Saturday, 25 December 2010

Tempat Apa Ini?

Tempat ini potensi prostitusi

Ramai dengan wanita dewasa,
Dan laki-laki penuh tipu daya

Aku berjalan melewati mereka

Di tanah keras penuh puntung rokok dihiasi bekas lipstik

Kadang aku ingin berlari,
Tapi tak jarang ingin juga ditemani

Di tempat potensi prostitusi

Tak ada cinta yang bersemi

Hanya nafsu birahi

Tapi aku melihat cahaya dari sepasang mata

Namanya Maria

Terjebak tak berdaya

. . .

Wednesday, 15 December 2010

Bapakku. . .

Tanah kubur masih belum kering dibajuku

Iring-iringan mengantar kepergian bapakku

Diatas tanah pertiwi

Meninggalkan pangkat dan anak-isteri

Aku tidak menangisi bapakku

Dia gugur sebagai pahlawan

Dalam lindungan seragamnya yang selalu rapih

Tapi ibuku

Dia harus mengasuh kami sendiri

Aku tidak menangis

Karena kata bapak,

"Laki-laki ndak boleh nangis mas"





*untuk sahabat : wahyu indra p

Friday, 26 November 2010

Untuk Adik Disana

dibawah kumandang panggilan tuhan

duduk seorang anak yang cantik

bibirnya merah lugu

memisahkan diri dari rombongan tua

duduk bersandar di tembok luar masjid

menunggu tangan dermawan

bersama rombongan

anak-anak yang bermain disekitarnya menjadi semu

fatamorgana tak terhiraukan

matanya menerawang menembus langit

mencoba mencari tuhannya

mengapa ia tidak bisa sekolah seperti anak-anak lain

tidak bisa bermain lari-larian

hanya mengikuti rombongan peminta belas kasih dermawan

matanya mencari tanpa emosi

mencari hiburan hanya dengan dirinya sendiri

persis seperti diriku saat menatapnya

kemudian aku merasa aku adalah orang yang baik

Monday, 8 November 2010

Sangkar Malam

Aku hampir tak melihat malam kemarin

dia mengurungku dalam sangkar benderang

Setinggi langit

sehingga terlihat punggung burung-burung

Aku hampir bersamamu sepanjang malam

Bersama kita menikmati dan melawan dingin

Bernyanyi bersama malam dalam sangkar kita

Hingga saat fajar aku memutuskan untuk terjun bebas

Kembali merangkak dijalan yang kasar

Kembali menengadah

Sembari melihat perut burung-burung

Siap menerima hujan

Dibawah menerima apa saja

Monday, 1 November 2010

Dibalik Bukit Pemikiran Sempit

Kenapa manusia marah kepadaku?
Kenapa mereka marah
Tak malukah mereka dengan suara biola yang setenang danau
Pernahkah mereka mendengar?
Tak luluhkah mereka dengan nyanyian symphoni
Yang bernyanyi hingga menangis
Yang bergetar kedalam tulang denting pianonya
Atau musik metal yang membakar semua emosi menjadi abu ketenangan
Kemudian terbang ditiup angin



Karena mereka menghakimi dengan marah
Mereka pikir mereka benar dan aku salah
iya kan?
Sungguh egois
Mengapa penilaiannya berbeda-beda?
Karena hidup kita beda
Mata kita melihat sesuatu yang berbeda
Dengan berbeda

Saat aku mulai dimarahi
Dipanggil dengan teriakkan
Dihinakan serendah-rendahnya
Apakah itu menjadikan aku rendah seperti sesuatu yang rendah?
Tidak menurut mataku
Lalu kenapa harus ada?
Biarlah mereka saja
Biarlah puas batinnya
Mereka ternyata mencari kepuasan semata
Dengan memarahiku
Pencari kepuasan yang kotor
Mereka berdalih agar aku berubah seperti mereka
Padahal tak ingin aku berubah seperti mereka
Lalu mereka marah
Misionaris yang kotor
Lalu mereka terus memusuhiku
Siapa yang peduli
Diri sendiri saja tidak
Aku akan bernyanyi

Kenapa ada marah?

Thursday, 14 October 2010

Sangkar Malam

Aku hampir tak melihat malam kemarin

dia mengurungku dalam sangkar benderang

Setinggi langit

sehingga terlihat punggung burung-burung

Aku hampir bersamamu sepanjang malam

Bersama kita menikmati dan melawan dingin

Bernyanyi bersama malam dalam sangkar kita

Hingga saat fajar aku memutuskan untuk terjun bebas

Kembali merangkak dijalan yang kasar

Kembali menengadah

Sembari melihat perut burung-burung

Siap menerima hujan

Dibawah menerima apa saja

Friday, 1 October 2010

Malam


Malam semakin berbahaya

Bukan jalan yang mengintai

Tapi makhluknya menyetan

Bukan bulannya yang mengikuti

Tapi mata mereka dibalik bayangan penuh nafsu lapar

Ketika lorong jalan menghimpit badan menyesak

Semakin erat saat semakin diujung yang gelap

Dan manusia betina yang menempel di tembok

Menawarkan kepuasan dengan paksaan

Bersama si mucikari bertopi malam

Dan suara anjing melolong di belakang tengkuk yang semakin dingin

Dengarkan suara setan bernyanyi dengan jeritan

Hingga berasap mulut yang penuh dengan kemarahan

Dan mata yang menyala penuh amarah seperti serigala

Tawa makhluk-makhluk malam

Menghantui anak