Sunday, 7 October 2012

Beautiful Sacred Wedding

What should I reach when I don't know whom I should fight
The night has taken my soul
I am a knight without a king to serve
My sword has been killing for nothing
I'm so weird that I couldn't understand myself
What I did with the water? and then I felt sleepy
God please help me
There are too many person in this body
I just want to be with me
Frozen my heart with your name inside
So no evil can melt it down to water
And then I would do that again
With the water, and I felt sleepy
Or think about something that even never think of me
or doesn't exist
Why I don't run away
Standing still here confronted by heart instead
Doing things that I find out not that amusing after
The sound of Eden
Is my new spirit
But a killer as well
In this gloomy month of Fall
I will sleep outside again
With an empty stomach



Friday, 28 September 2012

Friday, 7 September 2012

El Gran Taco Loco

This was our first culinary tour. And the lucky number one was Mexican food. Just take bus #49 to City College and you can get off at Mission St & 29th St. It's around the corner from another restaurant, but we still could see El Gran Taco Loco because of the colorful painting outside. Actually it was the plus point considered that we decided to try that because of the eye catching painting.

Once we got inside, the Mexican atmosphere was so strong. There was a big painting of the Mexican flag, and the employees were all Latinos. It would be more fun if we could speak a little bit Spanish though :((

I'd never eaten Mexican food before but Burrito sounded so familiar. So I tried a Burrito, but not just a Burrito. it was a 'Super Burrito.' Busra and Rani ordered a 'Super Taco.' Then we can chose our own sauces. There were so many varieties of sauces that I disd't know all of the names. But I picked three of the spiciest looking ones. For the beverage, there were no Mexican drinks, so we ordered a soda.









The Super Burrito was twice my hand size!! 
The Super Taco mean double!!

One thing that I disappointed was only the sauce. It turned to be not as spicy as it looked. I'm a spicy lover


Editor: Marcia Chan

Sunday, 26 August 2012

Mission Food

Mission Campus adalah salah satu kampus tempat kami (Media Guys) menuntut ilmu di dinginnya San Francisco. Beberapa kelas yang berhubungan dengan media ada disana, termasuk lab radio dan lab editing dengan peralatan canggih. Bernuansa Latin, gedung ini dan lingkungan sekitarnya langsung mendapatkan hati kami (Aku, Busra, dan Melati). Selain Busra yang sangat menyukai semua yang berbau latin dan Spanyol, lingkungan ini juga memiliki satu hal yang membuat aku menulis tentangnya - Latin food.

Satu hal yang baru kusadari, ternyata Mission Street cukup terkenal sebagai daerah kuliner. Bahkan sampai dibukukan oleh Anthony Myinth - seorang pengusaha restoran, chef, dan food consultant di Mission - dan Karen Leibowitz - penulis indie dan editor professional lulusan Ph.D di University of California, Berkeley (UC Berkeley)



Anthony Myinth & Karen Leibowitz (gambar diambil saat book signing)
 
















Saat pertama kali survey untuk kelas pertama kami, aku dan Melati menemukan lingkungan sekitar dipenuhi restoran-restoran mulai dari Latin yang sangat banyak, sampai restoran berbau Italia dan tentu saja Asia yang ada dimana-mana. Semua berbaris rapih mulai dari sepanjang jalan South Van Ness sampai Mission Street. Dari tempat yang sangat nyaman dan makanan yang mahal, sampai yang bernuansa "warteg"

Disini adalah surga bagi petualang kuliner. Yap and we're good to go. Kami berencana untuk mencoba semua restoran unik disini, dan aku berencana untuk menulis pengalamanku nanti. Siap-siap kere nih tapi T.T mesti hemat-hemat.

Tuesday, 21 August 2012

Delivered by Symphony

I found another beauty beside nocturne op.9 no.2 from Chopin
It's Beethoven Piano Concerto No.5 Op.73
And suddenly I can feel your soft skin
Your neck and teeth
The light of your smile flying away from the quiet river in paradise
I feel like we had a lot of moment together
Where everyday tells a stories about nothing but joyful
When I look deep inside this dance of fingers on every key
Time is slowing down
And I breathe constantly
To hear my heartbeat
Bouncing off the meaning of love and life
Like you and me
They cannot be separated from each other
You're such a creation
Place where I can be different
And I don't mind
It's in your lips
I want to stay forever
Build a warm dwelling
Growing old
Sleep for eternally
Emotionally in love
Different feelings that I would like to dive in
I cannot see your face anymore
But if I could
The world is still not worth
But I will
Through this symphony
I even feel your smell


Sunday, 19 August 2012

Silent Takbir

Rasanya aneh ketika malam takbiran hanya bisa dinikmati melalui jaringan internet. Di televisi disini pun tidak ada satu pun acara yang mengbarkan suasana takbiran di seluruh daerah. Tidak ada suara takbir memenuhi langit malam. Disini hanya ada kabut dan angin yang dingin. Tidak ada yang mudik. Hanya ada lalu lintas rutin menuju tempat wisata, atau kantor. Tidak ada uang THR untuk membeli baju lebaran dari Ayah. Hanya sweater lama yang menghangatkan badan. Tidak ada ketupat, opor ayam, semur daging, dan sayur paya makanan khas lebaran buatan mama. Hanya makanan kaleng dan makanan cepat saji lainnya karena jauh dari keluarga. Tak ada tangan-tangan yang kukenal untuk disalami. Disini semuanya terasa asing.

Tapi setiap tahun, kita harus lebih baik. Aku tidak khawatir karena Insya Allah aku melalui hari-hari yang lebih berat setiap tahunnya. Terus memaksa pikiran, tubuh, dan jiwa menjadi lebih baik. Karena ini adalah ciptaan yang paling sempurna dari yang maha kuasa. Mungkin sudah sejak dulu aku ingin mencoba jauh dari keluarga, bukan karena benci, tapi karena ingin mandiri. Aku pernah punya cita-cita untuk merasakan berlebaran sendiri tanpa keluarga. Aku ingin sekali menjadi reporter televisi dan melaporkan suasana lebaran di daerah yang jauh. Namun Tuhan memberikan dengan cara lain untukku dalam menikmati lebaran jauh dari keluarga. Aku ada disini mengejar ilmu dan cita-cita, jauh dari rumah dan kawan. Jauh dari cinta.

Alhamdulillah sudah 3 tahun ini aku menulis di saat malam takbir bergema. Suasana yang begitu spiritual membuatku ingin mengabadikannya dengan tulisan. Di tahun pertama Samudera bertarung dengan hatinya apakah harus memaafkan keluarganya, namun cinta sesungguhnya dari sang kekasih membuatnya luluh dengan kesedihan yang bahagia. Membuatnya tersenyum. Senyum Samudera. Lalu di tahun kedua aku mencoba berintrospeksi. Pengalaman pertama berpuasa berbarengan dengan pekerjaan. Semua bisa terlewati di minggu pertama, namun minggu kedua dan seterusnya, aku sangat jarang sholat tarawih dan mengaji, dan aku merasakan tahun itu lebih buruk dari tahun sebelumya. Apakah Ramadhanku sudah baik?

Dan tahun ini, walaupun aku tidak pernah sholat tarawih, entah kenapa aku merasa lebih baik dari tahun sebelumnya. Saat menjadi minoritas, cobaan terasa sangat sangat berat, tapi Alhamdulillah sebulan ini aku tidak pernah bolong dalam berpuasa. Aku harus melaksanakan puasa saat aku berada disini kurang dari satu bulan. Saat masih harus melakukan banyak penyesuaian.Namun inilah salah satu cita-citaku. Menjadi minoritas untuk lebih bersyukur. Waktu berpuasa yang jauh lebih lama pun bisa kulewati dengan sangat mengaggumkan. Air mata jatuh bersamaan dengan rasa syukur di setiap kesempatan. Lalu aku merasa, Aku hebat. Aku pantas memberikan penghargaan untuk diriku. 

Wednesday, 15 August 2012

Mimpi Besar Seorang Anak Kecil

"Apa cita-cita lo?"
"Apa yang pengen lo raih 5 tahun kedepan?"
"Apa target dalam hidup lo?"
Dan aku hanya bisa terdiam, menjawab sekedarnya.Basa-basi ingin sukses dan bla bla bla
"Kalo si Angga dia pengen berlayar. Kerja di kapal. Jadi koki disana dia."
"Hidup lo baru sukses kalo lo udah mencapai target lo. Cita-cita lo."

Sebenarnya aku ingin menjawab sesuatu yang beda. Karena di kepala ada sedikit mimpi - bisa keluar negri atau ke sekolah di luar negri. Amerika. Tapi saat itu aku takut untuk mengatakannya karena aku takut itu hanya omongan seorang anak yang lahir dari keluarga yang sangat tidak memungkinkan untuk bisa melaksanankan mimpinya. Itu terlalu besar. Dan aku terlalu takut untuk membual.

Menerima gaji pertamaku saat itu sebesar 1.5 juta rupiah setelah bekerja 1 bulan yang sangat melelahkan dalam sejarah kerjaku. Aku bekerja di salah satu event anak-anak pada tahun 2009. Sempat berpikir untuk keluar di tengah-tengah event karena tekanan kerja dan juga dari orang-orang disana. Namun cita-cita membelikan mamaku handphone waktu itu membuat aku terus menyeret badanku untuk terus menyelesaikan 1 bulan ini. Bekerja hampir setiap hari. Sempat meneteskan air mata di bus 43 jurusan Cililitan-Tanjung Priok di pagi itu. Namun janji kepada diriku untuk memberikan sesuatu kepada ibunda membesarkan hati kecilku.

Setelah amplop di tangan, aku bahkan tidak pusing lagi mengenai cita-cita. Ah ini yang sangat realisitis bagiku, dibanding memikirkan bagaimana cara keluar negri yang sangat tidak mungkin terjadi. Itu adalah 1.5 juta terbesar dalam hidupku. Aku merasa bisa membeli semuanya dengan uang itu. Ah andai hati bisa sebersih dulu,  kerja keras dan ikhlas membuat kita bersyukur dengan apapun yang kita dapat. Hari itu juga aku langsung ke toko untuk membelikan mamaku handphone, dan aku membeli pizza ukuran besar dengan uangku sendiri. Mungkin itu pizza pertama dan terenak yang pernah aku beli dengan uang sendiri. Aku hanya mengambil 700ribu dari gaji pertamaku. Sisa uang aku berikan ke mamaku. Saat dia masih mengenakan mukena setelah sholat. "Nih ma, adi beliin handphone sama ini buat mama." Dengan 1.5 juta aku membeli dunia dengan kebahagiaan seorang ibu dengan mukena putihnya. Karena tidak tega, mamaku menyimpan uang 500 ribu yang aku berikan. "Udah ga usah pake ngasi duit lagi segala. Handphone aje cukup emaknye. Yaudeh makasi ye ini mama simpen aje duitnye buat keperluan nanti. Insya Allah adi ditambahin rejekinye ama Allah."
"Iya gapapa mah, udah itu buat mama, adi uda janji mau ngasi handphone ama duit."

3 Tahun berlalu sejak pertanyaan dan moment itu masih aku ingat. Di belakang panggung yang sempit, seorang pemimpin mencoba untuk membesarkan hatiku, bahwa sebenarnya aku bisa melakukan apa saja dengan mimpi.

Ketika hari ini aku lihat Angga, dia sudah menikah dengan wanita Peru dan bahkan baru memiliki seorang anak. Dulu ketika melihat foto-fotonya di fb, aku sangat iri karena dia bisa jalan-jalan keliling dunia. Wah asik bener deh ngeliatnya. Ingin rasanya seperti dia, bisa keluar negeri. Dan persis hari ini aku kembali ke 3 tahun lalu. Aku melihat seorang anak yang tertunduk karena malu untuk menceritakan mimpinya. Andai waktu itu aku memberitahukan cita-citaku, aku sekarang sudah menjadi orang yang sukses karena bisa mencapainya dalam waktu 3 tahun. Kalau aku ada disana, aku akan mengatakan kepada pemimpinku, "mba, cita-cita saya, saya ingin melihat dunia!" Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya bermacam-macam, kenapa kita hanya berdiam di satu tempat? Nikmati ciptaan tuhan di belahan bumi lainnya, dan kamu akan menemukan dirimu adalah orang yang bersyukur."

Kenapa takut untuk bermimpi? Sebuah karya besar dimulai dari setitik tinta. Bermimpi bukan membual. Toh kita tidak merugikan orang lain.


















Angga dan Aku