Thursday, 14 June 2018

Rutinitas Tahun ke Sembilan

Baru kali ini saya merasa tidak ada yang ingin disampaikan. Entahlah, mungkin karena diselubungi oleh kesibukan sehingga saya tidak berteman dengan imajinasi menulis lagi, karena biasanya saya juga bisa berprosa. Atau di Malam Takbiran ini memang tidak ada uneg-uneg.

Sebelumnya saya membaca tulisan tahun lalu, dan rasanya saya masih ada di sana. Dengan kekaguman yang sama terhadap Habib Ali, dan dengan ikhtiar yang sama yang Alhamdulillah sampai saat ini Allah masih mau mendengar hajat saya. Masih ingin mendengar saya berdoa.

Ada hal di Ramdan ini yang membuat saya merasa senang berada di dalamnya. Saya sadar Hanya berkat ramadan, berkat sahur, saya jadi bisa sholat subuh berjamaah terus. Hal yang luar biasa sulit dilakukan di luar bulan Ramadan

Lebaran tahun ini juga semakin berkurang. Kali ini tidak ada si Diah. Kami hanya bertiga. Diah sudah menjadi istri orang. Walaupun pas lebaran nanti akan ke rumah juga, namun sudah bukan merupakan bagian dari penghuni rumah ini. 

Yah begitulah, waktu terus berjalan. Kita tidak akan pernah tahu apa di hadapan kita. Hanya kematian itu pasti

Saturday, 7 April 2018

Mengunjungi Paman

Tahukah kamu mengapa ibumu menamaimu Mikail?

Semenjak ayahmu meninggal, ibumu sungguh merasa tak sanggup menghidupi bayinya. Bahkan untuk makannya sendiri pun sungguh sulit.

Orang berkata untuk mematikanmu. Hati ibu mana yang sanggup membunuh bayinya sendiri?

Dengan tekad yang kuat dia pergi dari tempat tinggalnya, mencoba untuk yang terakhir kalinya. Dia pergi menemuiku.

"Anak ini akan menjadi aliran rizki bagimu, Omega." Aku meyakinkan ibumu dan bersedia merawatmu.

Setelah menyusuimu hingga kau kenyang, dia hendak kembali ke kampung halamannya, walaupun berat, harus kulepas kepergian ibumu. Namun sungguh dirinya lah yang paling berat. Dia meninggalkanmu. Tak kusangka itu adalah air susu terakhir yang diberikan ibu kepada anaknya.

Sebelum pergi, ibumu berpesan untuk menamaimu Mikail. Nama Malaikat Allah. Bertugas memberi rizki untuk alam semesta.

Dimana ibuku dimakamkan, paman?

Akupun tidak tahu.

Sekarang waktunya sudah tiba untukmu. Doa ibumu dikabulkan. Namamu bergema di langit. Kau memang bukan malaikat, tapi kau adalah penerus rizki kepada orang-orang yang kesusahan.

Tapi tidak untuk ibuku.

Kata siapa? Kau adalah pemberi rizki terbesar untuk ibumu! Kau bisa melakukan itu.

Bagaimana caranya?

Berikan dia rizki dengan doamu yang tak terputus.



Pagi tadi aku berada di langit
kadang berada di dalam awan, pernah juga di atas awan
Hari ini aku menjejak kaki di atas tanah
Sebelum menjadi gelombang di laut
berlayar mengikuti riak ombak ombak kecil

Aku melihat semuanya
Megahnya gunung dan luasnya laut
Namun masih tak bisa menyaingi besarnya ego manusia
Sampaiku pada kesadaran diri
Apa gunanya?

Masih takkan berhenti perjalananku
Untuk menghidupi semuanya
Kecuali hawa nafsuku
Hanya dia yang tak bisa terpuaskan
Hingga tanah menutupi wajahku

Saturday, 24 June 2017

Kehadiran Dua Sosok

Setiap saya hendak menulis di malam takbiran ini, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri. Ini tulisan akan lw liat lagi di tahun-tahun mendatang. Ini tulisan buat lw. Mungkin dari sekian banyak tulisan yang saya beri label, label malam takbir ini yang paling penting sebagai milestone saya.

Allahuma Innaka 'Afuwwun Tuhibbul 'afwaa fa'afuanna sudah berganti menjadi Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilham. Dua dzikir ini rasanya beda banget. Langit rasanya beda. membingungkan, karena ini seperti merayakan kesedihan dan berduka atas suatu perayaan. ini paradox. ini tanda saya harus menulis.

Bulan Ramadan tahun ini tidak ada yang paling saya bersyukur karenanya kecuali dipertemukan dengan dua orang yang penting dan berjasa dalam ibadah ramadan saya. Dia adalah Al Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al Hamid. Kedua adalah Mayang Athira Degesniari. Dua orang yang ke sholihan - sholihah an nya menginspirasi saya untuk menjadi lbh baik

Syukur Alhamdulillah saya bisa diizinkan oleh Allah untuk dipertemukan dengan dua orang ini, walaupun yang satu tidak benar-benar ketemu, hanya melihatnya lewat channel youtube.

Al Habib Ali Zaenal Abidin saya nemu di YT. Dari awalnya setel2 dzikir atau bacaan qur'an sambil nemenin tidur, Habib Ali ini ada di suggested video, trus saya play ceramahnya. Dari situ saya menemukan banyak hal, dan sadar bahwa ilmu islam itu luar biasa luas, dan saya semakin merasa ga tau apa-apa. Beda ceramahnya, ga kaya yang sering didenger di TV One, di masjid2, yang rata-rata yang dibahas itu-itu aja (tanpa bermaksud menyombongkan diri).

Dari Habib Ali ini saya belajar BANYAK BANGET. Mulai dari sejarah-sejarah kehidupan Rasulullah yang saya ga pernah denger sebelumnya. Dari sana saya sadar, man! jaman rasulullah tuh emang beda peradabannya. sifat orang2nya beda, nilai2 yang dianut beda. Sempet sedikit saya membayangkan kok enak ya kayanya di jaman itu.

Saya juga belajar tentang ilmu-ilmu islam yang lain seperti dzikir, sholat, bahkan sampai adab-adab yang diajarkan islam. Takjub! Video Habib ini di upload di channel majelis taklimnya darul murtadza. itu ada seribuan video. Dari sana saya makin mengagumi beliau. Subhanallah ilmu yang disampaikan oleh hanya 1 orang ini begitu banyak. Dia cuma manusia dengan ukuran kepala yang ya sama kaya ukuran kepala orang normal, tapi isi dari kepala itu adalah sesuatu yang sangat mahal.

Trus kok saya merasa mulai nge fans. Tiap hari pasti dengerin. Dulu saya pernah tulis di tumblr tentang keheranan ketika ada orang yang ber statement mencintai habaib, mencintai rasulullah. Apa benar mereka mencintai dengan kadar cinta yang sama seperti kadar mencintai seseorang seperti yang saya tahu. Kita selama ini ga tau perasaan orang. kita menilai berdasarkan apa yang bisa kita rasakan. Dan, Iya. Orang bisa mencintai rasulullah seperti mencintai yang kita kenal. Orang bisa mencintai ulama seperti cinta yang kita kenal.

Habib Ali ini santun tutur katanya. tapi dia bisa bernada tegas dan tinggi juga, macam orang berorasi. Mungkin karena pake bahasa melayu juga jadi terasa lebih halus. Semoga beliau diberikan kesehatan wal 'afiat dan dipanjangkan umurnya. Ilmu itu luasnya ga terukur. Baru berasa saya mempelajari agama dari ceramah2 beliau. Banyak banget kajian tentang kitab-kitab yang bahkan gw ga pernah denger sebelumnya! Kitab A, B, C. Tak terwakilkan takzim dan takjub saya terhadap Habib Ali Zainal Abidin dengan tulisan ini.

Saya kalo minta sesuatu sama Allah suka malu klo minta spesifik. tapi di bulan Ramadan ini saya mencoba mengempaskan rasa malu itu, bodo deh Allah mau menanggapi kaya apa. Saya minta jodoh. Dengan sebut nama. Sounds demanding. Tapi saya berdoa jika jodohku telah Engkau dekatkan dalam diri Mayang Athira Degesniari, berikanlah kelancaran di semua urusannya. Namun jika jodoh kami masih Engkau rahasiakan, maka berikanlah ketabahan dan keikhlasan dalam diri kami. Berikanlah pengganti yang lebih baik. Setidaknya saya merasa less demanding. Dan dari rutinitas itu, hati saya perlahan luluh dengan ikhlas. Ikhtiar-ikhtiar sudah dilakukan. Selanjutnya serahkan sama Allah aja.

Ikhtiar saya dan ilmu dari Habib Ali Zaenal Abidin Al hamid ini sangat memudahkan ibadah ramadan tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Semoga kita dipertemukan lagi di ramadan berikutnya. Oiya, efek juga dari pindah kantor. Jadi lebih tenang ibadahnya di sini :)

Sunday, 28 May 2017

Why I quit

Sepanjang karir saya, baru kali ini saya keluar dengan alasan utama karena ga bisa menemukan mood baik lagi di sini. Walaupun karir saya juga belum lama lama amat, setiap resign pasti ada alasan lain seperti dapet beasiswa dan harus fokus skripsi. Biasanya juga se-ngga betah-ngga betahnya, durasi bekerja juga lebih dr setahun. Tapi di sini saya ga kuat bukan dlm artian saya lemah, tapi no hope deh di tempat ini. Mungkin ini juga sbg pengalaman pertama saya yg terjun ke industri korporat, setelah selama ini saya ada di dalam industri kreatif, adv agency, startup. Jadi kebayang juga culture shock nya. Berikut alasan saya resign, akan saya coba jabarkan mulai dr yg kecil sampe yang terkecil:

1. Yoga dipecat gara2 nyinyir di grup WA. Diasingkan ke sebuah ruangan selama beberapa lama. ga dikasi kerjaan. cuma duduk di meja kecil dan berkubang dg henponnya. Siksaan macam apa ini? pikir saya. Yoga telah bekerja di sini selama kurang lebih 8 tahun. Dia dipecat hanya karena hal itu.

2. Jimmy, Marketing Manager dr cabang medan di pecat. Salah satu alasannya krn dia menggunakan vendor untuk sosial media post. Inisiatif ini sepertinya tidak dihargai oleh corporate. Padahal content FB medan bagus krn vendor tsb. Gaji dia di hold beberapa lama.

3. Kelvin, Manager IT dipecat. Salah satu alasan yg saya dengar adl krn dia korupsi dana pengadaan laptop untuk cabang Bona Vista. Walaupun dia kayanya ga disukai, tapi masuk catatan saya krn kelakuannya yg seperti ini secara tdk langsung berdampak ke perekrutan karyawan.

4. Ivan, staff marketing Bona Vista dipecat. Salah satu alasannya karena kasus fotokopi flyers. Kualitasnya jelek, ada parent yang ngadu dan sampe ke kuping CEO. Dia dipecat begitu saja. Notificationnya hanya hitungan jam. Sadis

5. Vekky, Marketing Manager cabang Kebon Jeruk kabarnya tidak melanjutkan kontrak.

6. Pada bulan februari saat musim hujan, banyak karyawan yg telat masuk kantor, salah satunya saya. Namun tidak pernah lbh dr 1 jam. Pas saat penghitungan absen saya dipanggil salah satu admin HR dan ditanya knp kok banyak telat di bulan ini. Otomatis alasannya pasti krn macet n hujan, dan kalau ingin dilihat sepertinya hampir semua karyawan. Tapi saya dikasih warning "ini bisa kena SP nih" dalam hati saya shock. Otoriter sekali. Padahal setau saya perhitungan absen adl jika dlm sebulan telat lbh dr 8 jam akan kena potongan gaji. Pdhl saya yakin saya telat ga akan lbh dr 2 jam, tapi bahkan ancamannya bukan potong gaji tapi SP. Tingkat SP adl pernyataan show off. Hei gw bisa melakukan apapun atas diri lw. Di situ momen saya mulai memperhitungkan kemungkinan resign.

7. Di kantor saya (corporate) suasananya kurang friendly dan agak arogan. Orang2 lama bisa lbh leluasa berbicara agak keras, sementara yg orang baru bahkan hrs berbisik untuk berdiskusi. sering langsung di "ssstt" in. kan bangke

8. Bos saya langsung adl CMO. ada MM ada, tapi saya tdk bekerja under MM. jd bisa dibilang saya merangkap executive n manager krn jobdesk saya 'digital' adl baru bgt. pada akhirnya saya memepertanyakan hirarki ini yg lbh banyak mudhorot nya dibanding faedahnya. dengan bayaran seorang executive saya dituntut menjadi manager. bikin digital plan, report ke BOD,ngurus vendor plus kerjaan eksekusi, dan bahkan jadi kacung CMO, saya pernah disuruh bawain tas dia ke ruang meeting bawah yg jaraknya jauh bgt krn ada sepatu n mouse di tas nya. saya pikir okelah untuk merasakan atmosfer bekerja langsung dibawah bos besar, tapi ketika mereka seperti tidak terlalu peduli dg jabatan dan bayaran saya, saya merasa cukup sampai disini.

9. Pernah ada cerita bahwa dulu divisi IT kena SP. Alasannya? karena mereka semua sholat jumat, dan bertepatan dg salah satu bos yg butuh bantuan namun tidak ada orang. daaaan mereka di SP. Ini momen klimaks saya harus segera pergi dr sini.

10. CMO saya sering marah2in managernya. walaupun semua orang tau mrketing manager corporate ini agak 'unik' tetap tidak pantas seorang bos memarahi dan merendahkan bawahannya di depan orang lain seperti itu. dia tidak bisa menghormati orang lain sepertinya. tidak bisa melindungi bawahannya. buktinya banyak manager nya yang ilang.

11. CMO kami orang yg sangat boros. semua marketing sudah tau itu. 1.5 M dlm waktu 3 bulan dikeluarkan untuk hasil yg masih rabun.

12. Saya tidak bisa bereksplor untuk digital tapi saya diminta bikin target2. ini mah sama aja "bunuh aja gw"

13. Hirarki "I'm the boss, you have to obey everything I say" masih terasa sekali. Saat CMO dirawat di rs, operasional marketing di handle COO. disini saya benar benar merasakan hirarki itu. rasanya seperti dijajah. and i dont like it a lot. beberapa kali keluar dr mulutnya kata kata "I'm the boss" satu momen pernah saya di email hrs tlp dia pagi2 klo g salah bahkan sblm jam masuk kantor. saya merasa hal yg akan dibicarakan tdk urgent dan saya merasa lbh baik menjelaskan dg email. jadilah saya email. besokannya dia tanya knp saya ga tlp. saya bilang udh email. trus dia ga suka n bilang if your boss telling you to call, you have to call. get that mindset ya.
oh jd you think you can change my value too? mindset adl hal yg mendasar. lw ga bisa nyuruh2 orang ubah mindset. gw ga suka bgt digituin. dia pikir bisa melakukan itu thd gw?

14. My CMO tidak pandai mendengarkan pendapat orang lain. saya bahkan merasa lbh mudah ngikutin dia drpd argue sama dia. ini bukanlah hal yg bagus di dunia kerja apalagi klo bos nya udh tua. sering di beberapa kesempatan saya ga bisa bener2 menyatakan pendapat saya.

15. teman teman yang tertutup. mungkin krn kebanyakn udh pd berkeluarga. jd susah mau sharing2 ttg kehidupan kantor.

16. saya lbh merasa masuk sekolah dibanding masuk kerja. di lingkungan kerja setau saya biasa klo org mau istirahat. ngopi2 n ngerokok sebentar. di sini bahkan kami jd kaya anak sekolah yg hrs ngumpet2 untuk ngerokok. ga ada tea time, break sore dkk.

17. salah satu cabang dijual. staff harus dipindahkan ke bona vista. beberapa karyawan disini jd korban pemecatan juga. Intan staff marketing, ipin OB, mba ela staff UKS. hal ini menimbulkan ketakutan di staff lainnya. kasian kan mereka. ada yg single mom cerita dia ga tau gmn nasibnya klo dia yg dipecat.

18. Isu #17 terjadi setelah saya mengajukan resign dan yg bikin kesel adl ada kabar burung jg saya adl korban yg di cut juga. secara pribadi saya merasa direndahkan krn bagi saya status resign lbh baik dr dipecat.

19. Teman saya dr cabang cilegon dia disana cuma sendiri staff marketing. namun hrs mengerjakan semua tanggung jawab seorang manager. sudh dari dulu kita concern ttg hal ini. tapi dia tidak diperhatikan.

20. MM saya seperti dimusuhi hanya krn dia "berbeda", dinyinyirin sama ibu2 dsana yg umurnya ga jauh beda dr saya, ada jg yg udah ibu2. tapi suasana seperti ini memberikan energi negatif. walau saya jg ga bgitu cocok dg dia, tapi saya coba biasa aja, saya menghormati dia dan sifat2nya. toh bukan yg iseng atau mengganggu orang lain. kadang suka kasian, apakah mereka yg nyinyirin ga sadar klo itu bisa menyakiti perasaannya.

21. tidak bisa dipungkiri alasan saya hijrah dr dunia agency ke korporat adl agar hidup saya ga melulu mikirin kerjaan. saya ga mau stress mikirin kerjaan. tapi pd kenyataannya semua berubah. saya sering bahkan disuruh kerja weekend jaga booth. pas kerja stress krn hrs memuaskan bos bos dg hal aneh dan berubah2. awalnya fb post ga mau di plan, lalu pas meeting sama bos lain lagi saya disuruh bikin plan dong, "sok iye lu" klo kata bocah biskuat. mnding sekalian gw balik ke agency lagi, istilah katanya mah. ketauan stress tp bebas eksplore and bebas kerja, bisa ngopi2 ngeteh ngerokok tanpa merasa ga enak.

22. Selama bekerja sampai saat ini, sebenernya saya bingung apa hasil yg sudah saya kerjakan. Kebanyakan pekerjaan saya hanya 'ngikutin perintah' dan itu ga jelas. saya ga bener2 merasa mengerjakan sesuatu. berkarya sesuatu. buktinya adl sampai 7 bulan ini klo disuruh nulis portfolio dsini, saya gabisa jawab.

Kurang lebih segitu aja, saya takut mengada2 klo memaksakan. Tapi diluar itu semua saya bersyukur bisa bekerja di sini selama kurang lbh 7 bulan. banyak hal diluar professional yg saya pelajari. bekal penting untuk karir saya. hanya saja mindset saya bukan bekerja secara konvensional dg hubungan atasan dan bawahan yg kental. saya suka punya bos yg diskusi bareng, yg meng encourage pekerjanya untuk aktif sehingga mereka bisa ngobrolin apa aja. saya tdk menyalahkan mereka, mungkin inilah budaya kerja yg ada disini. ini yg membuat perusahaan ini bertahan 20tahunan. saya tidak bisa memaksakan perubahan seperti halnya mereka jg tidak bisa memaksakan perubahan thd diri saya.

sekian dan terima kasih

Wednesday, 26 April 2017

Aku Tidak Akan Sarapan Denganmu

Sampai kapan kau akan terus begini, Indira? Kau tahu aku tidak akan sudi menyentuh apapun darimu.

Berapa sendok gula yang biasa ditaruh di cangkir kopimu, James?

Kau tidak mendengarkanku. Jangan repotkan tanganmu.

Aku tidak repot. Tidak ada yang direpotkan.

Dan aku hanya tertawa dalam hati. Tidak ada yang direpotkan katamu?

Sudahlah Indira. Akui saja. Aku akan semakin membencimu di setiap gula yang kau sendok ke dalam kopiku. Kopiku? Tak sudi aku menyebutnya kopiku.

Kau tidak mengerti ya, Indira. Ini bukan sekedar secangkir kopi yang dibuatkan seseorang untuk sarapanku. Kau tidak akan bisa menggantikannya. Musuhkupun bisa membuatkanku kopi, jika ini hanya sekedar minuman di pagi hari.

Dia yang biasa membuatkanku kopi dengan takaran yang pas. 2+1 kopi dan gula. Tapi ini bukan sekedar takaran kopi. Ini adalah ritualku dengannya. Aku akan mengeluh betapa panasnya kopi yang dia buatkan untukku, dan dia akan marah-marah dan memaksaku minum. Aku akan mengeluh betapa encer kopiku, dan dia akan marah-marah dan memaksaku minum. Tapi dengan itu kami berinteraksi. Sebuah ikatan yang tidak bisa dipindahkan ke sembarang orang. Apalagi kau, Indira!

Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu mengakui barang secangkirpun! Tidak akan ada pernyataan bahwa kau pernah membuatkanki kopi selama dirinya tidak disini. Oh aku sangat mengenal watak burukmu!

Aku tidak akan membiarkan secangkir kopipun darimu yang akan kau gunakan untuk menyakiti hatinya nanti.

lucunya Indira, aku bahkan bisa membayangkan seandainya aku meminum kopi buatanmu, lalu dirinya kembali.

Apakah kau tau apa yang akan kau katakan padanya, Indira?

Kau pasti akan menyalahkan dia akan sesuatu yang tidak ada hubungannya, dan kopi adalah senjatamu. Kau akan beranggapan bahwa selama dirinya tidak disini, kaulah yang selalu membuatkanku kopi.

Kau memang iblis. Kau akan menyakiti hatinya. Tidak akan pernah aku membiarkan hal itu.

Sampai mati aku tak sudi. Jangan pernah kau buatkan aku secangkir kopipun!

Ini ritual kami.

Saturday, 3 September 2016

Duet

Ikatan batin diantara mereka semakin redup. Hubungan yang terjalin semakin mengendur. Semua ini bukan diakibatkan oleh mereka yang tidak pernah berlatih balet lagi, seperti yang selalu mereka lakukan setiap hari api di menara waktu berubah menjadi ungu, melainkan akibat godaan yang semakin kuat menyerang mereka. Amazon semakin dipuja wanita. Tiap keringat yang mengalir di dadanya yang telanjang di atas panggung adalah candu mematikan yang membuat semua wanita mabuk. Sedangkan pada Olive, karismanya tidak terbendung lagi. Setiap lekuk tubuh dan gairahnya saat menari membuatnya ratu yang dipuja semua orang. Perkataannya adalah titah saat ketenarannya dimanfaatkan para pencari keuntungan dagang. Amazon merasakan hal ini, begitupun dengan Olive. Namun mereka tidak mengetahui perasaan masing-masing. Kini mereka sibuk kembali tenggelam dalam kesenangan sementara. Akankah mereka kembali mengguncang dunia? Memberikan esensi kehidupan yang mereka yakini bersama?

Tuesday, 2 August 2016

Sedekat Bersin

Saya dapat cerita ini dari status FB yang di share salah satu teman. Kebaikan harus disebarkan

SEDEKAT BERSIN
@salimafillah

Dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, seorang pemuda bersin di kursinya. Diapun bertahmid, “Alhamdulillah.”

Dari seberang tempat duduknya terdengar suara lirih namun tegas, “Yarhamukallah.”

Maka diapun menjawab, “Yahdikumullah, wa yushlihu baalakum”, lalu menoleh. Yang dia lihat adalah jilbab putih, yang wajahnya menghadap ke jendela.

Harap diketahui bahwa ini adalah tahun 1980-an. Jilbab adalah permata firdaus digersangnya dakwah, dan ucapan “Yarhamukallah” adalah ilmu yang masih jarang diamalkan. Keduanya terasa surgawi.

Maka bergegas, disobeknya kertas dari buku agenda dan diambilnya pena dari tasnya. Disodorkannya pada muslimah itu.

“Dik”, ujarnya, “Tolong tulis nama Bapak Anda dan alamat lengkapnya.”

Gadis itu terkejut. “Buat apa?”, tanyanya dengan wajah pias lagi khawatir.

“Saya ingin menyambung ukhuwah & thalabul ‘ilmi kepada beliau”, ujar sang pemuda. “Amat bersyukur jika bisa belajar dari beliau bagaimana mendidik putra-putri jadi Shalih dan Shalihah.”

Masih ragu, gadis itupun menuliskan sebuah nama & alamat. “Kalau ada denahnya lebih baik”, sergah si pemuda.

Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendatangi alamat yang tertulis di kertas. Diketuk pintunya, dia ucapkan salam. Seorang bapak berwajah teduh dan bersahaja menyambutnya.

Setelah disilakan duduk, sang bapak bertanya, “Anak ini siapa dan ada perlu apa?”

Dia perkenalkan dirinya, lalu dia berkata, “Maksud saya kemari; pertama nawaituz ziyarah libina-il ukhuwah. Saya ingin, semoga dapat bersaudara dengan orang-orang Shalih sampai ke surga.”

“Yang kedua”, sambungnya, “Niat saya adalah thalabul ‘ilmi. Semoga saya dapat belajar pada Bapak bagaimana mendidik anak jadi Shalih dan Shalihah.”

“Yang ketiga”, di kalimat ini dia agak gemetar, “Jika memungkinkan bagi saya belajar langsung tentang itu di bawah bimbingan Bapak dengan menjadi bagian keluarga ini, saya sangat bersyukur. Maka dengan ini, saya beranikan diri melamar putri Bapak.”

“Lho Nak”, ujar si Bapak, “Putri saya yang mana yang mau Anak lamar? Anak perempuan saya jumlahnya ada 5 itu?”

“Bismillah. Saya serahkan pada Bapak, mana yang Bapak ridhakan untuk saya. Saya serahkan urusan ini kepada Allah dan kepada Bapak. Sebab saya yakin, husnuzhzhan saya, bapak sebagai orang Shalih, juga memiliki putri-putri yang semuanya Shalihah.”

“Lho ya jangan begitu. Lha anak saya yang sudah Sampeyan kenal yang mana?”

“Belum ada Pak”, pemuda itu nyengir.

Orangtua itu geleng-geleng kepala sambil tersenyum bijak. “Sebentar Nak”, kata si Bapak. “Lha Anda bisa sampai ke sini, tiba-tiba melamar anak saya itu ceritanya bagaimana?”

Pemuda itupun menceritakan kisah perjumpaannya dengan putri sang Bapak di Kereta. Lengkap dan gamblang. Sang bapak mengangguk-angguk.

“Ya kalau begitu”, ujar beliau, “Karena yang sudah Sampeyan nazhar (lihat) adalah anak saya yang itu; bagaimana kalau saya tanyakan padanya kesanggupannya; apakah anak juga ridha padanya?”

Pemuda itu mengangguk dengan tersipu malu. Singkat cerita, hari itu juga mereka diakadkan, dengan memanggil tetangga kanan-kiri tuk jadi saksi.

Maharnya?

Pena yang dipakai pemuda itu meminta alamat sang Bapak pada gadis di kereta yang akhirnya jadi istrinya, ditambah beberapa lembar rupiah yang ada di dompetnya.

Hingga kini mereka dikaruniai 6 putra-putri.  Satu putra telah wafat karena sakit setelah mengkhatamkan hafalan Qurannya. Lima yang lain, semua juga menjadi para pemikul Al Quran. Pasangan yang tak lagi muda itu, masih suka saling menggoda hingga kini. Itu tak lain, karena sang suami memang berpembawaan lucu.

“Salim”, ujarnya pada suatu hari, “Bibi’mu ini lho, cuma saya bersini saja jadi istri. Lha coba kalau saya batuk, jadi apa dia!”

Saya terkekeh. Dan lebih terbahak ketika bibi saya itu mencubit perut samping suaminya. “Kalau batuk”, ujar Hafizhah Qiraat Sab’ah ini, ingin bercanda tapi tak dapat menahan tawanya sendiri, “Mungkin beliau jadi sopir saya!”

Anda semua tak perlu jadi suka pura-pura bersin di angkutan umum setelah membaca cerita ini. Anda hanya perlu segera mendatangi Ayah seorang gadis, ketika tanda keshalihannya nyata. Selamat bersin. Eh, selamat berjuang.