Saturday, 29 January 2011

Meninggalkan Malam

Terdengar jelas batuk anak itu yang tak henti-hentinya di tengah malam. Sementara di tempat lain,ayam berkokok samar-samar. Sang ibu terus mengoceh. Dan beberapa waktu kemudian,batuk sang anak tak lagi terdengar,dan sang ibu tak lagi mengoceh. Ia menangis histeris.

Wednesday, 12 January 2011

Adakah Adinda

Diam seperti bidadari

Tahan lidahmu,
jangan bicara seperti manusia fana

Duduklah disebelahku,
dan jangan memandang

Bahkan lirikanmu menenggelamkan dunia

Mata yang diciptakan dari indahnya berlian

Beberapa saat lagi sesuatu akan membawamu terbang

Malaikat atau iblis

Dan hatiku menempel di sayapmu

Jangan Anakku

Tetes sisa hujan yang jatuh diatap seng rumah kami
Membuat gelisah tidur anakku
Angin dingin menusuk menembus kaos belelnya
Tidurnya tak pernah nyenyak karena nyamuk
Ratusan nina bobo ku nyanyikan
Kehangatan ibu telah diberikan
Tapi hujan masih terus turun
Beradu dengan atap seng yang karat
Apa yang dapat kulakukan
Aku hanya kuli musiman
kesedihan terus dinyanyikan kehidupan

Saturday, 25 December 2010

Tempat Apa Ini?

Tempat ini potensi prostitusi

Ramai dengan wanita dewasa,
Dan laki-laki penuh tipu daya

Aku berjalan melewati mereka

Di tanah keras penuh puntung rokok dihiasi bekas lipstik

Kadang aku ingin berlari,
Tapi tak jarang ingin juga ditemani

Di tempat potensi prostitusi

Tak ada cinta yang bersemi

Hanya nafsu birahi

Tapi aku melihat cahaya dari sepasang mata

Namanya Maria

Terjebak tak berdaya

. . .

Wednesday, 15 December 2010

Bapakku. . .

Tanah kubur masih belum kering dibajuku

Iring-iringan mengantar kepergian bapakku

Diatas tanah pertiwi

Meninggalkan pangkat dan anak-isteri

Aku tidak menangisi bapakku

Dia gugur sebagai pahlawan

Dalam lindungan seragamnya yang selalu rapih

Tapi ibuku

Dia harus mengasuh kami sendiri

Aku tidak menangis

Karena kata bapak,

"Laki-laki ndak boleh nangis mas"





*untuk sahabat : wahyu indra p

Friday, 26 November 2010

Untuk Adik Disana

dibawah kumandang panggilan tuhan

duduk seorang anak yang cantik

bibirnya merah lugu

memisahkan diri dari rombongan tua

duduk bersandar di tembok luar masjid

menunggu tangan dermawan

bersama rombongan

anak-anak yang bermain disekitarnya menjadi semu

fatamorgana tak terhiraukan

matanya menerawang menembus langit

mencoba mencari tuhannya

mengapa ia tidak bisa sekolah seperti anak-anak lain

tidak bisa bermain lari-larian

hanya mengikuti rombongan peminta belas kasih dermawan

matanya mencari tanpa emosi

mencari hiburan hanya dengan dirinya sendiri

persis seperti diriku saat menatapnya

kemudian aku merasa aku adalah orang yang baik

Monday, 8 November 2010

Sangkar Malam

Aku hampir tak melihat malam kemarin

dia mengurungku dalam sangkar benderang

Setinggi langit

sehingga terlihat punggung burung-burung

Aku hampir bersamamu sepanjang malam

Bersama kita menikmati dan melawan dingin

Bernyanyi bersama malam dalam sangkar kita

Hingga saat fajar aku memutuskan untuk terjun bebas

Kembali merangkak dijalan yang kasar

Kembali menengadah

Sembari melihat perut burung-burung

Siap menerima hujan

Dibawah menerima apa saja