Monday, 10 May 2010

Beda Buaian

sepertinya sosok dijendela waktu itu telah mengubah hidupku total

tidak lama ia menatap

namun mengubah pandanganku tentang kehidupan

tidak banyak ia terlihat

namun sosoknya sekarang menjadi bongkahan es

tidak berperasaan

tidak lantang ucapannya

namun membuatku selalu terbungkam dihadapan orang2

sekarang malam menjadi semakin kelam

laut menjadi semakin asin

matahari semakin panas

dan aku semakin jauh dari diriku

sekarang dia selalu berbisik setiap malam

dan aku seperti setan yang terbakar dibuatnya

dan senanglah setan2

aku hanya bersembunyi selalu

mataku tajam

namun tak lebih tajam pisau kue dimata orang2

suaraku semakin besar

namun tak lebih besar suara malam ditelinga ditelinga orang2

dia menyemangatiku dengan keputus asaan

memandikanku dengan kekeringan

dia memberi makan dengan seleranya

menyelimuti dengan selimutnya

melalui jendela itu

dia melihatku berubah

dan dia terkejut

dan melakukan segala cara untuk mencegahnya

membuatku menjadi setan itu

kata orang dia malaikat

Saturday, 1 May 2010

Dia Itu

Dia memberikannya makanan enak
Dia tertawa kekenyangan

Kau memberikannya setengah nasi dan setengah gelas
Dia tertawa mengercit

Dia membawanya ke surga dunia
Dia memeluknya disana

Kau membawanya ke belakang jalan raya
Dia menutupi kepalanya

Mereka tidur diatas nirwana
Kalian tidur dibawah neraka

Kau pasti mengaguminya bertingkat - tingkat
Kecantikan yang sempurna
Pegasus yang berlari-lari kecil di lembah matahari
Kepintaran tiada tara
Tiada taraan nya

Buah yang matang untuk lahir yang berirama
Untuk napas yang cepat
Dan keringat yang lengket

Asa mu tergradasi seiring waktu
Hanya nyanyian mesra tawa menemani mu

Membuat asa mu hilang
Dan mata mu semakin mengecil
Sementara pupilmu semakin kabur

Dan khayalan terakhir membuai sesaat
Bahwa dia akan berpaling

Ke setengah nasi dan gelas
Belakang jalan raya
Dan rela kau bawa ke neraka sebentar

Dan kau pun mati
Melihatnya tidur dengan kupu-kupu
Beterbangan menyebar sari

Kau berjanji dengan nama tuhanmu ketika sosok mu dan dia semakin abu-abu
Tertunduk tajam dan lehermu tumpul

Kupu-kupu itu kau usir sehingga bertebaran sari-sarinya
Dan dia bermandikan itu
Kaget melihat yang abu-abu kembali berwarna
Dan yang berwarna menjadi menyilaukan

Seperti menatap matahari
Sayangnya matanya tidak seperti nenek itu
Yang kuat menatap gerhana matahari 15 januari
Sebenarnya karena sudah rusak

Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang
Sementara dia tersilaukan?

Jangan bertindak bagai durjana
Dan dia baru sadar telah diperkosa
Dan membuatnya menangis?

Aku yakin kau adalah pangeran berharga diri tinggi
Dan kau mengajaknya makan setengah nasi dan minum
Dan dia tertawa kekenyangan
Lalu mengajaknya ke belakang jalan raya
Dan dia justru merangkul tanganmu
Menyenderkan kepalanya kepundakmu
Kau tak akan mengajaknya ke neraka lagi kan?

Berkuda lah saja ke dunia
Disana ada daratan yang sangat tinggi di ujungnya
Dengan suara yang sangat sejuk
Lalu ke daratan yang dikelilingi oleh air yang biru
Dan angin yang kencang
Membuat roknya seakan berpindah menjadi baju

Cepatlah sebelum terlambat
Minta kepada tuhanmu!

Tidurlah kalian dengan mesra
Setan pun tak akan mengganggu dan menggoda
Karena kalian terlalu konsentrasi menatap satu sama lain
Dan berbicara dengan mata
Dan surat yang kalian saling kirim

Ah sudah terlambat
Kau sudah sadar sekarang
Dia tidak mau bersamamu
Kau terkutuk
Tapi dia memberikan sesuatu
Dia memberikan cinta sebenarnya
Dia memotivasi mu!

Monday, 19 April 2010

Check Point

"bukan berarti aku malas." Pembenaran langsung terucap bagitu refleks ketika aku melihat blog-ku yang sudah sangat lama tak terjamah, bahkan oleh pemiliknya sendiri. Apa boleh buat, sekarang aku sedang mengumpulkan uang untuk mendapatkan fasilitas yang lebih terpercaya yang bisa memudahkanku mengakses blog-ku lagi. Jadi ya perlu waktu. Sampai saat itu tiba, aku hanya bengong-bengong menyaksiskan ide-ide dan inspirasi-inspirasi datang dan pergi tanpa bisa kubujuk agar tinggal sebentar sampai saat aku dapat memberikan mereka tempat yang indah disini.

Mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi

Sunday, 28 March 2010

"ZIIP" suara mulut terjahit

Ya Allah SWT

Apa motivasi Mu menciptakan ku?

kenapa aku begitu kaku?
kenapa kau hanya memberiku satu lidah?
pendek kecil, dan hitam
sehingga tak banyak kata-kata yang dapat ku ucapkan
tak banyak syukur ku panjatkan
melainkan maki dan caci kuhujatkan

kenapa kau jarak-kan lidah dari hatiku?
sehingga tak panjang doa yang kupanjatkan
tak tenang bathin merenungkan
tapi dendam dan iri tak terelak-an

hatiku ingin sekali memuntahkan semuanya
tapi mengapa tak bisa??

Mengapa tak kau biarkan aku membagi beban hidup dengan mudah

Aku bukan nabi kan?

Aku bahkan tak tau bagaimana diriku?
Adakah yang bisa menjawab selain Kau?

Biarkanlah kucoba jawab sendiri saja

Sekarang aku sangat lelah
Aku akan istirahat sejenak
dan bertanya beberapa lagi setelahnya

Monday, 22 March 2010

Mencintai sayang, Menyayangi cinta

Sepasang muda-mudi saling melontar gombal
Aku mencintaimu
Aku menyayangimu
Salah satu dari mereka tak begitu suka dengan kata "sayang"
Dan yang satu lagi tidak familiar dengan kata "cinta"

Dan Aku menengahi
Tidak ada yang salah dengan kata "sayang"
dan apa yang aneh dengan kata "cinta"
Seharusnya tidak ada

Tapi disini sepertinya orang lebih suka dengan kata "sayang"
analisa ku
Kasihan sekali "cinta"
Padahal dia lebih dulu ada
Lebih kuat terdengarnya
Tapi lidah kami kaku mengucapnya

Aku lebih cinta daripada sayang


Cinta...
Raja tak bermahkota

Thursday, 18 March 2010

Anak-anak Surga Diatas Kursi Roda

Terasa hangat ketika di dekat mu. Mereka adalah malaikat kecil dengan
senyum yang dapat membuatku menagis saat melihatnya
sekaligus tersenyum bahagia dibuatnya
Dengan hentakan syaraf-syaraf kaki yang tak bisa dikontrol oleh otak,
sehingga terkesan mengamuk. Padahal mereka sedang bahagia hatinya.
Hanya perlu waktu beberapa detik untuk mengetahuinya,
dan membuatku tidak ingin meninggalkannya pergi.
Tak ingin melihatnya tersenyum terus dan tertawa terus
sementara wajah itu dan suara itu semakin kecil dan menjauh.

Mereka tidak bisa mengejarku.
Kursi roda mereka tidak cukup cepat untuk itu,
kaki mereka terlalu kecil dan kaku, dan tangannya...
untuk tepuk tangan saja mereka tak mampu. Tapi aku juga tak mampu.
Untuk tertawa seindah malaikat-malaikat itu.
Aku tak mampu tersenyum bahagia, se-bahagia anak-anak itu.
Padahal aku dapat berlari kencang. Aku dapat betepuk tangan
dengan lantang.

Mereka membuat hatiku terbelah. Aku ingin selalu melindungi mereka,
dan kalian. seakan aku adalah kakak yang selalu melindungi adik-adiknya.
Karena rasa cinta itu langsung datang, seperti jarak antara mimpi dan kenyataan,
saat kita terbangun dari mimpi itu, begitu dekat,
sehingga kita baru tersadar bahwa itu hanyalah mimpi.
Tapi tidak dengan kecepatan cinta ku dengan mereka, dengan kalian.

Sedih sekali saat melihat kalian rela duduk berjam-jam, hanya untuk
memberikan pertolongan kepadaku, padahal aku yang lebih tak layak
mendapat pertolongan. Sangat ironis. Sedih sekali melihat kalian berpanas-panasan,
sehingga telat makan, dan semakin sedih saat melihat kalian makan dengan lahapnya,
hanya dengan telur rebus dan bihun goreng.
Sedih sekali melihat tetesan keringat yang mengalir di wajah kalian,
dan kalian tetap tertawa. Seperti biasanya, dan itu membunuhku.

Kepolosannya tak layak untuk berada di bumi yang munafik ini.
Aku tak akan menyalahkan Sang pencipta. Karena Dia menciptakanmu dengan kekurangan, namun kekurangan itu diselimuti oleh kelebihan yang tak dimiliki orang lain.
Orang lain rela menatap kalian berjam-jam, orang lain pasti mau
memberikan tempat duduknya, saat melihat kalian berdiri dengan susah payah.
Orang lain mau mendengarkan kalian berbicara, walaupun harus
berusaha keras memahaminya. Orang lain itu adalah aku.

Semangat kalian begitu besar untuk dapat sembuh, berjalan,
dan berbicara layaknya orang normal lain.
Semangatku begitu besar untuk merusak diriku yang sudah sempurna ini.
Hatiku terbebas saat bersama kalian,
terima kasih untuk adik-adik ku, Maria, Heidy, Yulia, Rahmat, Danu, Howard,
dan gadis cantik yang sayang sekali namanya kulupakan,
namun tidak dengan wajah dan tawa cantikmu.
Terima kasih karena telah tertawa untuk ku, ceria untuk ku,
bercanda denganku.
Moment itu sulit untuk terulang lagi,
tapi huruf-huruf ini akan membawaku kembali kesana, saat kita bersama.

Sunday, 7 March 2010

Hanya A-Z. Apa yang sulit?

26 Huruf

Jam : 1:01 AM
Musik : Epica - Sancta Terra
Rokok : Marlboro, satu batang saja
Jari : Sepuluh, dan kecil-kecil
Hentakan kaki

Berencana membuat satu puisi dini hari ini, tapi seperti biasanya, sinar radiasi komputer ini, keyboard ini terlalu mesra menari dengan jemariku, bagaikan seorang pangeran yang berusaha mendapatkan hati sang puteri raja, dengan tariannya. Seakan-akan orang-orang yang melihat menyangka sang pangeran hanya mengincar harta dan tahta, karena begitu tampan pangeran itu, dan puteri itu tidak, walaupun tidak jelek. Mata ini malu malu untuk melihat ke atas untuk mencari inspirasi. Dan otak ini terlalu luas untuk dijelajahi sendiri. Terlalu luas, banyak, dan rumit untuk mencari sang puisi yang tersesat di dalam syaraf-syarafku. Yang harus kulakukan hanya merangkai huruf-huruf saja. Aku rasa angka 26 tidak terlalu banyak dibanding banyaknya waktu yang telah kuhabiskan - untuk hari ini saja.

Air
Bunga
Cerialah
Dengarkan mereka yang teriak
Era baru
Fitnah
Geram
Hari-hari yang penuh misteri
Ingat
Jerami
Kulitnya yang halus
Lusuh
Maukah
Naik ke bukit itu
Opera yang menyeramkan
Phantom of the opera
Qiblat
Romantis
Sekali saja
Tunduk
Utara
Vera
Waktunya
X - Tempat kita bertemu
Yakinlah
Ziarah