Thursday, 14 October 2010

Sangkar Malam

Aku hampir tak melihat malam kemarin

dia mengurungku dalam sangkar benderang

Setinggi langit

sehingga terlihat punggung burung-burung

Aku hampir bersamamu sepanjang malam

Bersama kita menikmati dan melawan dingin

Bernyanyi bersama malam dalam sangkar kita

Hingga saat fajar aku memutuskan untuk terjun bebas

Kembali merangkak dijalan yang kasar

Kembali menengadah

Sembari melihat perut burung-burung

Siap menerima hujan

Dibawah menerima apa saja

Friday, 1 October 2010

Malam


Malam semakin berbahaya

Bukan jalan yang mengintai

Tapi makhluknya menyetan

Bukan bulannya yang mengikuti

Tapi mata mereka dibalik bayangan penuh nafsu lapar

Ketika lorong jalan menghimpit badan menyesak

Semakin erat saat semakin diujung yang gelap

Dan manusia betina yang menempel di tembok

Menawarkan kepuasan dengan paksaan

Bersama si mucikari bertopi malam

Dan suara anjing melolong di belakang tengkuk yang semakin dingin

Dengarkan suara setan bernyanyi dengan jeritan

Hingga berasap mulut yang penuh dengan kemarahan

Dan mata yang menyala penuh amarah seperti serigala

Tawa makhluk-makhluk malam

Menghantui anak


Wednesday, 29 September 2010

Tugas Mengarang Nanda

Hey aku Nanda, umurku 9 tahun. Saat ini bersekolah kelas 4 Sd

Walaupun sekolahku sering bocor saat hujan, tapi aku tetap senang bisa bersekolah disana

karena disana aku menemukan temanku. Dia hebat sekali

Walaupun masih seumuran denganku, dia termasuk anak yang ajaib.

Dia bisa berubah bentuk apa saja

sebut saja maumu

Anjing

Vampir

Penggaris kayu ibu guru

Tempat sampah depan kelas 6a

Monyet

Buku yang sangat tebal

Kaca mata

Jempol kaki yang bau

Asap tebal

Jalan rusak

Jeruji karat

Yahudi

Apa saja,kecuali Super Hero

Tapi dia tidak bisa menjadi batman,atau superman,atau spiderman

dia tidak bisa menjadi Sailor moon, Power ranger, Saint Saiya,Songoku

dia tidak bisa jadi gatot kaca, Gundala, atau Saras 008

dia bisa menghukum bahkan membunuh orang-orang jahat,bahkan sampai ke kejahatan yang sangat kecil

pencuri singkong, maling ayam, maling jemuran, maling sendal

tapi dia tidak bisa menghukum,apalagi membunuh

Jendral bintang tujuh yang menabrak seorang nenek hingga tulang-tulangnya patah

Polisi yang menembak mahasiswa yang menyuarakan aspirasi

Pembunuh bayaran seorang pejuang HAM

Pejabat yang mengambil uang rakyat

Tapi bagaimanapun juga dia temanku.

Ya daripada ndak bisa menghukum siapapun, ya ndak apa-apa lah (logat jawa)

Lagian kan, dia masih 9 tahun..

apa yang bisa diharapkan

Kita masih anak-anak.

Kata ibuku, anak kecil belum tahu mana yang benar dan salah

Thursday, 16 September 2010

HAMLET

I was reading Hamlet.
A drama written by shakespeare
It tells a story about prince Hamlet
I suddenly felt asleep at first phase, scene five
And hamlet I'm dreaming
The book straight into my head
The beauty of Shakespeare's words
And I spoke like prince hamlet in my dream
I spoke the beauty of words
Until I choked up
And when I wake
I'm wondering how words can affect a man for so deep

Senyum Samudra

Samudra tak henti-hentinya melantunkan takbir di malam itu. Malam takbiran. Dia duduk bersila di kamarnya. Sambil merokok dia mencubit-cubit kulitnya, meyakinkan bahwa dirinya masih hidup. Melihat detil-detil bulu-bulu halus di tangan. Meresapi takbirnya dengan tafakur diri. "Besok aku akan meminta maaf kepada ibuku. Tapi apakah dia akan berubah?" Samudra merasa meminta maaf, dan memaafkan ibunya adalah percuma. Toh besok ibu Samudra pasti akan menyakiti hatinya lagi. Juga hati ayahanda. Tak usah menuggu sampai tiga hari atau bahkan seminggu.

"Besok aku akan meminta maaf kepada Bunga.Tapi apakah dia mau memaafkanku?" Samudra merasa menghianati cinta suci Bunga. Dia kepergok sedang bercinta dengan Siti saat Bunga membawakan kue ulang tahun untuknya di ulang tahunnya yang ke 24. Bunga tidak melemparkan kue itu ke muka Samudra. Tidak juga membantingnya. Dia menaruhnya di depan pintu kamar, didepan Samudra dan Siti yang sedang telanjang dan kaget bukan kepalang, sehingga tidak bisa bergerak. Bunga tersenyum dan mengucapkan "Selamat ulang tahun sayang." Bunga tak pernah menangis setelah itu. Tidak juga terlihat marah. Apalagi bersama pria lain.
"Sepertinya semua tidak akan berubah hanya karena aku meminta maaf, atau memaafkan."

Jam sudah menunjukkan pukul dua. Tapi matanya belum juga kalah dengan kelelahan yang
dialami Samudra. Gema takbir masih terdengar bersahutan-pelan di langit. Sebatang lagi rokok dihisapnya. Samudra memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sebentar. Sepoi angin malam mengibaskan bulu-bulu halus di tangannya. Jutaan sensor membuatnya dapat merasakan dinginnya udara. Dan pupil yang membesar melihat lontaran-lontaran kembang api di langit - merayakan idul fitri sebentar lagi. Hati Samudra ingin berada jauh diluar negri. Melihat keberagaman manusia ciptaan illahi. Menguji keimanan, dan kemandirian sebagai minoritas.
"Mudah-mudahan sebentar lagi." Samudra tak pernah berhenti berharap. Bahkan akhir-akhir ini, lebih besar cita-citanya. Setelah merasa pikirannya lebih segar, Samudra kembali kerumahnya.

Pagi ini, mentari terlihat lebih cerah. Mungkin karena orang-orang dibawahnya, yang mengenakan baju koko putih, peci putih, dan kain yang semunya terlihat baru. Warna putih kan memantulkan cahaya. Itulah mengapa semua terlihat lebih terang, sepanjang jalan Samudra menuju masjid untuk sholat Ied. Tapi pagi ini memang terang benderang. Mungkin karena lantunan salam dan selamat dari semua orang, membuat hati mereka ceria, dan terpancar ke wajah mereka - menjadi terang. Begitu juga wajah ibu Samudra, saat melihat anaknya datang dari jauh, untuk meminta maaf. Anak memang harus meminta maaf kan. Itulah yang membuat Samudra, segera mencium tangan ibunya. Namun sekarang, memeluk ibunya terasa lebih kaku, dibanding saat Samudra kecil. Saat semuanya masih baik-baik saja. Saat dirinya tak harus memikirkan masa depan keluarga, dan dirinya.
"Bu, Minal Aidin Wal Faidzin ya.. Samudra minta maaf."
"Iya sama-sama. Ibu mu juga minta maaf."
"Ba, Minal Aidin Wal Faidzin ya.. Samudra minta maaf."
"Iya, sama-sama. Aba juga minta maaf."
Samudra merasa seperti menjalankan protokol. Kaku. Tapi itulah yang seharusnya dilakukan. Tapi dalam hati, Samudra merasa lebih lega, telah meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Diluar masalah apakah Samudra ikhlas melakukannya, begitu juga orang tuanya, kata maaf memang ajaib. Terlebih memaafkan. Itulah yang coba dilakukan Samudra, saat melihat keriput di pipi ibunya yang semakn jelas.
"Manusia tak akan luput dari segala salah. Memang sia-sia jika setelah meminta maaf,
dan memaafkan, kesalahan terulang lagi. Tapi itulah hidup. Aku memang tidak cukup bijak
untuk mengerti seutuhnya, tapi aku melakukannya."

Samudra menelpon Bunga dalam perjalanan pulang dari rumah orang tuanya, tapi tidak ada yang menjawab. Dia memang mengetahui kesalahannya sangat sulit untuk dimaafkan. Tapi Samudra tidak menyalahkan Bunga. Dia hanya merindukan wanita yang dikaguminya. Dan yang mengaguminya. Dan dia ingin kekasihnya tahu, dia sangat ingin meminta maaf.
Langkahnya terhenti tiba-tiba. Bunga berada di teras rumahnya. Berpakaian putih-putih seperti orang-orang yang memantulkan cahaya tadi pagi. Tapi Bunga tak perlu memakai putih-putih untuk bercahaya. Karena senyumnya dapat mengalahkan cerahnya mentari.
Samudra seketika berlari, dan memeluk Bunga. Dia menangis di punggung wanita yang tercipta untuknya. Bunga tidak juga menangis. Dia tersenyum

Tuesday, 7 September 2010

Dari 'kemelataan' menujulah ke kebahagiaan

Entah dari kapan ular itu mulai hidup di tempat ku tidur. Pada suatu malam kurasakan gerakan di belakang, saat aku tidur miring. Setelah ku tengok, tak ada apa-apa. Terulang lah beberapa kali, sebelum aku benar-benar pulas karena kelelahan. Dan bayanganku pun meredup dibawah purnama kulihat. Lama kelamaan aku terbiasa dengan perjalanannya di belakangku, saat ku tidur miring.

Dari rasa melata yang terasa di belakang, kini terdengar desis, dan terasa lidah yang menjulur-julur di kulit. Aku sudah terbiasa, jadi ular itu merasa bebas. Lalu aku membuka bajuku. Dia melata di lengan atas, turun ke dada, lalu ke perutku. Saat ku tidur miring. Aku menikmatinya, setelah lama haus rabaan dari sang suami yang telah mati. Lalu kutanggalkan celana tidur pendek sutraku. Dia menjalar turun ke sana. Napasku mulai berat. Desahan kecil mulai kuhembuskan sekali. Dua kali. Lalu berkali-kali. Aku sudah basah dan berkeringat. Aku sudah terlentang di tempatku tidur. Lalu ular itu pergi dan membuatku terlelap.

Kejadian itu berlangsung spektakuler. Dan malam-malam berikutnya, kami melakukannya lagi. Kali ini semakin liar setiap malam. Lalu aku mulai menyiapkan lilin, manaruh bunga mawar, atau melati, memutar lagu romantis. Kadang-kadang aku bertanya pada diriku, apa yang sedang kulakukan, apa yang telah kulakukan, mengapa aku melakukan ini, dan siapa saja yang pernah melakukan ini. Tak banyak tentunya. Aku manusia biasa.

Saat tanganku akan menyentuhnya, dia menggigit. Saat mata mencoba mengintipnya, dia hilang. Selama ini aku hanya memejamkan mata, dan memegang payudara. Sekarang aku tidak bisa menikmatinya lagi. Aku sekarat. Mungkin mati, karena ular itu menggigit dan mengalirkan racun terkutuknya kedalam nadi. Aku telah menyentuhnya. Aku telah mengetahui bentuknya. Dia ternyata seekor ular.

Seberapa nikmat yang telah aku alami, itu ternyata hanya tipuan ular. Ular itu tidak mengizinkanku melihat yang sebenarnya, meraba yang sebenarnya, karena dia takut ketahuan jati dirinya yang sebenarnya. Ular. Tapi tiba-tiba, di tengah sekaratku, ada sesosok manusia sepertiku. Dia membuatku dapat bernapas lagi. Aku hidup lagi. Dan nikmat yang kurasakan darinya, berlipat-lipat dibanding yang kudapat dari seekor ular. Aku bisa melihat dan merabanya. Dan menciumnya. Dia laki-laki

Sunday, 5 September 2010

Malam Laylatul Qadar Pada Modar

Duka bulan ramadhan bagaikan bulan ramadhan itu sendiri. Selalu terjadi. Saat hari semakin mendekati akhir bulan Ramadhan, salah satu duka tersebut datang. Saat si kaya mengumumkan akan membagikan zakat fitrah kepada si miskin. Mereka lantas datang berbondong-bondong, mengharap mendapat zakat tersebut. Petugas sudah ditempatkan di pintu masuk, agar jalannya pembagian zakat bisa teratur dan semua orang bisa kebagian. Namun mereka tetaplah orang miskin. Mayoritas dari mereka bahkan tidak menempuh pendidikan layak - untuk dapat mengerti istilah antri. Ah, siapalah yang bisa disalahkan atas perilaku ini. Budaya yang dulu sempat merekat, sekarang terinjak-injak oleh kerumunan yang sekedar mencari makan. Apakah harus menempuh pendidikan formal dulu, baru bisa antri?
"Ah, antri hanya membuat saya tidak kebagian beras," mungkin salah satu dari mereka berkata begitu. Tidak bisa disalahkan juga, jatah zakat mungkin tidak sebanyak kedatangan para penerima, yang tanpa diduga-duga berjumlah lebih banyak, dari yang dijatahkan. Entah darimana mereka mengetahui, tapi tidak sedikit yang datang dari luar daerah tersebut.
Lalu siapa yang bertanggung jawab atas banyaknya orang miskin? Pasti kita semua setuju untuk menyalahkan pemerintah, bukan? Yang kita tahu, mayoritas pemerintah adalah kelompok koruptor Indonesia. Uang rakyat mereka makan sendiri. Mungkin ada dari hasil korupsi mereka, untuk mengurangi kemiskinan, sehingga pembagian zakat, bisa lebih teratur, karena mungkin
jumlah orang miskinnya tidak akan terlalu banyak. Apakah korupsi saja penyebabnya? Apakah, tidak bisa lebih rumit lagi? Sistem nilai yang selama ini kita anut mungkin? Bagaimana dengan perkataan ini : "Nak, belajar yang bener, biar bisa nyari duit yang banyak."
Lalu kemana moral, nurani, dan iman, bu? Dan di malam laylatul qadar ini, ibu itu mati terinjak-injak. Anak itu menangis terlepas dari gendongan ayahnya. Dan kakek itu selamat, namun 2 hari kemudian dia mati. Orang kaya itu, merasa sangat berdosa. Dan pemimpin itu, tertawa terbahak-bahak, setelah salam tempel yang cukup lama. Tidak cukup baik ya...
Mungkin laylatul qadar tidak diturunkan Allah ke indonesia. Mungkin lho