Wednesday, 21 October 2009

Sejarah Condet

Kubuka jendela.../sapa angin pagi.../ringan kaumelangkah.../songsong hidup ini.../hela lenguh lembu halau burung-burung.../bocah tawa riang.../canda di kali yang jernih.../bila malam tembang di purnama yang memberi semangat hidup esok hari...
(dari syair lagu "Condet" karya Iwan Fals)

Tak jelas kapan persisnya tembang balada tadi diciptakan. Namun pasti mengacu pada suatu masa, ketika kawasan Condet masih asri. Angin pagi masih segar membelai tubuh, dan kali Ciliwung masih jernih bersembunyi di tengah rindangnya pepohonan. Buat Jakarta yang sumpek, Condet dahulu bak "surga". "Surga" yang mampu memaksa Bang Ali panggilan akrab mantan Gubernur DKI Ali Sadikin—meresmikannya sebagai cagar budaya, reservasi tanaman dan hewan khas Jakarta, sekaligus daerah resapan air.

Bagaimana nasib "surga" itu kini? Iwan Fals boleh jadi meratap panjang jika melihat Condet sekarang. Burung-burung tak lagi punya tempat berteduh. Sawah berubah menjadi rumah. Bantaran kali kusam, tak layak buat mandi bocah ingusan. Condet ditelan modernisasi. Alih-alih menjadi cagar budaya Betawi, dia malah jadi sarang puluhan perusahaan pengirim tenaga kerja Indonesia ke luar negeri alias PJTKI.

Legenda pangeran codet

Masa lalu Condet sampai kini masih berselimut kabut. Penemuan kapak batu zaman neolitikum memang membuktikan, daerah subur ini telah lama dihuni orang. Namun, dari mana asal kata "Condet", masih jadi perdebatan. Salah satunya, legenda Pangeran Geger yang tak diketahui asal-usulnya, penguasa Condet di pertengahan abad ke-18. Konon, nama Condet berasal dari nama alias Geger, yakni Pangeran Codet (karena ada bekas luka di dahinya, dalam bahasa Betawi disebut codet).

Beristrikan Polong, si Codet memiliki lima anak. Salah satu anaknya, Maemunah memiliki paras nan rupawan, sehingga menawan hati pangeran asal Ujung-pandang, Astawana, yang tinggal di sebelah timur Condet. Karena Astawana punya kesaktian tinggi, Maemunah meminta mas kawin agak nyeleneh. Dia minta dibikinin dua rumah di dua lokasi berbeda (kini Batuampar dan Balekambang), hanya dalam satu malam. Permintaan itu berhasil dituruti sang pangeran.

Maemunah pula, yang kemudian mewarisi tanah Condet dari ayahnya. Sayang, si cantik ini kemudian diperdaya tuan tanah Belanda, Jan Ament. Keturunan Jan yang tinggal di rumah besar di Kampunggedong, bahkan akhirnya menjadi penguasa turun temurun Condet. Anak-anak Ament rajin membuat aturan "yang enggak-enggak". Rakyat harus membayar sewa tanah setahun sekali, sedangkan anak lelaki wajib nyetor "kompenian", semacam pajak kepala sebesar 25 sen/minggu. Tak heran tahun 1916, rakyat Condet dipimpin Entong Gendut melakukan perlawanan terhadap penguasa semena-mena itu, meski berhasil ditumpas kumpeni.

Baru pascakemerdekaan, keistimewaan tuan tanah diberangus. Condet kembali menjadi milik rakyat!

Menjaga codot

Padahal, dulu banyak orang optimistis Condet bakal menjadi trade mark Jakarta. Berbatasan dengan bekas terminal bus Cililitan dan Pasar Minggu, Condet salah satu kawasan yang 90% penduduknya asli Betawi. Condet tahun 1970-an, versi Condet, Cagar Budaya Betawi karangan Ran Ramelan, terdiri atas kelurahan Kampungtengah, Batuampar, dan Balekambang. Luas selu-ruhnya 632 ha. Balekambang rata-rata dihuni 28 jiwa/ha, Batuampar 35 jiwa/ha, dan Kampungtengah 40 jiwa/ha. Bandingkan dengan tingkat hunian rata-rata di DKI saat itu yang 100 jiwa/ha.

Condet kaya akan kebun berpohon rindang. Udaranya bersih, penuh kicauan burung kakak tua jambul putih, bayan, nuri, dan banyak lagi. Monyet melompat dari pohon ke pohon. Rata-rata orang Condet bertanam buah-buahan, terutama duku dan salak. "Salak Condet bahkan masuk buku teks wajib anak-anak SD zaman Belanda, karangan W. Hoekendijk," bilang Dra. Tinia Budiati, M.A., penulis The Preservation of Betawi Culture and Agriculture in the Condet Area, yang juga direktur Museum Sejarah Jakarta.

Pohon duku di Condet banyak yang sudah berumur puluhan tahun. Saat musim duku tiba, hampir saban malam kaum lelakinya meronda di atas pohon, yang punya dahan liat dan kuat. Mereka berjaga dari codot dan kalong, yang konon hanya takut pada pohon yang "dihinggapi manusia". Condet juga penghasil pisang (terkenal besar dan manis), durian, dan melinjo yang diolah jadi emping. Kabarnya, emping Condet sangat gurih. Kalau di tempat lain, sebelum digecek, melinjo direbus lebih dahulu. Nah, di Condet, melinjo tidak direbus, melainkan dinyanya alias digoreng.

Kekhasan Condet juga terlihat dari bahasa Betawi yang mereka gunakan, adat istiadat yang banyak mengambil nilai-nilai Islam, serta bentuk rumah mereka. Rumah asli Condet berlantai tanah, berdinding kayu. Jendelanya dinamai jendela bujang (bertirai batang bambu). Disebut jendela bujang, karena kerap dimanfaatkan bujang untuk mengintip calon istrinya yang dipingit di balik beranda. Serambi muka terbuka, hanya dibatasi pagar kayu setinggi pinggang serta ornamen khas di lisplang. Di belakang beranda ada pangkeng atau kamar tidur.

Di antara tiga kelurahan tadi, Balekambang yang paling kuat memegang tradisi. Mereka sangat fanatik dengan sekolah agama. Untuk mendapat ilmu yang lebih tinggi, tak jarang para pemudanya bertualang ke Suriah atau Mesir. Mereka lebih fasih memainkan gambus dan qasidah. Lenong dan gambang keromong masih dianggap sebagai punye orang luar. Leluhur Balekambang bahkan beranggapan, daerah mereka "terlarang" buat orang asing. Pendatang yang hendak berniaga, harus siap-siap bangkrut. "Kutukan" yang kini tak lagi terbukti.

Dikepung mal

Itulah "surga" yang dilihat Bang Ali ketika menetapkan Condet sebagai cagar budaya tahun 1976 silam. Kebijakan itu lantas ditindaklanjuti gubernur berikutnya, dengan menelurkan kebijakan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 80% bagi kawasan Condet di pertengahan 1980-an. Berdasarkan KDB, orang Condet yang punya tanah 100 m2 hanya boleh membangun rumah seluas 20 m2. Sisanya, 80 m2 (80%) jatah air. Aturan ini dibikin, katanya lantaran Condet mau dilestarikan sebagai daerah resapan air.

Ironisnya, justru aturan-aturan "hebat" itu yang belakangan hari merampas "surga" Condet. Salak dan duku yang sejak baheula menjadi trade mark Condet, tak lagi tersaji di kios-kios buah. Jumlah petaninya tak lagi signifikan, seiring makin sempitnya lahan. Monyet dan berbagai burung langka pun ikut lenyap. Eksploitasi besar-besaran terhadap binatangbinatang itu, plus berkurangnya pohon tempat mereka bersarang, membuat acara bangun pagi orang Condet tak lagi dimarakkan suara burung.

Tak cukup mengancam maskot buah-buahan dan hewan, Condet sekarang juga makin kehilangan daerah resapan airnya. Kebijakan KDB 80% dianggap sebagai angin lalu. Cobalah berkeliling kelurahan Batuampar, Balekambang, atau Kampungtengah. Nyaris tak ada bangunan yang menaati aturan Pemda. Melihat Condet kini, tak beda melihat kawasan lain di Jakarta. Penuh bangunan beton nan bergaya, mulai model Spanyol hingga Mediterania.

Bagaimana dengan pelestarian budaya Betawi? Ah, lebih parah lagi. Penelitian Dinas Kebudayaan DKI menunjukkan, tahun 1991 Condet cuma menyisakan tujuh rumah tradisional Betawi. Tahun 2004 tentu lebih parah. "Mungkin tinggal 1% dari jumlah rumah di sini," aku Kuswara, sekretaris kantor kelurahan Balekambang. Padahal, Balekambang termasuk wilayah yang memiliki komposisi penduduk paling "konservatif." Dari 19.000-an warga, "hanya" sekitar 30% yang bukan orang Betawi.

Rumah tradisional yang didatangi Intisari, milik H. Mughni di Jln. Pangeran, Balekambang, kondisinya sangat mengenaskan. Ornamen lisplangnya sudah dimakan rayap. Pagar beranda bercampur tembok. "Terpaksa diterali juga, habis kita pernah kecolongan lampu antik," jelas Khalil, suami cucu H. Mughni. Khalil tampak gusar karena janji bantuan renovasi yang didengungkan Pemda belum juga terlaksana. "Tapi kita akan sekuat tenaga mempertahankan rumah ini, dengan atau tanpa bantuan," ujar Khalil.

Bikin frustrasi

Mengapa "surga" di Condet makin mendekati "neraka", meski Pemda DKI sudah menjejalinya dengan beragam peraturan? "Pemda kurang melakukan sosialisasi. Akibatnya, bahasa 'yang di atas' dengan rakyat kebanyakan penghuni Condet tak pernah seragam," tandas Tinia Budiati. "Tambahan, eksekusinya dijalankan oleh orang-orang yang tidak punya sense of belonging terhadap Jakarta. Mereka bukan orang yang secara sadar ingin memelihara tradisi dan budaya kota yang telah memberi mereka nafkah," imbuh Tinia.

Penulis buku Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta, Ridwan Saidi juga menganggap aturan Pemda DKI banyak merugikan warga Condet. "Mereka enggak bisa memanfaatkan fungsi komer-sial tanahnya sendiri," bilang Ridwan. Bayangkan, orang Condet harus bercocok tanam untuk mempertahankan populasi duku dan salak, tanpa kompensasi. Namun di sekitar Condet berdiri jaringan supra moderen. Pemda membuat kawasan sekitar Condet bernilai ekonomi tinggi, sehingga mendorong ledakan urbanisasi. Dengan kondisi seperti itu, adilkah memaksa orang Condet bertahan dengan segala tradisinya?

Orang Condet juga melihat, Pemda DKI tidak menjalankan fungsi kontrol dengan konsisten. Makin hari kian banyak berdiri rumah-rumah moderen, termasuk "losmen" para tenaga kerja yang akan diberangkatkan ke luar negeri. Bangunan-bangunan baru yang sebagian besar melanggar aturan KDB 80% itu tak pernah digubris Pemda. "Masak saya harus tutup mata terus melihat yang kayak gitu!" sergah H. Sapri, warga Balekambang.

Condet kini memang telah melenceng jauh dari cita-cita Bang Ali. Fungsi cagar budaya, reservasi buah dan hewan khas Jakarta telah gagal total. Sungguh aneh, jika aturan-aturan itu masih juga dipertahankan hingga detik ini. Jika tak berniat membentuk lembaga kontrol yang lebih bergigi, sebaiknya Pemda DKI mengucap selamat tinggal pada cagar budaya dan sejenisnya. Budaya mana yang hendak dicagar, kalau kenyataannya reservasi di Condet tak pernah terjadi?

Belakangan, Pemda justru membuat proyek baru, Perkampungan Budaya Betawi di Situ Babakan, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Lo, Condetnye mo diapain, Bang Yos?


Diambil dari berbagai sumber.

Thursday, 1 October 2009

Wednesday, 30 September 2009

Tokek (Anti Tumor)


Tokek atau Gecko dalam bahasa inggris adalah sejenis kadal berukuran kecil hingga sedang yang hidup di iklim tropis dan tersebar di seluruh dunia.

Tokek adalah nama umum untuk menyebut cecak besar. Ada beberapa jenis tokek, namun istilah tokek biasanya merujuk kepada jenis tokek rumah.

Tokek rumah adalah sejenis reptil yang masuk ke dalam golongan cecak besar, suku Gekkonidae. Tokek rumah memiliki nama ilmiah Gekko gecko (Linnaeus, 1758). Dalam bahasa lain hewan ini disebut sebagai téko atau tekék (bahasa Jawa), tokék (bahasa Sunda), dan tokay gecko atau tucktoo (bahasa Inggris).
(http://id.wikipedia.org)

Nama "Tokek" diambil dari suara yang dikeluarkan oleh hewan tersebut. Banyak orang yang tidak pernah melihat hewan ini, karena mereka hanya mengeluarkan suara-suara yang kadang juga ditakuti orang, tanpa menampakkan diri.

Banyak mitos yang berkembang tentang hewan ini. Ada yang bilang empedu tokek dapat menyembuhkan virus HIV/Aids, bermanfaat untuk penyakit kulit, mendatangkan rejeki, dan masih banyak lagi. Diantara banyak mitos yang berkembang, ada fakta, tokek ternyata memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai obat anti tumor.

Sifat anti-tumor ini ditunjukkan melalui kemampuan menghambat tumor dengan cara memperkuat energi tubuh. Tim yang diketuai Prof Wang dari Universitas Henan, China, menunjukkan bahwa zat aktif tokek tidak hanya meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh dari suatu organisme, tetapi juga menginduksi sel-sel tumor apoptosis (yang membunuh dirinya sendiri) serta menekan ekspresi protein VEGF dan bFGF, faktor pendukung berkembangnya kanker.

Kemoterapi—salah satu metode utama dalam pengobatan kanker yang kerap dilakukan para dokter saat ini—memiliki kelemahan karena tidak bisa selektif menyerang sel kanker sehingga memengaruhi zat antikanker itu sendiri, juga mengandung racun.

Pada 40 tahun terakhir ini, para ahli dari China telah mendapatkan dan menggunakan metode pengobatan kanker yang lebih efektif, yang diintegrasikan dengan TCM plus kemoterapi. Temuan-temuan tentang hal ini telah dipublikasikan setahun lalu pada 7 Juli 2008 di World Journal of Gastroenetrology (Jurnal Gastroenterologi).

(http://Kompas.com)


Dari berbagai sumber


Friday, 18 September 2009

"HENING"

Jangan berteriak karena aku bisa mendengar bisik

Dalam keheningan

Aku mendengar
Semuanya

Aku bisa mendengar nafas
Aku bisa mendengar darah yg mengalir dalam nadi
Aku bisa mendengar detak jantung
Aku bisa mendengar tatapan!

Dalam keheningan

Aku bisa mendengar gesekan

Dalam keheningan

Aku dapat mendengar langkah diatas air

Dalam keheningan

Aku bisa mendengar kicauan burung
Saat awal pagi
Mereka bernyanyi tentang hangatnya mentari
Aku bisa mendengar suara jangkrik
Ketika malam berakhir
Suara mereka bagai selimut tidur

Dalam keheningan

Aku mendengar tawa kecilmu
Yang lebih kecil dari suara senyumanmu
Aku mendengar tangismu
Aku mendengar rintihmu

Dalam keheningan

Kita bercumbu
Kita berdoa
Kita berpikir

Dalam keheningan

Aku menghina kebisingan

Dalam keheningan

Aku menulis ini..

Wednesday, 16 September 2009

Tetap Pecundang



Pujangga yang menangisi kekasih nya
Menyebrangi rawa yang penuh dengan duri dari setiap bunga mawar yang hidup diatas nya
Aneh, tapi begitulah adanya

Jangan kau takut sayang
Aku bukan seorang obsesif
Aku tau saat harus melepaskanmu

Lagi,
Kakiku terluka terkena duri-duri mawar itu
Namun rawa ini tidak akan menjadi kuburanku

Sesekali suara-suara lonceng yang lembut
Samar-samar terdengar
Bersamaan dengan tawa
Tangis dan

Desahanmu yang membuatku terus teringat ketika kau melihatku dengan tatapan hampamu
Tidak ada makna apapun dibalik kedua mata itu
Ataukah aku yang harus menebak?

Bantulah aku,
Si pujangga
Pejuang
Orang gila..

Because I Resign

Ulat sebelum menjadi kupu2,berjalan sangat lambat.warna ny yg masih hijau,makanan empuk bagi burung yang terbang diatas ny.suatu saat dy bersembunyi dibalik daun untuk menghindari burung,sambil merenung..merenung..kapan dia dapat menjadi kupu2 yg indah dilihat setiap orang,dapat terbang kmn saja dia mau.

Tapi skrg blm saat ny.dia belum bisa terbang,hanya bisa berjalan lambat mengikuti arah tangkai daun.ulat itu harus makan banyak,supaya dia bs menjadi kepompong yg kelak akan berubah menjadi serangga terindah.
Ulat itu harus makan banyak!tidak bisa sedikit!tidak bisa..

Jadilah kupu2 wahai ulat

Biarlah sementara engkau berjalan lambat dan memakan daun.

Tetapi nanti,engkau akan menjadi kupu2 dan menghisap madu yg sangat manis

Renungan Aku yang Bodoh!

Terinspirasi oleh banyaknya notes dari seorang teman. Note yang dimaksud disini adalah note pada facebook, pada suatu hari ketika ku sedang membaca note salah satu temanku, karena kulihat, banyak sekali dia membuat notes. Ada apa dengannya, aku penasaran.

Menurut ku, note dibuat pada moment-moment tertentu, itulah sebabnya note ditulis tidak sesering kita meng-update status.
Man, ternyata di forum ini kita bisa melihat pribadi seseorang, tapi percayalah, itu hanya setitik dari banyaknya nilai kehidupan yang kita jalani.

Sebut saja 'x'
Dari notes nya yg ku baca secara acak, banyak pelajaran yang ku ambil. Ternyata Aku orang yang tidak tahu apa-apa, Aku masih kecil di dunia yang besar ini.

Apakah makanan yang kita makan mempengaruhi pandangan kita tentang nilai kehidupan?
Apakah minum yang kita minum?
Apakah teman yang kita miliki?
Apakah keluarga kita?
Apakah tingkat intelegency kita?
Apakah tempat tinggal kita?
Apakah idealisme kita?
Apakah aliran musik kita?
Apakah semua itu mempengaruhi?
Kegilaan, kepatuhan, ketaatan
Ketakutan, kecintaan, kegemaran..

Aku tak tau kemana arah penulisan ini, tapi kita akan terus belajar meskipun kita tidak sekolah, tdk membaca, tidak menulis, tidak melihat atau mendengar bahkan.

Semua orang memiliki kegilaan masing-masing. Belajarlah dari itu.

(Tar dulu,bokap gw pulang,bukain pintu dlu..)

Ok,

Duduk di kursi ditemani lampu tidur yg hangat, mencoba berintrospeksi..
Hampir setiap malam..
Badan ini boleh tidur, tetapi otak ini tdk akan!
Walaupun tidak tau apa yang harus dipikirkan, apa yang didapat dari itu, tapi kenapa Aku tidak pernah berhenti?

Sudahlah sayang, jangan kau hiraukan tulisan dari orang gila ini, dia hanya mencoba membunuh.
Membunuh kewarasan nya, tapi 'x' saat ini membuka pikiran nya, bahwa hidup ini rumit, walaupun kau hanya bangun pagi, kerja disuatu perusahaan, atau menjadi wiraswasta, kuliah, berinteraksi dengan lingkungan, pulang, makan, tidur, begitu seterus nya, sehingga kau merasa hidupmu membosankan.

Percayalah sesungguhnya ada sesuatu dibalik itu jika kita mau berpikir.

Wassalam..