Wednesday, 15 April 2015

Ikrar Pangeran Khorshid

Ini adalah kisah bersatunya dua kerajaan yang saling bertentangan. Dua kerajaan dengan ideologi yang berbeda. Namun semua orang memiliki pikirannya masing-masing. Bagi pangeran Khorshid dan puteri Savvinsi, perjalanan hidup mereka tidak ditentukan oleh aturan kerajaan, seperti hati yang tidak bisa dikekang. Bertahun-tahun mereka memperjuangkan hubungan mereka, hingga nyaris membuat dua kerajaan saling berperang.

Seiring hubungan mereka yang semakin dewasa, mereka sadar pernikahan tidak akan terjadi di antara mereka. Dua kerajaan yang berdiri begitu lama tidak akan bisa dipersatukan oleh dua orang. Kebudayaan dan adat melekat sekeras cangkang mutiara. Pangeran Khorshid dan puteri Savvinsi tidak pernah bertemu lagi.

Suatu malam, pangeran Khorshid bermimpi mendaki gunung Damavand dalam sehari, dan turun dalam sehari juga. Kemudian pangeran Khorshid masuk ke sebuah lumbung. Disana terdapat banyak orang yang beristirahat. Di dalam kerumunan orang, pangeran Khorshid bertemu dengan teman-temannya, dan puteri Savvinsi juga berada di sana - di dalam mimpinya.

Pangeran Khorshid bercerita tentang pengalaman mendakinya. Puteri Savvinsi tiba-tiba mengenakan burka untuk menutup hampir seluruh tubuhnya. Namun puteri Savvinsi begitu aktif seperti anak kecil yang kegirangan. Dia bergerak begitu bebas hingga hampir memperlihatkan auratnya dari balik burkanya. Pangeran Khorshid berusaha menghentikan puteri Savvinsi agar burkanya tidak tersingkap.

Pangeran Khorshid kemudian membawa puteri Savvinsi pergi. Lagi-lagi dia dikejutkan oleh sang puteri yang minum dan mencuci muka dengan mata air suci kerajaan pangeran Khorshid. Tidak ada orang yang minum atau mencuci muka dari mata air Ghuslu kecuali dia adalah bagian dari kerajaan Musluzik. Puteri Savvinsi hanya tersenyum.

Pangeran Khorshid terbangun dan menceritakan mimpinya kepada guru spiritualnya. Oleh guru spiritualnya, ia diperintahkan saat itu juga untuk menghancurkan ego dan janji yang telah diikrarkan mereka untuk tidak pernah bertemu lagi. "Tuhan mungkin akan membuat kejutan untuk kalian, dan kerajaan ini. Jika sang puteri memiliki mimpi yang hampir sama, bawalah ia ke gunung Damavand tempat pangeran bermimpi. Kalian mungkin akan menemukan jawaban dari mimpi kalian." Seru sang guru spiritual.

Pergilah pangeran Khorshid menemui puteri Savvinsi. Bertahun-tahun tak saling memandang, ada perasaan aneh yang timbul. Rasa cinta mereka tak berkurang sedikitpun. Puteri Savvinsi beberapa hari lalu bermimpi didatangi pangeran Khorshid. Pangeran Khorshid berusaha menjinakkan kuda Palio, Legenda kuda paling liar milik kerajaan puteri Savvinsi. Tidak ada seorang pun yang bisa menjinakkan dan menunggangi kuda Palio, kecuali dia adalah ksatria berdarah Sesiter. 

Pangeran Khorshid bergelut dengan kuda Palio, dan akhirnya berhasil menjinakkan dan menunggangi kuda tersebut dengan disaksikan seluruh keluarga puteri Savvinsi. Kemudian ibu dari puteri Savvinsi memberikan tali kekang dan pelana kepada pangeran Khorshid. Pangeran Khorshid membawa puteri Savvinsi berkuda meninggalkan kerajaannya. Menuju ke pegunungan.

Pangeran Khorsid dan puteri Savvinsi terkejut mendengan cerita masing-masing. Pangeran Khorsid segera mamaksa puteri Savvinsi pergi bersamanya ke gunung Damavand untuk mencari jawabannya.

Di gunung Damavand tidak terdapat jawaban apa-apa selain suara angin dingin. Gunung yang bersalju hanya semakin menusuk tulang-tulang seiring dengan semakin lambatnya langkah mereka. Tidak ada jawaban apa-apa. Namun mereka belum mengetahui pada saat itu, bahwa jawabannya sudah ada di depan mata mereka. Jawabannya adalah pangeran Khorshid dan puteri Savvinsi. Jawabannya adalah tangan yang kembali bergandengan, dua pasang mata yang kembali bertatapan saling memuaskan, dua hati yang dulu tersakiti, namun sekarang saling mengobati. 

Konon menurut cerita, puteri Savvinsi melamar pangeran Khorshid. Bukan dengan cara melamar seperti yang kita ketahui. Tapi dengan cara mengatakan mau mengikuti pangeran Khorshid kemanapun. Lalu dengan ucapan itu, pangeran Khorshid yang meminta agar puteri Savvinsi menjadi istri-nya (melamar yang kita ketahui) dengan bunga lily merah turki yang sangat langka. Merekapun kembali ke kerajaan Musluzik.

Sebelum pangeran Khorsid dan puteri Savvinsi resmi menikah, ini adalah perkataan mereka kepada pasangan masing-masing:


"ksatriaku, pada hari ini aku akan tunduk kepadamu sebagai istrimu.
pedangmu, dan seluruh keluargamu menjadi saksi.

pada hari ini aku bersedia meninggalkan kerajaan hatiku, dan masuk ke dalam kerajaan hatimu sebagai seorang permaisuri yang lugu.

bimbinglah aku agar senantiasa berada di sisimu dalam keadaan susah dan senang.

ksatriaku, pada hari ini aku bukan lagi milikku. 
aku adalah milikmu.

maka jagalah aku bagaikan permatamu yang paling berharga.

aku berjanji di hadapan pedangmu, dan keluargamu, akan selalu menempatkan dirimu diatas segalanya. 

aku akan merawatmu bagaikan seorang anak perempuan merawat boneka kesayangannya.

aku akan menyayangimu bagaikan seekor kuda yang disayang oleh majikannya.
pada hari ini, aku adalah istrimu.

    tuhan menurunkan hidayahnya      
    kepadamu melalui aku.

    hari ini, aku tidak hanya suamimu. aku ayahmu, saudara laki-laki
    ayahmu, saudara kandung laki-lakimu, temanmu, imammu.
 
    disaksikan pedang ini, dan keluargaku, aku meminta izin tuhan untuk  
mengemban tanggung jawab ini.

    aku memilihmu. 
bukan wanita dari kerajaanku, yang kerupawanannya tidak ada 
tandingannya. 
tapi untuk apa sekedar kecantikan?
 
hati dan pikiranku adalah lautan.  
    kerupawanan hanya akan bertahan sebentar melawan ombak dan 
badai ambisi dan emosiku. 
kau laksana kapten kapal yang piawai.

kau pernah tunduk kepada badai.  
   sekarang kapalmu-lah yang menguasai lautan hatiku. 
bukan dengan kecantikan.

istriku, aku akan membimbingmu perlahan. 
seperti seorang guru yang membimbing muridnya dengan sabar.

  betapa besar keputusan yang kau ambil ini. 
hanya tuhan yang tahu bagaimana membalasnya.

hari ini akan kupatahkan pedangku.
   karena kekuatanku bukan lagi dari
   kuatnya tebasan pedangku.
   kekuatanku datang dari cintamu."




    

Sunday, 27 July 2014

Tahun ke 5 Tulisan Malam Takbir

Mungkin karena sadar aku akan membuat tulisan di malam takbir, begitu banyak yang ingin kusampaikan selama bulan Ramadhan tahun ini. Tahun ke-5 aku masih bersedia meluangkan waktu untuk menengok blog yang terbengkalai ini. Tahun ke-5 aku menulis sesuatu setiap malam takbir.

Ramadhan tahun ini sangat banyak kekurangan yang masih terjadi. Tahun ini tapi yang paling berbeda adalah aku menjalaninya tanpa sosok seorang Bapak. Beliau pergi meninggalkan dunia ini beberapa bulan lalu. Kalau boleh jujur, tidak banyak kenangan yang aku miliki. Hubungan Bapak-Anak yang terjadi diantara kami bukanlah seperti kebanyakan orang. Kami sama-sama dingin. Keluargaku bukanlah keluarga extrovert. Kami tidak berbagi cerita tentang hari-hari kami saat berkumpul di malam hari. Tapi sedingin apapun hubungan itu, kehilangan orang tua akan selalu menjadi salah satu yang terberat dalam hidup.

Ramadhan tahun ini aku menghabiskannya di kantor baru. 1 Bulan lagi bertahan, kantor ini akan menjadi kantor terlama yang pernah aku dedikasikan waktu, tenaga, dan pikiranku di dalamnya. Ternyata 1 tahun tidak begitu lama. Namun disini cobaan bulan Ramadhan lebih berat dibanding di kantor lamaku. Disini adalah tempat untuk bekerja, bukan mencari teman akrab. Mereka tidak akan repot-repot memikirkan perasaanmu. Pure Professional. Namun bukan berarti aku tidak mempunyai teman. Aku hanya tidak masalah dengan lingkungan seperti ini. Namun beberapa hari saat Minggu-minggu akhir bulan puasa, seakan-akan ada orang-orang yang diutus untuk melatih kesabaranku - dalam hal emosi dan syahwat. Tahun ini hawa nafsuku seakan kembali labil.

Hal baiknya, kantorku yang sekarang sangat toleran terhadap waktu. Aku lebih sering menghabiskan waktu Dzuhur dan Ashar di Masjid bersama beberapa teman kantor (Kan... aku punya teman) Aku mulai perlahan-lahan Sholat sunnah, dan melakukan amalan-amalan yang sangat kecil. Semoga ini melatih untuk terbiasa kedepannya.

Semoga semakin diberikan kemudahaan dalam beribadah, diberi rizki yang halal dan cukup, dan yang pasti dipertemukan di Ramadhan berikutnya, agar tulisan seperti ini selalu menghiasi blog-ku yang kurang terawat. Selamat Lebaran.

Tuesday, 14 January 2014

Linked Connections

You were here not so long ago.
Knocking on my door on a humid rainy season.
You came at a perfect moment and brought warmth inside your suitcase.
You said you love the rain, so I took you outside.
Made you caught a cold after we rode the bicycle under the heavy rain.
That was the first time I have seen you playing with the rain, with your wet shirts that pressed and formed your body, and raindrops on your detail eyelash.

I got rid of all exhaustion and took you to the airport to leave me.
We sat there for hours.
There was no entertainment, except our conversations and the look on your melancholy eyes.
You didn't like it when I always say "I don't know" because you wanted me to be sure and believe at myself. Say anything but an empty words. Empty and ignorant as "I don't know"

There was no goodbye kiss because we both know that would have been hurt so much instead.
There were no promises cause nobody could guaranteed to made the promise.
I was so hollow.
This was a magic happened.
But Happened too fast.
Now we're back to sending pictures and our favorite kind of musics.
Kissing through letters and sentences.
Laughing together in a 10 inch monitor,
or none of them. Anymore.

We have one sun together.
With one side carrying my smile and the other side carving your voice.
We have one earth together, waiting to be stepped on by our foot - again.
Side by side.
We are not separated.

It's like I am not ready to grow old and face the truth.
Everyone choose a simple life, while I choose a complicated life.
Because that is the only thing to feel alive.


Wednesday, 7 August 2013

Panggilan

Langitku berbisik bergemuruh
Saat semua masih gelap
Hanya yang terpilih yang menjawab
Hanya yang diberi hidayah yang bangkit
Ada yang berjalan melawan dingin malam
Beberapa berlari menghindari yahudi
Ada yang ditemani tasbih,berjalan tenang
Disana ditemani obor,berjalan hati-hati
Tapi mereka ditemani senjata api,atau ketakutan bisa mati
Dia bersuara,dan terus berjalan semakin ke timur
Langitmu tidak akan pernah bisu
Siapa dibaliknya?

Label pertama malam takbir

Kembali lagi ke Jakarta. Kembali lagi ke mayoritas muslim secara general menjadi lebih mudah dalam menjalankan ibadah puasa. Apalagi setelah hampir tiga bulan kembali dari San Francisco, belum mendapat pekerjaan tetap, jadi lebih banyak dirumah dengan minim aktivitas. Tidak perlu pusing-pusing mikir menu berbuka dan sahur, karena semua sudah tersedia. Bisa sholat tarawih dan ngaji lebih banyak dari tahun kemarin.

Tapi ada hal-hal istimewa yang kurang: Eksklusifitas muslim di negeri non muslim. Perasaan besar dan bangga menjadi muslim. Saat orang-orang terpukau dengan "how can you don't eat anything?" "I can't do that" atau rasa penghormatan yang sebenarnya ketika kami berkumpul di restoran untuk makan siang dan "Mahdy, order anything for you to eat it during the night." atau ketika menjalankan aktivitas volunteer ketika "Who's fasting? You? Here have more, take as much as you want."

Ada rasa kemenangan yang sebenarnya ketika Maghrib tiba pukul 8:30 sore dan badan masih bisa berdiri tegak walau hanya dengan beberapa teguk air putih (no tea) di tengah aktivitas yang tidak dibuat untuk orang yang berpuasa, tapi tidak ada masalah.

Ada ketenangan ketika langit malam takbir tidak diramaikan oleh kembang api dan petasan, tapi bintang dan awan malam. Tanpa takbir berkumandang dari luar yang sering dijadikan perwakilan untuk tidak perlu lagi bertakbir. Tapi disana takbir langsung berkumandang dari mulut, dan langit yang kemudian diwakilkan.

Tapi tetap ada amalan-amalan di bulan puasa yang tidak bisa dipenuhi semua.

Kemudian sekarang hanya ada doa, semoga bisa diberi kesempatan lagi untuk bertakbir mewakili langit dibelahan dunia lain. Mewakili minoritas karena itu hebat.

Sunday, 2 June 2013

after capital

c'mon wake up san francisco
wake up city
i wanna keep talking to you
and fall in love
in a dangerous way
the love that i love
the eye that reaches in
every inch of my subconsciousness
can you sing in our way to my favorite place
to your night sky
where every night is full moon
then listen to your talking and laughing at dinner time
i wish there is a kiss after that
in soft and gentle
until you break in particles
or me
as i suddenly be here
you're just a dream

Thursday, 9 May 2013

Untuk Kita

Biarkan dia nanti tumbuh liar
Bersama hutan buatan dengan akar kekar
Menyanyi dari lagu hujan dan halilintar
Berputar bersama warna hipnotis bergaris malam kelam
Tempat tidurnya rasa kuda yang siap berlari mengejar imajinasi mimpi
Dari belahan bumi dan alam khayal bidadari
Bahkan sang ibu sangat merindukan insting keibuan yang tak kuasa lagi ditahan
Saat sang anak tak butuh kehangatan
Karena dia tumbuh liar dari asuhan alam dan kekerasan
Tapi selalu bermimpi dia
Mimpi bidadari yang selalu memberinya makan
Dan tidur di atas tumpukan kehalusan
Di bawah rumah idaman
Biarkan dia tumbuh liar