menyimpan uang 500 ribu yang aku berikan. "Udah ga usah pake ngasi duit lagi segala. Handphone aje cukup emaknye. Yaudeh makasi ye ini mama simpen aje duitnye buat keperluan nanti. Insya Allah adi ditambahin rejekinye ama Allah."
"Iya gapapa mah, udah itu buat mama, adi uda janji mau ngasi handphone ama duit."

3 Tahun berlalu sejak pertanyaan dan moment itu masih aku ingat. Di belakang panggung yang sempit, seorang pemimpin mencoba untuk membesarkan hatiku, bahwa sebenarnya aku bisa melakukan apa saja dengan mimpi.

Ketika hari ini aku lihat Angga, dia sudah menikah dengan wanita Peru dan bahkan baru memiliki seorang anak. Dulu ketika melihat foto-fotonya di fb, aku sangat iri karena dia bisa jalan-jalan keliling dunia. Wah asik bener deh ngeliatnya. Ingin rasanya seperti dia, bisa keluar negeri. Dan persis hari ini aku kembali ke 3 tahun lalu. Aku melihat seorang anak yang tertunduk karena malu untuk menceritakan mimpinya. Andai waktu itu aku memberitahukan cita-citaku, aku sekarang sudah menjadi orang yang sukses karena bisa mencapainya dalam waktu 3 tahun. Kalau aku ada disana, aku akan mengatakan kepada pemimpinku, "mba, cita-cita saya, saya ingin melihat dunia!" Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya bermacam-macam, kenapa kita hanya berdiam di satu tempat? Nikmati ciptaan tuhan di belahan bumi lainnya, dan kamu akan menemukan dirimu adalah orang yang bersyukur."

Kenapa takut untuk bermimpi? Sebuah karya besar dimulai dari setitik tinta. Bermimpi bukan membual. Toh kita tidak merugikan orang lain.


















Angga dan Aku

Saturday, 21 July 2012

Hari Pertama Puasa di San Francisco

Menunggu jam-jam menjelang matahari terbenam di San Francisco aku akan menceritakan pengalaman pertama kali menjalankan ibadah puasa di negeri asing. Kalau banyak orang di Jakarta mengeluh karena jam 6 sore datang sangat lama, atau bahkan membatalkan puasanya hanya karena sedikit haus atau lapar, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka jika mengetahui kalau pukul 8:30 malam adalah waktu berbuka puasaku disini. Kurang lebih 16 jam 30 menit aku harus menahan lapar & haus plus cobaan sebenarnya - menjadi minoritas. Tapi mungkin disini tidak akan terlalu merasa haus karena udara yang lembab dan angin yang dingin. Yah semua negara punya kekurangan dan kelebihan.

Pukul 3 pagi aku harus bangun sendiri, tidak ada mama yang biasa mengetuk pintu, suara-suara di dapur atau acara televisi yang membangunkanku untuk sahur. Hanya niat yang tulus dan alarm yang keras yang membangunkanku. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai karena semua makanan harus disiapkan sendiri dalam waktu setengah jam, dan setengah jam lagi untuk makan sahur. Di apartemenku ada tiga orang yang menjalankan ibadah puasa (semoga kita semua konsisten) satu bernama Ejaz dari Pakistan, dan Jon dari Tajikistan. Tapi sepertinya Jon mempunya waktu berbeda dalam menjalankan ibadah sahur, jadi sepertinya kita tidak akan makan sahur bersama.

Tidak ada banyak bahan yang bisa dimasak, dan tidak ada waktu untuk memasak sesuatu yang akan memakan waktu lama. Hanya dengan telur, ayam , ikan, udang olahan, kentang dan kacang panjang, dan nasi yang banyak sepertinya akan menjadi menu sahurku sebulan ini. Dengan susu dan madu sepertinya sudah lebih dari cukup.

Sahur ini dilalui dengan tenang, tanpa hingar bingar televisi yang memutarkan beragam acara untuk menemani sahur. Dan sahur ini ditambah dengan mengetahui menu sahur teman Pakistanku. Dia hanya makan beberapa roti dengan madu dan semacam kacang almond, dan pineapple jus.















Setelah sholat subuh pukul 4:36 waktu setempat, aku hanya bisa tidur sekitar 2 jam karena pada pukul 6:30 aku harus bangun karena hari ini adalah hari pertama aku melakukan Volunteer sekitar 4 jam. Selama setahun program ini berjalan, kami (CCI students) diwajibkan melakukan volunteer 100 jam. First day of fasting, first day of volunteering. Kegiatan volunteer dimulai sekitar pukul 9 di kampus. Hari ini aku membantu international staff untuk melakukan orientasi kepada mahasiswa-mahasiswa international yang akan mulai Fall Academic bulan Agustus ini. Kegiatannya cukup mudah. Kami disuruh untuk membantu para Mahasiswa untuk registrasi absen orientasi, dan siang harinya membantu membagikan makan siang. You must know the hardest part. Yaps saat jam makan siang. Ketika semua orang dengan santainya menikmati ayam goreng, bihun, salad, snack, dan cola sambil tertawa-tawa. Tapi aku malah tersenyum dan dalam hati berkata "Yes akhirnya bisa merasakan menjadi minoritas!" It's kinda cool for me...



"Saat orientasi. Aku harus mengikuti acara ini juga karena ada informasi-informasi yang akan dibutuhkan selama masa akademik nanti berjalan."










"Inilah kurang lebih suasana di cafetaria saat makan siang."


















Kami selesai volunteering pukul 1 siang karena harus masuk kelas. Kegiatan orientasi selesai pada pukul 6 sore. Beberapa hari ini aku selalu mengantuk saat di kelas, dan tadi ditambah dengan sakit kepala, maka lengkaplah sudah perjuangan hari pertama berpuasa ini.

Cobaan hari pertama bukanlah dari rasa lapar, tapi dari cobaan emosional yang timbul karena perbedaan karakter dan budaya. Perbedaan watak dan karakter dari teman-teman India dan Pakistan adalah cobaan terbesarku disini, dan mungkin tidak jauh berbeda dengan teman-teman lainnya (Agar CCIP berikutnya bisa siap-siap mental :p) Untuk cobaan budaya datang dari semua negara. Hari ini aku baru mengetahui kalau aku tidak bisa mengandalkan mereka untuk memahami statusku yang sedang berpuasa. Setelah kelas selesai, kami diminta untuk mengambil makanan yang tersisa dari lunch break tadi, dan lumayan banyak. Dan ternyata aku tidak kebagian daging ayam. Ketika aku mencoba untuk memberi pencerahan bahwa aku butuh daging untuk berbuka dan berpuasa nanti, mereka seperti tidak peduli dan tidak mau membagi ayam yang mereka dapat. Awalnya sedih juga sih rasanya mengetahui kalau aku benar-benar sendirian disini. Tapi inilah kenyataannya, dan aku hanya mendapat semacam mie dan brokoli-brokoli yang akan menjadi menu berbuka dan sahurku nanti.

Haahhh satu bulan ini akan menjadi bulan puasa terkeren yang pernah aku jalani. Selamat berpuasa untuk teman-teman yang menjalankan. Tetap semangat!!

Saturday, 7 July 2012

New Home

Hai apa kabar? Saya baru sempat menulis lagi sekarang. Saya pernah berjanji akan membuat tulisan tentang perjalanan saya ke San Francisco (Mulai dari pengalaman terbang sendirian sampai menginjakkan kaki di San Francisco) tapi saya mungkin hanya bisa sharing sedikit perasaan saat pertama kali menginjakkan kaki disini. Saya sampai kurang lebih 5 hari yang lalu, yaitu pada tanggal 2 juli 2012 pukul 9:30 AM waktu setempat, dan berhasil menghirup udara segar dan angin yang dingin San Francisco sekitar pukul 10 pagi. Jadi hanya sekitar setengah jam saya melewati imigrasi, baggage claim, dan final security check. Cepat kan? Sangat jauh berbeda dari bayangan saya - yang mungkin akan memasuki secondary check dkk yang pasti terdengar menyeramkan saat kalian update di grup atau dari PDO. Tapi sebenarnya itu bagus untuk membuat kalian benar-benar siap menghadapi situasi yang mungkin akan terjadi. Saat travel sendirian pun sangat jauh dari bayangan saya yang akan sangat membingungkan (secara blm pernah naik pesawat keluar negri, baru pas PDO aja) CCIP participant 2011 told me that. Kamu malah bakal enjoy deh kalo pergi sendirian, trust me it's gonna be so great! Ngerasain tidur di airport dan talked to stranger dll.

Anyway, setelah sampai di bandara, saya tidak langsung menemukan orang yang jemput, which was our assistant of PC - Tay. Jadi saya sempet ngarol ngidul kemana-mana, takut mereka meninggalkan saya. Sempet telpon ke PC Ken tapi dia tidak ada di tempat. Beberapa menit saya habiskan untuk mencari-cari mereka (padahal harusnya gue yang dicari kan) dan yak panikisme melanda. Lalu saya memutuskan untuk duduk sebentar untuk ol, eh tapi tidak lama kemudian Tay datang dengan name tagnya "Muhammad Mahdy, City college of San Francisco"

Setelah itu kamu harus menunggu 2 orang lainnya dari Brazil yang belum datang. Setelah lengkap semua, kami lalu naik taksi menuju Parkmerced Apartment at 19th ave. Selama perjalanan gw ga bisa berhenti noleh kanan kiri, dan rahang ga bisa menutup. I'm sure that you know why. San Francisco is sooo beautiful. Terharu banget bisa ada disini, kemarin masih ada di Jakarta, menghadapi kegalauan hari demi hari. And after that day you might find yourself become so mellow and there is the first shock you might feel. Just contact family or any person you love and ask them to tell you that you did a great job here..and you'll be fine

sayangnya batre kamera n hp mati semua, jadi g bisa foto2 di bandara :((



Saturday, 30 June 2012

Counting Down & Isolating

From : Your friend

Di post ini sebenarnya sudah ada tulisan tentang perasaan yang akan aku ceritakan. But you know what? I think I'm gonna keep this just for me. Kalian akan merasakannya sendiri nanti, dan saranku adalah, simpan saja yang satu ini untuk diri sendiri. Asingkan diri kalian sejenak dari teman, sahabat, kekasih, bahkan keluarga. Cause this is all about you. Just you. Luangkan kesendirian untuk sekedar bersyukur kepada Tuhan bahwa kamu telah diciptakan, dan berterima kasih lah atas semua berkah yang telah diberikan - yang bahkan tidak kamu sadari. 


To :

All CCIP students who's going to leave all your life until this moment because tomorrow you're a completely different person

Saturday, 16 June 2012

Sunset On San Francisco

For the last couple days I was always wondering how is the sunset on San Francisco would look like.
It must be very beautiful with the mountains and beaches in all directions.

My sand clock is running so slow, I can almost count every grain that slides down to the bottom, and the sounds that rubbing into my eardrum transfer thousands of imagination about the colors that I will meet, and the smiles which I never seen before.

Every grain of these sands creates a worry about the creepy air plane machine sound, the big airport that I'm afraid I will lose my bag or miss my flight.
About the big people that talks strangely and walks so fast.

But the next sand grain keeps me calm somehow.
As calm as when I see my mother smiles and perhaps a little tears, a wise wisdom from my father, and a big hug from my sister.

Another grains I see makes me feel strong because a love is waiting for me patiently.
It is very nice, simple and sweet talk that we made.
For the negativity that we have each other, let the distance bond to one another.

Then I see my reflection when a bright little sand slides down to the narrow glass.
I see me walking in limp, fall to the ground, get hurt, and don't get back up for a while.
But when a breeze sweeps my face, I see sunset on San Francisco.
It pull me up to my own feet. heals my wound, and makes me run.
I run towards the sunset.
On San Francisco



Monday, 30 April 2012

I GOT IT!!!

Gw ngga bisa merangkai kata-kata manis di post ini seperti puisi-puisi atau post yang lainnya. Cuma bisa bilang "Alhamdulillah" tanpa henti, dan senyum paling manis dan lepas yang pernah terukir. Penantian dan cita-cita selama ini tercapai - Mendapat beasiswa CCIP melalui program Fulbright dari US Department of State. Bagi beberapa orang mungkin ini tidak terlalu mewah, secara ini hanya program non degree 1 tahun. Tapi bagi seorang anak kampung yang bapaknya hanya seorang sopir lulusan STM, dan ibunya hanya seorang guru ngaji lulusan SMA, ini berarti banyak bagiku. Bagi seorang anak yang diremehkan oleh keluarga sendiri, ini sangat berarti. Maaf kalau saya agak emosional, sehingga ngga bener penulisannya. Kadang pake "gw" "aku" "saya" but it doesn't matter. Disini saya akan share tentang betapa senangnya ketika membaca email yang masuk malam ini.




Dan kata-kata favorit yang gw suka adalah ketika membaca
"Dear Mr. Mahdy,

Congratulations! I am extremely pleased to inform you that you have been officially selected to participate in Community College Initiative Program in the United States commencing with the Fall 2012 academic term."

that's it, itu cukup untuk membuat gw menutup mulut seperti wanita dan terharu sampai menitikan air mata. Berawal dari grup nominee CCIP 2012 yang bilang bahwa tahun ini ada kemungkinan yang sudah sampai ke tahap bikin passport dan MCU tetep bisa ga lolos karena kuota. Dan lengkaplah penderitaan saya sore itu ketika beberapa nominee mengungkapkan kebahagiaan mereka setelah mendapat email. Dan setelah gw cek berkali-kali email, pemberitahuan itu tak kunjung datang. Yaps, kegalauan tak bisa dihindari. I felt so down and I think it would be very hard to get back up if I don't get this scholarship after all I've done and sacrificed. Dan selama perjalanan pulang, Sholawat tak henti-hentinya kupanjatkan. Setelah sampai di rumah, gw langsung cium tangan nyokap dan ceritain semua bahwa gw g tau bakal gimana kalo gagal, dan gw minta doa. Dan Allah Maha Mendengar, setelah gw dengan lemes balik ke kamar dan ngecek email lagi. *Criingg* email sakti itu muncul. Masuk jam 17:26 WIB. Pas banget sehabis sholat Ashar dan berdoa karena perasaan galau yang semakin besar. Dan baru saya lihat sekitar jam 8 malam. I couldn't ask for more.

Mudah-mudahan next time akan ada post seputar CCIP 2012 untuk membantu teman-teman di program berikutnya. Karena posting-posting seputar CCIP 2011 juga sangat membantu gw banget untuk tau perasaan mereka juga seputar perjalanan mendapatkan beasiswa ini.

Last word : "DREAM IT, AND YOU WILL GET IT."

Cheers,


Sunday, 15 January 2012

The Last Writing I'm Wasting on You

Suddenly the sound of a burning cigarette flow into my ear. It's been a year and two days since I met you. I'm listening the last song I'm wasting on you. I want to hear the sound of a burning cigarette again, so I smoke again. Pull a bold white poison smoke into my lungs. And I'm still wondering what kind of love you gave me. But it's not a matter anymore. I have deleted all visible memory of you. But not in my head. It's permanently written. Like any other memory I have. It planted like a root, but not grow any bigger. I remember your face, your smile and laugh, but not what you laugh at. I remember what you said, but not what conversation we had. You made me wait for almost two hours in a rainy night. You made me walk so far, because you suddenly cancel our appointment. You made me an alien in a crowded. You made me quit smoking and then start again. You made me finish my first story (Thanks so much). You made me wise but childish as well. You made me really mad but very happy some times. You... made me writing. Maybe you don't know how bad you tortured me. But strange, I enjoyed it. Is this what you want? Bravo, to make someone love you like this. Such a beautiful little evil. I don't hate you. I'm just cursing sometime. Let me tell you something, don't make a man waiting in the dark if you're not willing to give him light. Don't make a cat waiting in front of a plate if you're not willing to give a milk. Don't say you miss me and want to meet if you're not willing to meet me. Just be honest. Maybe it hurt, but it is the right way. Goddamn, you're so lovely.

Maria Berlian Paska. a sweet Catholic girl I met. a beautiful Catholic girl I love. The only child of a happy family. Make your parents proud of you, ey. I'm proud of you. You really a strong woman, you should know that. Achieve all yor dreams, Berlian. Don't fall in love too easy. I don't want you to get hurt. Marry a real man. It's your year, right? But don't push too hard. And now let me move on to achieve my goals. I'm sorry but I have to erase you

You'd be the first Catholic girl I love. And will be the last. I promise you. I promise me. I promise God. I'll be very glad if you read this. If anyone read this, don't mock me, bastard. You never know

Still listening "the last song I'm wasting on you" this is the last writing I'm wasting on you