Resiko yang pasti dihadapi ketika menjadi pelajar internasional adalah bertemu dengan banyak perbedaan dari perilaku sosial warga negara lain. Tinggal pilih, mau sabar menghadapi semua perbedaan sifat mereka - membuat kita kadang berpikir kenapa harus gue terus yang memaklumi dan mengalah, atau mau menunjukkan juga eksistensi yang hasilnya pasti benturan benturan prinsip yang bisa bikin kita malah bermusuhan.
1 bulan lebih 2 hari aku jauh dari keluarga, teman-teman, dan kehidupan ideal. Masih ada 10 bulan lagi untuk dilewati. Tapi hampir 2 minggu ini aku tidak pernah ngomong sama temen "P" yang tinggal 1 rumah dan sahur bareng! Ceritanya berakumulasi, dan puncaknya adalah ketika dia tidak suka karena aku menasehatinya. Menurut gue doi ngga punya tata krama atau beda dengan nilai ideal gue. Menurutnya dia bisa memakai barang-barang gue tanpa harus minta izin terlebih dahulu. Menurutnya karena kita teman dan keluarga. Menurutku dia kurang mempunyai sopan santun. Seenaknya pake-pake barang orang dan bisa-bisanya bawa-bawa "karena temen dan seperti keluarga." Padahal dia hanya ngomong cuma kalau mau minjem barang-barang gue aja.
Konflik ini puncaknya ketika aku sedang tidur, dan ketika bangun tiba-tiba dia udah ada di kamar, di sebelahku, menggunakan laptopku. Langsung lah aku tanya "What are you doing? Did you have my permission to use my laptop?" dan sinar muka dia menunjukkan kalau dia kaget dan tau kalau salah, tapi dia masih berkelit "I just checking my blah blah blah." dan I don't care, man, dalam hatiku. Dia bilang "I thought you were sleeping, so I just use your laptop." WHAT?? aku benar-benar ga nyangka dia masih bisa-bisanya ngomong kaya gitu. Terus aku bales "So you can use everything in my room when I'm sleeping? This is my personal thing, you have to ask if you want to use my laptop. Did I ever said 'no' if you want to use my laptop?" Lalu dia "OK OK blah blah blah" dan melengos dengan pembelaan-pembelaan yang gue ga inget. No "Sorry" atau lainnya.
Lalu aku merasa ini saatnya meluruskan hal ini, karena aku sudah menahan kesabaran atas perbedaan ini cukup lama, dengan kelakuan-kelakuannya yang cukup oke untuk membuat terperanga. Entah apakah kelakuan orang yang satu ini adalah representasi dari seluruh kelakuan warga negara seperti dia. Banyak keanehan yang sudah dibuatnya, tapi yang paling aku ingat adalah ketika pada suatu hari dia masuk ke kamarku dan ingin meminjam laptop. Saat itu bertepatan dengan waktu sholatku dan aku bilang aku akan segera sholat. Padahal dia tau syarat sholat adalah harus berwudhu dulu yang tidak akan memakan waktu seharian, paling 2 menit, tapi dia tetap kukuh untuk meminjam sebentar. Hubungan antara laptop dan sholatku adalah aku sholat di tempat aku biasa menggunakan laptop. Jadi ketika akan sholat, space itu harus dikosongkan, dan tidak boleh ada orang menggunakan laptop untuk keperluan apapun. Dan ketika aku selesai wudhu dan masuk kamar, dia masih asyik dengan dunianya dan tidak menghiraukanku yang sudah rapih dan siap untuk sholat. Aku sengaja tidak ngomong, tapi dia tidak sadar-sadar juga. Lalu akhirnya aku ngomong "Ok man, I'm gonna have my prayer now." dan lalu dia bangun dan dengan santainya berusaha membawa laptopku. Kejadian itu kalau di slow motion lucu juga, dan kurang lebih adegannya seperti ini : Bangun, bergeser ke kiri dan memasukkan bangku ke dalam meja, melihat-lihat sisi laptop, mengangkat sedikit, lalu "YAK" mencabut kabel charger saudara-saudara. Lalu matilah laptopku karena aku tidak pernah menggunakan baterai. Lalu kami berdua sempat berada dalam awkward moment beberapa saat. Otakku mencerna kejadian yang ada di depan mata dan memberikan informasi ke data yang tersimpan selama hidup ini - apakah ada kejadian sama yang pernah terjadi sebelumnya seperti ini. Setelah otak memberikan informasi bahwa ini adalah kejadian pertama kali, lalu dia menyimpannya dalam folder "langka" di otak, lalu langkah berikutnya adalah merespon kejadian "langka" tersebut dengan jawaban yang jujur apa adanya "What are you doing??" Maksudnya disini adalah 2 pertanyaan - kenapa dia mencabut kabel charger, dan kedua adalah siapa yang suruh (mau ngapain) dia bawa laptop gue?? Lalu dengan perlahan dia menaruh laptopku kembali ke meja dan mulai melancarkan aksi defensif dengan menunjukkan keheranan dan keluguan dengan ekspresi wajahnya lalu bertanya balik "You're charging?" *facepalm "YES," jawabku. Walaupun sebenarnya pertanyaan itu tdak harus dijawab. Lalu dia mundur perlahan sambil tetap terlihat bingung dan tidak tau harus melakukan apa. Sebenarnya kata "Sorry" bisa menyelamatkannya dari keadaan canggung ini, tapi secara kata itu tidak ada dalam kamus kehidupan orang ini sepertinya, jadi yah mau bilang apa. Karena sudah terlanjur sebal dan heran juga, aku akhirnya memutuskan untuk langsung sholat tanpa mengindahkan dia yang masih ada di belakangku dan berdiri mematung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menyadari bahwa aku tidak meresponnya - dia lalu pergi.
Temanku yang satu ini nampaknya juga memiliki keistimewaan lainnya. Dari analisa yang aku buat setelah waktu itu melakukan obrolan cukup panjang dengannya adalah dia tipe orang yang merasa selalu benar. Hal itu didapat ketika kita berbicara, dia banyak sekali menggunakan kata "No" dan meneruskan dengan opininya, dan kadang lucu juga mendengarnya, tapi aku membenarkan saja untuk menghindari perdebatan yang lebih sengit namun kurang penting.
Melalui pertimbangan-pertimbangan diatas akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengannya untuk meluruskan hal yang telah terjadi - bahwa dengan alasan apapun dia tidak bisa seenaknya memakai barang orang lain tanpa seizin yang punya. Tapi kalian pasti sudah bisa menduga, begitu aku masuk kamarnya dan mulai berusaha berbicara dengannya, dia seperti menolak dan mengatakan "Ok no need to talk about this, it's not a big deal," dengan ekspresi kesal yang dibalut senyum sehingga terlihat aneh. If it's not a big deal, you can do any more big deal to me. Maybe next time he can take my laptop and say it's not a big deal. Tolak menolak pembicaraan terjadi beberapa kali dengan detil yang tidak bisa diceritakan karena intinya menggunakan omongan yang hampir sama.
Karena kejadian ini sudah lama, jadi aku tidak begitu ingat detilnya, dan sebaiknya tidak usah diingat-ingat lagi, karena banyak hal yang lebih penting yang harus diingat selain mengingat ini -___- Dan ini juga sebagai pebelajaran bagiku bahwa dunia ini luas, dan Tuhan menciptakannya untuk kita agar mengambil pelajaran dari hal-hal yang kita temui. Ini sebagai proses pencapaian tingkat spiritual juga, bagaimana kita berhadapan dengan perbedaan namun semua bisa berjalan baik-baik saja. Seminggu lagi aku akan merayakan idul fitri disini, dan kami masih 'marahan' well sebenarnya akhir-akhir ini lebih baik dibanding awal-awal. Ahh biar waktu yang menyembuhkan, and guess what, beberapa hari ini penuh dengan cobaan tapi aku lebih bisa berbesar hati untuk menerimanya. Karena kami semua disini masih menyesuaikan.
Tulisan ini mungkin terlihat tidak penting, tapi cukup 1 tahun kedepan mungkin aku akan senyum-senyum sendiri ketika membaca ini, terlebih andai tulisan ini ada di buku kompilasi petualangan CCIP 2012
Kumpulan kata yang terjebak dalam rasa bingung,marah,kecewa,sedih,bahagia yang tak dapat keluar dari lidah yang kelu
Sunday, 12 August 2012
Saturday, 21 July 2012
Hari Pertama Puasa di San Francisco
Menunggu jam-jam menjelang matahari terbenam di San Francisco aku akan menceritakan pengalaman pertama kali menjalankan ibadah puasa di negeri asing. Kalau banyak orang di Jakarta mengeluh karena jam 6 sore datang sangat lama, atau bahkan membatalkan puasanya hanya karena sedikit haus atau lapar, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka jika mengetahui kalau pukul 8:30 malam adalah waktu berbuka puasaku disini. Kurang lebih 16 jam 30 menit aku harus menahan lapar & haus plus cobaan sebenarnya - menjadi minoritas. Tapi mungkin disini tidak akan terlalu merasa haus karena udara yang lembab dan angin yang dingin. Yah semua negara punya kekurangan dan kelebihan.
Setelah sholat subuh pukul 4:36 waktu setempat, aku hanya bisa tidur sekitar 2 jam karena pada pukul 6:30 aku harus bangun karena hari ini adalah hari pertama aku melakukan Volunteer sekitar 4 jam. Selama setahun program ini berjalan, kami (CCI students) diwajibkan melakukan volunteer 100 jam. First day of fasting, first day of volunteering. Kegiatan volunteer dimulai sekitar pukul 9 di kampus. Hari ini aku membantu international staff untuk melakukan orientasi kepada mahasiswa-mahasiswa international yang akan mulai Fall Academic bulan Agustus ini. Kegiatannya cukup mudah. Kami disuruh untuk membantu para Mahasiswa untuk registrasi absen orientasi, dan siang harinya membantu membagikan makan siang. You must know the hardest part. Yaps saat jam makan siang. Ketika semua orang dengan santainya menikmati ayam goreng, bihun, salad, snack, dan cola sambil tertawa-tawa. Tapi aku malah tersenyum dan dalam hati berkata "Yes akhirnya bisa merasakan menjadi minoritas!" It's kinda cool for me...
"Inilah kurang lebih suasana di cafetaria saat makan siang."
Kami selesai volunteering pukul 1 siang karena harus masuk kelas. Kegiatan orientasi selesai pada pukul 6 sore. Beberapa hari ini aku selalu mengantuk saat di kelas, dan tadi ditambah dengan sakit kepala, maka lengkaplah sudah perjuangan hari pertama berpuasa ini.
Pukul 3 pagi aku harus bangun sendiri, tidak ada mama yang biasa mengetuk pintu, suara-suara di dapur atau acara televisi yang membangunkanku untuk sahur. Hanya niat yang tulus dan alarm yang keras yang membangunkanku. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai karena semua makanan harus disiapkan sendiri dalam waktu setengah jam, dan setengah jam lagi untuk makan sahur. Di apartemenku ada tiga orang yang menjalankan ibadah puasa (semoga kita semua konsisten) satu bernama Ejaz dari Pakistan, dan Jon dari Tajikistan. Tapi sepertinya Jon mempunya waktu berbeda dalam menjalankan ibadah sahur, jadi sepertinya kita tidak akan makan sahur bersama.
Tidak ada banyak bahan yang bisa dimasak, dan tidak ada waktu untuk memasak sesuatu yang akan memakan waktu lama. Hanya dengan telur, ayam , ikan, udang olahan, kentang dan kacang panjang, dan nasi yang banyak sepertinya akan menjadi menu sahurku sebulan ini. Dengan susu dan madu sepertinya sudah lebih dari cukup.
Sahur ini dilalui dengan tenang, tanpa hingar bingar televisi yang memutarkan beragam acara untuk menemani sahur. Dan sahur ini ditambah dengan mengetahui menu sahur teman Pakistanku. Dia hanya makan beberapa roti dengan madu dan semacam kacang almond, dan pineapple jus.
Setelah sholat subuh pukul 4:36 waktu setempat, aku hanya bisa tidur sekitar 2 jam karena pada pukul 6:30 aku harus bangun karena hari ini adalah hari pertama aku melakukan Volunteer sekitar 4 jam. Selama setahun program ini berjalan, kami (CCI students) diwajibkan melakukan volunteer 100 jam. First day of fasting, first day of volunteering. Kegiatan volunteer dimulai sekitar pukul 9 di kampus. Hari ini aku membantu international staff untuk melakukan orientasi kepada mahasiswa-mahasiswa international yang akan mulai Fall Academic bulan Agustus ini. Kegiatannya cukup mudah. Kami disuruh untuk membantu para Mahasiswa untuk registrasi absen orientasi, dan siang harinya membantu membagikan makan siang. You must know the hardest part. Yaps saat jam makan siang. Ketika semua orang dengan santainya menikmati ayam goreng, bihun, salad, snack, dan cola sambil tertawa-tawa. Tapi aku malah tersenyum dan dalam hati berkata "Yes akhirnya bisa merasakan menjadi minoritas!" It's kinda cool for me...
"Saat orientasi. Aku harus mengikuti acara ini juga karena ada informasi-informasi yang akan dibutuhkan selama masa akademik nanti berjalan."
"Inilah kurang lebih suasana di cafetaria saat makan siang."
Kami selesai volunteering pukul 1 siang karena harus masuk kelas. Kegiatan orientasi selesai pada pukul 6 sore. Beberapa hari ini aku selalu mengantuk saat di kelas, dan tadi ditambah dengan sakit kepala, maka lengkaplah sudah perjuangan hari pertama berpuasa ini.
Cobaan hari pertama bukanlah dari rasa lapar, tapi dari cobaan emosional yang timbul karena perbedaan karakter dan budaya. Perbedaan watak dan karakter dari teman-teman India dan Pakistan adalah cobaan terbesarku disini, dan mungkin tidak jauh berbeda dengan teman-teman lainnya (Agar CCIP berikutnya bisa siap-siap mental :p) Untuk cobaan budaya datang dari semua negara. Hari ini aku baru mengetahui kalau aku tidak bisa mengandalkan mereka untuk memahami statusku yang sedang berpuasa. Setelah kelas selesai, kami diminta untuk mengambil makanan yang tersisa dari lunch break tadi, dan lumayan banyak. Dan ternyata aku tidak kebagian daging ayam. Ketika aku mencoba untuk memberi pencerahan bahwa aku butuh daging untuk berbuka dan berpuasa nanti, mereka seperti tidak peduli dan tidak mau membagi ayam yang mereka dapat. Awalnya sedih juga sih rasanya mengetahui kalau aku benar-benar sendirian disini. Tapi inilah kenyataannya, dan aku hanya mendapat semacam mie dan brokoli-brokoli yang akan menjadi menu berbuka dan sahurku nanti.
Haahhh satu bulan ini akan menjadi bulan puasa terkeren yang pernah aku jalani. Selamat berpuasa untuk teman-teman yang menjalankan. Tetap semangat!!
Saturday, 7 July 2012
New Home
Hai apa kabar? Saya baru sempat menulis lagi sekarang. Saya pernah berjanji akan membuat tulisan tentang perjalanan saya ke San Francisco (Mulai dari pengalaman terbang sendirian sampai menginjakkan kaki di San Francisco) tapi saya mungkin hanya bisa sharing sedikit perasaan saat pertama kali menginjakkan kaki disini. Saya sampai kurang lebih 5 hari yang lalu, yaitu pada tanggal 2 juli 2012 pukul 9:30 AM waktu setempat, dan berhasil menghirup udara segar dan angin yang dingin San Francisco sekitar pukul 10 pagi. Jadi hanya sekitar setengah jam saya melewati imigrasi, baggage claim, dan final security check. Cepat kan? Sangat jauh berbeda dari bayangan saya - yang mungkin akan memasuki secondary check dkk yang pasti terdengar menyeramkan saat kalian update di grup atau dari PDO. Tapi sebenarnya itu bagus untuk membuat kalian benar-benar siap menghadapi situasi yang mungkin akan terjadi. Saat travel sendirian pun sangat jauh dari bayangan saya yang akan sangat membingungkan (secara blm pernah naik pesawat keluar negri, baru pas PDO aja) CCIP participant 2011 told me that. Kamu malah bakal enjoy deh kalo pergi sendirian, trust me it's gonna be so great! Ngerasain tidur di airport dan talked to stranger dll.
Anyway, setelah sampai di bandara, saya tidak langsung menemukan orang yang jemput, which was our assistant of PC - Tay. Jadi saya sempet ngarol ngidul kemana-mana, takut mereka meninggalkan saya. Sempet telpon ke PC Ken tapi dia tidak ada di tempat. Beberapa menit saya habiskan untuk mencari-cari mereka (padahal harusnya gue yang dicari kan) dan yak panikisme melanda. Lalu saya memutuskan untuk duduk sebentar untuk ol, eh tapi tidak lama kemudian Tay datang dengan name tagnya "Muhammad Mahdy, City college of San Francisco"
Setelah itu kamu harus menunggu 2 orang lainnya dari Brazil yang belum datang. Setelah lengkap semua, kami lalu naik taksi menuju Parkmerced Apartment at 19th ave. Selama perjalanan gw ga bisa berhenti noleh kanan kiri, dan rahang ga bisa menutup. I'm sure that you know why. San Francisco is sooo beautiful. Terharu banget bisa ada disini, kemarin masih ada di Jakarta, menghadapi kegalauan hari demi hari. And after that day you might find yourself become so mellow and there is the first shock you might feel. Just contact family or any person you love and ask them to tell you that you did a great job here..and you'll be fine
Anyway, setelah sampai di bandara, saya tidak langsung menemukan orang yang jemput, which was our assistant of PC - Tay. Jadi saya sempet ngarol ngidul kemana-mana, takut mereka meninggalkan saya. Sempet telpon ke PC Ken tapi dia tidak ada di tempat. Beberapa menit saya habiskan untuk mencari-cari mereka (padahal harusnya gue yang dicari kan) dan yak panikisme melanda. Lalu saya memutuskan untuk duduk sebentar untuk ol, eh tapi tidak lama kemudian Tay datang dengan name tagnya "Muhammad Mahdy, City college of San Francisco"
Setelah itu kamu harus menunggu 2 orang lainnya dari Brazil yang belum datang. Setelah lengkap semua, kami lalu naik taksi menuju Parkmerced Apartment at 19th ave. Selama perjalanan gw ga bisa berhenti noleh kanan kiri, dan rahang ga bisa menutup. I'm sure that you know why. San Francisco is sooo beautiful. Terharu banget bisa ada disini, kemarin masih ada di Jakarta, menghadapi kegalauan hari demi hari. And after that day you might find yourself become so mellow and there is the first shock you might feel. Just contact family or any person you love and ask them to tell you that you did a great job here..and you'll be fine
| sayangnya batre kamera n hp mati semua, jadi g bisa foto2 di bandara :(( |
Saturday, 30 June 2012
Counting Down & Isolating
From : Your friend
Di post ini sebenarnya sudah ada tulisan tentang perasaan yang akan aku ceritakan. But you know what? I think I'm gonna keep this just for me. Kalian akan merasakannya sendiri nanti, dan saranku adalah, simpan saja yang satu ini untuk diri sendiri. Asingkan diri kalian sejenak dari teman, sahabat, kekasih, bahkan keluarga. Cause this is all about you. Just you. Luangkan kesendirian untuk sekedar bersyukur kepada Tuhan bahwa kamu telah diciptakan, dan berterima kasih lah atas semua berkah yang telah diberikan - yang bahkan tidak kamu sadari.
To :
All CCIP students who's going to leave all your life until this moment because tomorrow you're a completely different person
Thursday, 28 June 2012
Tanah Merah
Mereka yang terusir karena berbicara di belakang pemimpinnya
Menyebar fitnah ke seluruh penjuru dunia
Lalu pasukan berkuda mereka datang di saat yang tenang
Menjadikan padang pasir ini berubah menjadi lautan darah
Tak ada tembok yang bisa melindungi dari busur panah,
yang melesat bersama angin yang bertiup dari segala arah
Setelahnya terlihat wajah-wajah tergantung tanpa sinar mata
Sungguh pengumpat-pengumpat itu akan membayar apa yang telah mereka perbuat
Ceritakan hari ini kepada bayi-bayi yang terlindungi
Untuk semua perbuatan yang dilakukan ada balasan yang akan diberikan
Berdiri tegaklah untuk tiba giliran kita
Pembalasan dendam untuk setiap ayah yang terbantai
Untuk semua anak yang hidup dalam ketakutan
Begitu terasa saat malam datang tanpa suara
Dan siang pergi begitu cepat
Lalu langit dari kejauhan terlihat menyala-nyala
Kemudian teringat cerita sang pengelana:
"Hari ini akan datang ketika kau lihat hujan api"
"Maka peluklah kekasihmu erat-erat"
"Ini mungkin hari terakhir kita, maka peluklah aku dengan erat"
Pasukan berjalan dalam bayangan malam
Datang saat mereka sedang menikmati santapan
Air mata dan jeritan wanita terasa sampai ke dalam hutan ketika suami mereka tak bernyawa
Tak ada jalan keluar karena hutan dan serigala-serigala pun membenci mereka
Mainkan musikmu untuk terakhir kalinya
Diantara tumpukan mayat yang terhina
Kemudian diberikan ampunan kepadamu untuk mengambil pelajaran
Maka begitulah cerita tentang tanah merah sampai ke kepada kalian
Dari seorang pengelana
Menyebar fitnah ke seluruh penjuru dunia
Lalu pasukan berkuda mereka datang di saat yang tenang
Menjadikan padang pasir ini berubah menjadi lautan darah
Tak ada tembok yang bisa melindungi dari busur panah,
yang melesat bersama angin yang bertiup dari segala arah
Setelahnya terlihat wajah-wajah tergantung tanpa sinar mata
Sungguh pengumpat-pengumpat itu akan membayar apa yang telah mereka perbuat
Ceritakan hari ini kepada bayi-bayi yang terlindungi
Untuk semua perbuatan yang dilakukan ada balasan yang akan diberikan
Berdiri tegaklah untuk tiba giliran kita
Pembalasan dendam untuk setiap ayah yang terbantai
Untuk semua anak yang hidup dalam ketakutan
Begitu terasa saat malam datang tanpa suara
Dan siang pergi begitu cepat
Lalu langit dari kejauhan terlihat menyala-nyala
Kemudian teringat cerita sang pengelana:
"Hari ini akan datang ketika kau lihat hujan api"
"Maka peluklah kekasihmu erat-erat"
"Ini mungkin hari terakhir kita, maka peluklah aku dengan erat"
Pasukan berjalan dalam bayangan malam
Datang saat mereka sedang menikmati santapan
Air mata dan jeritan wanita terasa sampai ke dalam hutan ketika suami mereka tak bernyawa
Tak ada jalan keluar karena hutan dan serigala-serigala pun membenci mereka
Mainkan musikmu untuk terakhir kalinya
Diantara tumpukan mayat yang terhina
Kemudian diberikan ampunan kepadamu untuk mengambil pelajaran
Maka begitulah cerita tentang tanah merah sampai ke kepada kalian
Dari seorang pengelana
Tuesday, 26 June 2012
Dari Pikiran Pagi
Pagi-pagi buta bapak sudah berpakaian rapih dan menyantap
sarapan secangkir kopi. Tak lelah setiap hari mengendarai sepeda tuanya menuju
kantor pos, untuk kemudian bersepeda lagi sepanjang hari demi mengantarkan
surat-surat atau kiriman paket ke rumah-rumah istri-istri yang suami-suaminya
berjuang di medan perang, atau yang anak-anaknya dalam perantauan.
Sementara Lestari
terlalu lelah melacurkan diri pada kemunafikan. Berpakaian seperti orang lain, bertingkah seperti orang lain, bahkan berbicara seperti orang lain. Setiap malam tidaklah mungkin dihabiskan tanpa menatap kosong ke jendela kamar yang tak jarang ditemani linangan air mata. Mengingat-ingat kalau bukan karena sang bunda yang selalu sakit hampir setiap bulan.
Hei, Tuhan itu Maha adil. Tengoklah sebentar ke seberang pabrik besi di tengah padang gersang. Abdullah berhasil meningkatkan derajat hidupnya, keluarganya, dan orang-orang di lingkungan sekitar yang dulu tidak punya pekerjaan kecuali mengais sisa perabotan. Dari merangkak tertatih-tatih sebagai pengurus Musholla kecil yang hidup dari kiriman makanan dan uang warga sekitar, namun kebesaran hati yang mulia seorang yatim piatu sejak kecil, dan dari tidak pernah absennya dia berjuang di jalan Allah, membawanya sedikit demi sedikit semakin dekat ke pintu rezeki yang sangat besar yang berukirkan namanya dengan indah. Ketika dia membuka pintu itu, cahaya masuk menyilaukan mata. Dan ketika dia membuka matanya, ruangan bersih dan tertata rapih beserta AC sejuk sekarang adalah tempat kerjanya.
Namun semua itu tidak akan bisa dicapai tanpa kejujuran. Karena kata Abdullah, "jujurlah seperti cermin"
Thursday, 21 June 2012
Chopin dan Cinta
memejamkan mata tak berarti menolak keindahan Sang pencipta
karena musik bukanlah produk neraka
aku ingin berdoa
agar semesta senantiasa menjaga
setiap keluarga
setiap kelembutan di seluruh tubuhmu diciptakan untuk
menenangkanku
agar setiap tetes air kehidupanku mengikis setiap batu di
dalam keras hatimu
Lalu terdengar alunan si pujangga piano
Fryderyc Franciszek Chopin
Lahir di desa Zelazowa Wola,
Dekat Warsawa,
Polandia
Yang tanpa malu menciptakan lantunan melankoli pada era romantis
Jari-jarinya bisa menidurkan rerumputan
Dan kita bisa bermesraan
Berdansa walau tak biasa
Menertawakan semua masalah yang ada
Dan ketika lagu ini mencapai puncaknya
Semua diam tanpa nada
Karena tidak akan ada yang lebih indah darinya
Kemudian kau sentuh kulitku
Seperti Chopin menyentuh tuts piano terakhirnya
Lalu aku menjadi piano dan kau pemilikku
Lakukan apa saja
Karena kau akan mencipta
Dan aku tak punya kuasa
Ketika Chopin tiada
Dirinya tetap hidup dalam nada
Chopin melakukan konser terakhirnya di Paris dan London
Subscribe to:
Posts (Atom)





